Belajar Adat dan Budaya di Desa Tenganan Pegringsingan Bali

Belajar Adat dan Budaya di Desa Tenganan Pegringsingan Bali – Desa Tenganan Pegringsingan terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, tepatnya di sebelah timur Pulau Bali. Lokasinya sekitar 17 kilometer dari Kota Amlapura, 5 kilometer dari daya tarik wisata Candidasas, dan sekitar 65 kilometer dari Kota Denpasar. Karakteristik budaya yang masih melekat erat membuat desa ini menjadi salah satu destinasi dengan daya tarik wisata kebudayaan. 

Pola Kehidupan Masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan 

Masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan ini memiliki pola kehidupan yang kental akan kebudayaan dan adat istiadat pra-Hindu yang berbeda dengan desa lainnya di Bali. Struktur penduduknya cukup unik, karena hanya terdiri dari penduduk asli setetmpat dan tidak ada yang berasal dari luar desa. Masyarakat setempat juga memiliki budaya unik dalam sistem perkawinan yaitu sistem parental dimana perempuan dan laki-laki yang berada dalam keluarga memiliki derajat sama dan berhak menjadi ahli waris. Selain itu, terdapat budaya dimana masyarakat harus menikah dengan sesama masyarakat Desa Tenganan atau disebut dengan sistem endogami. Jika sistem adat ini dilanggar, maka warga tersebut tidak diperbolehkan menjadi warga desa setempat lagi, dengan kata lain harus keluar dari Desa Tenganan (Karangasemkab.go.id).

Keahlian Menenun Gringsing 

Masyarakat Desa Tenganan dikenal sebagai ahlinya membuat tenun kain Gringsing. Gringsing berasal dari kata “gering” yang artinya musibah dan “sing” yang artinya tidak. Artinya Gringsing diartikan sebagai penolak bala. Pembuatan kain Gringsing tidak main-main, karena membutuhkan waktu yang sangat lama hingga 3 tahunan. Oleh karena itu, kain Gringsing terkenal mahal. Kain Gringsing biasa digunakan dalam upacara adat seperti Ngaben. Dalam upacara Ngaben, kain Gringsing akan diletakan pada pucuk bade atau tempat mengusung mayat. 

Tradisi dan Upacara Adat

Di Desa Tenganan Pegringisingan terdapat tradisi perang pandan atau yang biasa dikenal dengan mekaré-karé. Mekaré-karé merupakan bagian puncak dari prosesi rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang biasa diselenggarakan pada Bulan Juni selama 30 hari. Upacara Ngusaba Sambah merupakan sebuah babak dalam kehidupan masyarakat setempat dan bertujuan untnuk memohon kepada Ida Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan YME agar mendapat keselamatan dan kerahayuan. Mekaré-karé biasanya berlangsung sebanyak 2 hingga 4 kali dengan menghaturkan sesajen kapada para leluhur yang diikuti oleh para lelalki dari anak-anak hingga orang tua. Pelaksanaan Mekaré-karé diiringi dengan tetabuhan khas Desa Tenganan yaitu gamelan selonding. 

Rumah Adat Desa Tenganan 

Desa Tenganan memiliki rumah adat yang unik yaitu dibangun dari campuran batu merah, batu sungai, dan tanah serta memiliki ukuran yang relatif sama antar rumahnya. Rumah adat ini memiliki banyak kerajinan desa yang dipajang di dinding rumah, seperi ukir-kiran, anyaman, dan kain tenun. Atap rumah adat ini biasanya berasal dari ijuk sehingga menambah kesan sisi tradisionalnya. 

Baca Juga : Desa Wisata Rinding Allo

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *