Citra Pariwisata Yogyakarta

Yogyakarta atau sering disebut dengan Jogja merupakan salah satu kota yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Slogan “Jogja Never Ending Asia” ditetapkan sebagai brand image propinsi DIY yang didesain penuh makna menempatkan posisi baru Jogja sebagai “Experience that never end in Asia”(Utomo,2006). Adapun visi dari adanya slogan tersebut adalah untuk menjadikan Jogja “the leading economic region in asia for trade, tourism, and invesment in five years” sedangkan misinya yaitu untuk menarik memberikan kepuasan dan mempertahankan perdagangan, wisatawan, investor, pengembang dan organisasi dari seluruh dunia untuk tetap berada di Jogja. Brand image tersebut mengandung makna Jogja shall intimately embrance the world and the world will anthusiastically welcome Jogja (Utomo,2006). Artinya bahwa Jogja dengan segala keunikannya akan mampu menjadi magnet bagi wisatawan dunia, sehingga nantinya dunia akan antusias untuk datang ke Jogja.

Tradisi budaya Jogja yang masih kuat, tempat wisata yang beraneka ragam, kuliner serta keramahan masyarakat menjadi magnet yang dapat memikat hati bagi siapapun yang berkunjung ke Jogja. Hal inilah yang menjadi kekuatan bagi Jogja untuk dapat bersaing dengan kotakota lain yang ada di Indonesia sebagai tujuan wisata. Jogja selalu menjadi tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara, hal ini dibuktikan dengan penghargaan sebagai kota yang memiliki pelayanan terbaik dan kota favorit nomor empat besar di Indonesia. Jogja juga masih menyandang predikat “kota pariwisata” yang menduduki peringkat nomor dua setelah Bali (Wahyu,2010).

Namun dalam urusan akomodasi Jogja masih kalah dengan Jabar dan Bali. Wisatawan domestik paling banyak memakai jasa akomodasi di Jawa Barat, sedangkan Bali menjadi sasaran terbanyak tempat menginap wisatawan asing (Baskara,2010). Kondisi demikian setidaknya mencerminkan Jabar lebih mampu mencitrakan diri sebagai tempat yang menarik bagi wisatawan untuk singgah lebih lama. Kalangan pelancong asing menjadikan Bali sebagai tempat paling diburu untuk tujuan bermalam. Stigma kawasan melancong yang menarik, bahkan menggoda wisatawan bermalam, belum melekat pada wajah pariwisata Jogja. Citra tempat wisata yang berujung pada minat wisatawan untuk singgah lebih lama tak lepas dari kondisi obyek yang dijual dan kemasan obyek wisata. Dalam konteks ini, Jogja memiliki kemampuan yang tak kalah dibanding Jabar dan Bali.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *