Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan

Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan adalah salah satu naskah kuno berbahasa Jawa yang menggambarkan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, khususnya peristiwa Geger Pecinan dan penyerbuan VOC terhadap kerajaan Mataram pada abad ke-18. Naskah ini memuat narasi yang mendetail tentang konflik politik, strategi militer, dan dinamika sosial pada masa itu. Identitas naskah ini mencakup informasi tentang penulisnya yang anonim, serta asal-usulnya yang kemungkinan besar berasal dari lingkungan keraton Mataram atau lingkungan intelektual Jawa pada masa itu. Secara fisik, naskah ini mungkin terdiri dari kumpulan halaman-halaman berukuran sedang dengan tulisan tangan kuno dalam aksara Jawa atau Pegon. Isi naskah menggambarkan peristiwa-peristiwa sejarah dan mungkin juga mencakup pandangan dan nilai-nilai budaya yang relevan dengan waktu dan tempat pembuatannya. Inventarisasi identitas naskah Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan melibatkan pencatatan rinci tentang konten, kondisi fisik, dan sejarah kepemilikan, serta analisis bahasa dan gaya penulisan yang dapat memberikan wawasan tentang konteks historis dan budaya di mana naskah ini muncul. 

Kajian filologis terhadap naskah Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan (BGDGI) koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta dengan nomor S103/ PBA 301 bertujuan untuk mengetahui kodikologi naskah, fungsi, sejarah, nilai, dan pelestariannya. Berdasarkan pembacaan cermat terhadap alih aksara dan alih bahasanya, diketahui bahwa penulisan naskah BGDGI bersumber dari Serat Mareskalek yang dimulai pada  tanggal 29 Sura, wuku Bala, lambang Alip Kulawu, mangsa ke enam, windu Murka, tahun Dal, dengan sengkalan Ponca Sapta Pandhita Di (1775 TJ).  Pada keterangan awal disebutkan pula bahwa Serat Mareskalek merupakan naskah induk yang ditulis semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III, dan dimiliki oleh Kanjeng Gusti Pangeran (KGP) Suryanglaga, putra kedua dari Sultan Ketiga.

Menilik jenis kertas yang digunakan adalah kertas Eropa bercap CONCORDIA RESPARVAE CRESCUNT. Berdasarkan data intriksik yang diperoleh dari teks maupun naskah BGDGI, patut diduga bahwa teks ini berasal dari skriptorium Keraton Yogyakarta. Dari keterangan T.E. Behrend (1990), disebutkan pula bahwa teks BGDGI merupakan teks yang disalin pada pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V oleh seorang carik yang disebutkan dalam kolofon bernama Raden Sumayuda. 

Berdasarkan ulasan, teks BGDGI mengisahkan kronik sejarah yang diawali dengan Perang Mangkubumi di Surakarta, permindahan Pangeran Mangkubumi ke Yogyakarta dan bertakhta sebagai sultan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Cerita dilanjutkan dengan pergantian kekuasaan Yogyakarta ditangan Sri Sultan Hamengku Buwono II hingga peristiwa Geger Sepehi atau Geger Inggrisan. Kronik sejarah berakhir dengan penobatan Raden Mas Surojo sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono III menggantikan ayahnya. Tanggal-tanggal penting dalam teks ditulis dalam kronogram Jawa. Sementara berbagai informasi atau peristiwa penting di dalam teks dibingkai dalam iluminasi.

Baca juga : Memahami Pasar Wisatawan Melalui Survei

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *