Analisis Sosial Budaya dan Sejarah Goa Seluman

Analisis Sosial Budaya dan Sejarah Goa Seluman – Pesanggrahan Wonocatur atau Situs Goa Seluman merupakan satu dari rangkaian pesanggrahan dari rangkaian pesanggrahan yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono II di kawasan timur Kraton Yogyakarta. Pesanggrahan ini selaian berfungsi sebagai patirtan, rekreasi, juga digunakan sebagai tempat pembuatan senjata. Pesanggrahan Wonocatur (Banguntapan) merupakan rangkaian dari pesanggrahan Purworejo (Gedongkuning), Pengawat Rejo (Kompleks AURI), dan Warung Boto (Rejowinangun). 

Secara topografis lokasi Situs Goa Seluman terletak lembah yang menuju aliran sungai serta sumber air sehingga terletak lebih indah dari daerah di sekitarnya/berupa lembah. Hal inilah yang menyebabkan situs ini berada dibawah jalan raya yang menghubungkan antara Berbah dan Wotgalih. Situs ini mempunyai dua sumber air utama, yaitu di dalam bilik pesanggrahan dan air yang dialirkan dari luar kompleks pesanggrahan. Aliran air dari luar terlihat dari adanya bekas saluran air berupa naga dibagian tembok timur, yang ekornya merupakan saluran dari sumber air yang mengalirkannya melalui badan dan menyemburkannya lewat mulutnya kedalam area situs. Struktur itu masih dapat disaksikan hingga saat ini meskipun tidak berfungsi lagi.

Pada bagian depan berupa pintu masuk berbentuk paduraksa dan mempunyai hiasan manukberi pada ambang atasnya. Pada bagian belakang berupa bangunan pemandian yang mempunyai sebuah pintu di sisi selatan. Di sisi timur terdapat sebuah kolam pemandian yang dipisahkan dengan pintu dan disekat menggunakan kelir berhias motif bunga dan sulur-suluran.

Kolam mini mempunyai sumber mata air sendiri. Pada sisi barat dan timur terdapat bangunan berbentuk lengkung yang berfungsi sebagai pelindung pintu. Pada sudut tenggara terdapat selasar serta sebuah trap tangga. Pada sisi selatan terdapat kolam besar yang saat ini dimanfaatkan untuk kolam ikan oleh penduduk sekitar.

Kolam sudut barat daya mempunyai hiasan berupa manukberi yang mencengkeram ular, sedangkan kolam sudut tenggara terdapat hiasan berupa seekor naga. Sisi selatan kolam besar dibatasi dengan pagar keliling, namun saat ini sudah tidak dapat ditemukan lagi bentuk utuhnya dan hanya tinggal sisa-sisanya.

Pesanggrahan Wonocatur ini berada pada kondisi tidak utuh seperti kondisi aslinya. Beberapa bagian menyisakan dinding, sebagian lain tinggal bagian bawah atau pondasi. Kerusakan pada sisa bangunan tersebut diperparah dengan adanya gempa tektonik yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006. Namun demikian, beberapa bagian yang mengalami kerusakan tersebut telah diperbaiki. Riwayat kegiatan pemugaran oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta:

  1. Pada tahun 2015 dilakukan Seminar Kajian Gua Seluman
  2. Pada tahun 2017 dilakukan konsolidasi bagian urung-urung. 
  3. Pada tahun 2018 dilakukan survey kerusakan, survey keterawatan dan konsolidasi bangunan utama dan benteng keliling sisi utara
  4. Pada tahun 2019 konsolidasi benteng keliling. 

Kondisi fisik bangunan pesanggrahan ini sangat terancam oleh kondisi sosial masyarakat yang ada di sekitarnya. Di bagian benteng barat dan timur, terdapat rumah warga yang menempel secara langsung. Meningkatnya aktivitas jalan yang ada diatasnya yang banyak dilewati oleh kendaraan berat telah mengakibatkan getaran yang cukup signifikan pada bangunan. Kondisi ini lambat laun akan mengakibatkan kerusakan terhadap bangunan itu sendiri. 

Padatnya pemukiman yang berada disekitar pesanggrahan telah mengubah kondisi yang ada di dalam pesanggrahan. Saluran air yang dulu digunakan untuk menyuplai air dari umbul yang ada di sisi bagian utara jalan pada saat ini telah mengalami perubahan. Saluran tersebut telah menjadi saluran drainase yang oleh penduduk sekitarnya digunakan sebagai saluran pembuangan limbah rumah tangga dan pasar Bantengan yang tidak jauh dari lokasinya dari pesanggrahan. Selain itu juga berfungsi sebagai saluran air hujan. 

Akibatnya jika musim hujan, pesanggrahan dilanda banjir karena semua air di wilayah itu secara alami mengalir ke lokasi pesanggrahan kontur tanahnya lebih rendah. Sementara pada musim kemarau, air limbah rumah tangga mengalir ke dalam pesanggrahan sehingga mengakibatkan bau dan polusi yang parah. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan Pesanggrahan Goa Seluman dalam keadaan terancam oleh aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan sebuah konsep pengembangan Pesanggrahan Goa Seluman sebagai destinasi wisata yang pelestarian dan pemanfaatannya harus dilakukan komunitas yang ada di sekitarnya. 

Baca juga : Menggairahkan Ekonomi Melalui Seni Budaya dan Inovasi

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *