Berkemah dan Berwisata di Desa Wisata Tinalah, Samigaluh, Kulon Progo

Dewi Tinalah merupakan kawasan Pegunungan Menoreh zona 2 (ketinggian 300- 600 mdpl ) di Samigaluh Kulon Progo. Terdapat 14 Dusun di Dewi Tinalah (Puyang, Taman, Plarangan, Tukharjo, Bangunrejo, Dukuh, Kedungrong, Duwet, Junut, Pagutan, Besole, Sendangrejo, Kalinongko, Sendangmulyo). Kawasan Dewi Tinalah sebagian besar adalah pegunungan, persawahan, perkebunan, dan aliran sungai Tinalah (Tanella, Senala, dan Tinalah), yaitu sungai terpenting dari Kali Progo di wilayah Samigaluh dan Kalibawang selatan yang menjadi potensi terbesar berupa alam (Sungai Tinalah, Goa Sriti, Goa Upas, Bukit Talun Miri, Puncak Gunung So, Puncak Alam Kleco, Flora, Fauna).

Kondisi budaya di Dewi Tinalah masih terlaksana (terjaga) dengan baik berupa gamelan, kesenian (Jatilah, wayang orang, wayang kulit), adat istiadat peringatan bulan Sapar, Suro, Kirab Merti Bumi Tinalah, genduri, kelahiran bayi, acara pernikahan, upacara kematian, dan wiwitan (wiwit tandur, wiwit panen, wiwit Belik Ngancar). Kehidupan masyarakat di Dewi Tinalah mayoritas adalah petani sekaligus beternak karena masih mempunyai lahan pertanian yang luas atau menggarap sawah orang lain dengan sistem bagi hasil, begitu juga dengan peternakan. Kondisi ini merupakan tatacara kehidupan masyarakat di Dewi Tinalah. Di Dewi Tinalah mempunyai historis yang panjang tentang sejarah perjalanan Nusantara dan Indonesia. Kawasan Dewi Tinalah dari berbagai sumber diketahui bahwa di Dusun Duwet, Dukuh, dan Suwelo merupakan bagian penting dalam perjalanan lima tahun sejarah Perang Jawa. Area Dekso-Kedungrong sebagai markas terbesar dan terlama. Di Dukuh terdapat Rumah Sandi untuk bersembunyi, melakukan pengkodean, mengumpulkan informasin, dan kegiatan komunikasi berita dari dalam dan luar negeri (Monumen Perjuangan Rumah Sandi Negara).

Dalam rangka optimalisasi program PNPM Pariwisata yang melibatkan maysarakat, berdasarkan proses musyawarah dan identifikasi potensi di Purwoharjo, maka dibentuk suatu kelembagaan desa wisata dengan nama Desa Wisata Tinalah (Dewi Tinalah) yang diambil dari nama Sungai Tinalah (ikon desa wisata) pada tanggal 1 Oktober 2013 yang dituangkan dalam ADRT Dewi Tinalah. Dalam pengembangan awal Dewi Tinalah menitikberatkan penggunaan lahan khas desa untuk pengembangan kegiatan wisata (camping, makrab, gathering, dan outbound) dengan pengadaan perlengkapan, saranan, dan fasilitas pendukung. Kegiatan budaya (seni budaya) yang dikembangkan untuk pendukung kegiatan wisata berupa gamelan, jatilan, gejog lesung, dan Merti Bumi Tinalah. Pemaketan kegiatan wisata merupakan pengembangan dari hasil analisis awal melalui kegiatan identifikasi. Dari hasil tersebut terbentuk pemaketan wisata dengan paket kegiatan camping, outbound, trekking, jelajah alam, susur Goa Sriti, dan napak tilas di Monumen Rumah Sandi Negara. Pengembangan selanjutanya berupa pengembangan kegiatan outbound dengan kegiatan river tubing menggunakan wahana embung Kali Duren dan saluran Irigasi Kalibawang yang berada di kaki Puncak Kleco. Selanjutnya pengembangan destinasi di kawasan Puncak Kleco di dusun Duwet.

Pemetaan hasil pengembangan dari tahun 2013-2015 banyak wisatawan yang berminat dengan paket kegiatan camping. Kegiatan camping biasanya dikombinasikan dengan kegiatan lainnya berupa outbound, jelajah alam (susur sungai Tinalah, susur Goa Sriti). Tahun 2015-2017 pengembangan fokus pada paket outbound untuk berbagai kalangan baik sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai komunitas. Pada tahun 2017 juga bersamaan dengan inisiasi pengembangan kawasan Puncak Kleco untuk spot view (sunrise, kuliner, kegiatan kemasyarakatan kebudayaan dan adat istiadat berupa wiwitan). Pada tahun ini juga melakukan inisiasi pengembangan homestay di rumahrumah warga di Dewi Tinalah. Tahun 2017-2019 kegiatan pengembangan fokus pada pengelolaan atau manajeman desa wisata, promosi berkelanjutan, pengembangan SDM melalui pendidikan dan pelatihan, baik swadaya ataupun program pemerintah, dan pengembangan paket yang terintegrasi (misal kegiatan camping, outbound, workshop dalam paket kegiatan one day, two days, atau three days dengan konsep live in). Pengembangan paket ini didukung dengan proses promosi yang gencar (massive) baik memalui pemasaran offline ataupun online.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.