Bleisure Tren Pariwisata yang Terus Tumbuh Pasca Pandemi

Bleisure Tren Pariwisata yang Terus Tumbuh Pasca Pandemi – Pasca pandemi COVID-19, beberapa perusahaan di Indonesia memberi kebebasan pegawainya untuk bekerja dari mana saja. Adanya kebebasan tersebut, dapat meningkatkan fleksibilitas para pekerja untuk tetap menyempatkan liburan singkat di sela-sela waktu bekerja. Akhirnya, kesempatan tersebut menciptakan bleisure (business and leisure) sebagai salah satu tren pariwisata yang banyak diminati wisatawan. 

             Kalau sebelumnya wisatawan fokus pada susunan itinerary yang padat, Bisa dibilang, tren pariwisata bleisure akan cenderung membuat wisatawan memilih melakukan perjalanan yang berkesan dan penuh makna. Dengan kata lain, tren pariwisata bleisure diperkirakan mendorong wisatawan untuk mencari pengalaman baru, dan meninggalkan konsep berwisata yang konvensional.

             Munculnya tren pariwisata ini menjadi langkah awal yang baik, terutama dalam meningkatkan pergerakan wisatawan nusantara. Mengingat, pegawai kantoran yang sebelumnya hanya duduk di meja kerja sepanjang hari, bisa bekerja sambil liburan di beberapa destinasi wisata impian. 

             Dampak tren pariwisata bleisure sangat positif. Tren ini dapat meningkatkan pendapatan dan memperpanjang lama tinggal wisatawan. Bleisure juga dapat mendorong wisatawan untuk menjelajahi destinasi wisata yang lebih luas. Misalnya, seorang pengusaha dari Surabaya melakukan perjalanan bisnis ke Yogyakarta. Setelah menyelesaikan tugas bisnisnya, ia memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya di Yogyakarta untuk menjelajahi pantai, kuliner, dan budaya Yogyakarta. Selama liburan, ia menginap di hotel, makan di restoran, dan berbelanja oleh-oleh. Hal ini dapat meningkatkan pendapatan hotel, restoran, dan toko oleh-oleh di Yogyakarta.

            Bleisure memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh jenis tren pariwisata lainnya. Selain memberikan kesempatan untuk bekerja dan bersantai, bleisure memberikan ruang bagi wisatawan untuk benar-benar terlibat dalam budaya lokal. Sebagai contoh, wisatawan yang bekerja dari kafe yang dipenuhi aroma kopi lokal di daerah wisata. Wisatawan tersebut tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga merasakan atmosfer lokal yang sebenarnya. Hal ini tentu menciptakan pengalaman yang lebih mendalam daripada sekadar mengunjungi tempat wisata dan kembali ke hotel. 

            Bleisure juga memungkinkan wisatawan untuk lebih dekat dengan masyarakat setempat. Misalnya, di sela-sela pertemuan bisnis, wisatawan dapat ikul andil dalam festival lokal. Inilah yang membedakan bleisure dari jenis wisata lain, di mana interaksi dengan budaya setempat tidak hanya menjadi tambahan, melainkan inti dari pengalaman perjalanan. 

Baca juga : Peran Pembangunan Infrastruktur Jalan dalam Meningkatkan Sektor Pariwisata

Kami selaku konsultasi pariwisata mengucapkan terimakasih kepda instansi tekait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi para pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungu admin kami di (0812-3299-9470).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *