Akulturasi Budaya pada Arsitektur Bangunan di Bali

Akulturasi Budaya pada Arsitektur Bangunan di Bali – Bali terkenal dengan arsitekturnya yang indah dan unik, yang merupakan hasil dari akulturasi budaya selama berabad-abad. Pengaruh budaya dapat dilihat pada berbagai elemen bangunan di Bali. Di Bali, terjadi akulturasi budaya antara Tiongkok dan Bali. Masyarakat Tionghoa yang menetap di Bali sejak masa lampau memberikan corak kebudayaan sendiri yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya setempat. Perubahan kebudayaan merupakan suatu proses pergantian atau penyesuaian dalam unsur budaya karena bentuk adaptasi terhadap permasalahan yang dihadapi, baik masalah sosial, lingkungan, dan sebagainya. 

Dilansir dari kajian oleh Sulistyawati, arsitektur gaya Tiongkok memiliki ciri khas yaitu memadukan detail dekorasi yang selaras dengan struktur bangunan. Dalam arsitektur Tiongkok terdapat pembagian kelas atau kasta yang ditandai dengan warna di bagian-bagian bangunannya. Kasta tertinggi yaitu kaisar ditandai oleh warna kuning. Kemudian bangunan kuil menggunakan atap berwarna hijau kekuning-kuningan, sedangkan atau bangunan penduduk menggunakan warna putih keabu-abuan. 

Beberapa kajian menyebutkan bahwa bentuk bangunan sebagai hasil akulturasi budaya Tiongkok dan Bali biasanya berbentuk Kelenteng. Maka tak heran jika kelenteng menjadi cukup populer di Bali karena keunikannya yang memadukan budaya Tiongkok dan Bali. Keunikan kelenteng memberikan ciri khas tersendiri dan dapat dijadikan sebagai destinasi pariwisata. Berikut beberapa kelenteng di Bali sebagai hasil akulturasi Tiongkok dan Bali. 

  1. Kelenteng Caow Eng Bio

Klenteng Caow Eng Bio dikenal sebagai salah satu klenteng tertua yang ada di Bali. Usia pastinya tidak diketahui secara pasti, namun cerita masyarakat setempat menyebutkan klenteng ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Badung, yaitu sekitar tahun 1548. Klenteng ini terletak di ujung utara Tanjung Benoa, wilayah Banjar Adat Darmayasa. Kelenteng Caow Eng Bio memiliki gaya arsitektur khas Tiongkok dengan ciri khas dinding hiasan berwarna merah cerah, patung naga di atap, dan lukisan dewa perang yang gagah di pintu masuk. 

2.Kelenteng Dharmayana 

Kelenteng Dharmayana, juga dikenal sebagai Vihara Dharmayana, adalah salah satu klenteng tertua di Bali yang terletak di Jalan Blambangan No. 12, Kuta, Badung. Klenteng ini merupakan tempat ibadah umat Tridharma (Buddha, Konghucu, dan Taoisme) dan menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Badung. Kelenteng Dharmayana didirikan oleh para perantau Tionghoa yang datang ke Bali.

3.Kelenteng Ling Gwan Kiong 

Klenteng Ling Gwan Kiong adalah salah satu klenteng tertua dan terbesar di Bali. Klenteng ini terletak di Singaraja, Buleleng. Klenteng ini dibangun pada tahun 1873 oleh para perantau Tionghoa yang datang ke Bali. Klenteng Ling Gwan Kiong memiliki arsitektur yang indah khas Tiongkok dengan dominasi warna merah, kuning keemasan dan putih. 

Pariwisata kelenteng di Bali semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Keindahan arsitektur, nilai budaya, dan sejarah yang terkandung di dalam kelenteng menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 081232999470.

Baca juga : Pelatihan Penyusunan KLHS

Sumber:

Sulistyawati. Akulturasi Budaya Bali dan Tionghoa Dalam Arsitektur Griya Kongco Dwipayana, Kuta. Diakses dari https://profsuli.files.wordpress.com/2011/07/kongco-tanah-kilap.pdf 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *