DAFTAR RINGKASAN PERISTIWA DAN TANGGAL-TANGGAL DALAM NASKAH 

DAFTAR RINGKASAN PERISTIWA DAN TANGGAL-TANGGAL DALAM NASKAH 

PART 7

Pu

puh

Tembang No Bait Kutipan Terjemahan Keterangan
200 Pangkur 2-3 2….Kocapa Surakarteki.

3. Bupatine prana raga,

Raden Riya Wiryadiningrat uni,

bawahe dhusun ranipun,

Singĕbĕl sing kĕthokan,

yen rinusak marang Dyan Rangga Madiyun,

donyane samya jinarah,

wong cilik samya angili.

2. …Diceritakan Surakarta ini.

 

3. Bupati Panaraga,

Raden Riya Wiryadiningrat dulu

di bawah dusun namanya

Singebel yang kěthokan (dipangkas?)

yang dirusak oleh Radyan Rangga Madiun.

Harta bendanya semua dijarah,

rakyat kecil semua mengungsi,

  • Sunan melapor pada van Braam jika wilayahnya dirusak oleh Raden Rangga Madiun.
  • Ia kemudian menembak Prawiralaya dan Puspadiwirya. Harta bendanya dijarah.   
  • Raden Rangga melarikan diri pada Rabu Wage tanggal 22, bulan Syawal, sengkalannya Pitu mantri syaranireng jalmi (1737). Namun ia berhasil tertangkap.
  • Mayatnya dibawa ke keraton pada hari Kamis tanggal tiga puluh di bulan Dulkaidah mangsa (musim) ke enam tahun Wawu, lalu diberi sengkalan (berangka tahun) Pitung mantri syareng tunggal (1737).
213 Asmaradana 9 Tuan Běsar prapta neki,

anuju ari Jumungah,

sarěng sapisan tanggale,

sasi Běsar taun tunggal,

ya ta kang wadya suldat,

sapangkat-pangkat lumaku,

těkane icir kewala

Tuan Besar datang (tiba)

saat hari Jumat

bertepatan tanggal satu

bulan Besar tahun Satu.

Demikian para prajurit serdadu

sebagian-sebagian berjalan,

tibanya sedikit-sedikit.

  • Daendels datang pada hari Jumat.
  • Sultan meminta Daendels menghadap ke keraton dahulu, namun Daendels mau Sultan lebih dahulu menyambut di loji.
  • Daendels mengalah.
  • Hanya Engelhard yang datang ke keraton.
  • Sultan tersinggung.
218 Megatruh 1-2 1. Duk kalane pěngangkatira ing wau,

Jěng Raja Putra Nrěpati,

Sělasa Kaliwonipun,

tanggal ping gangsal kěng sasi,

Běsar taun Wau mangko.

 

2. Ing panuju ing mangsanira kapitru,

marěngi ing wuku Tambir,

angetang sěngkalanipun,

rěsi tinunggangan jalmi (1737),

  1. Saat pengangkatannya

Kanjeng Raja Putra, Pura Raja

Selasa Kliwon

tanggal lima, bulan

Besar, tahun Wawu

 

  1. pada mangsa ketujuh

bersamaan dengan wuku Tambir

dengan perhitungan sengkalan-nya

Resi tinunggangan jalmi (1737).

  • Karena hunungannya dengan Daendels yang tidak baik, Sultan dimakzulkan.
  • Putra mahkota (calon Sultan Hamengku Buwono III) diangkat sebagai wakil raja.
  • Semua urusan kerajaan dipegang oleh wakil raja.
  • Daendels digantikan oleh Jansens.
  • Daendels ingin menukar tanah di mancanegara (Grobogan, Wirasari) dengan tanah pesisir. Permintaan ini disetujui oleh wakil raja.
  • Daendel memberikan pakaian jendralan dengan dua gambar bintang kepada wakil raja.
  • Wakil raja membalas dengan memberikan satu wuwung dan saput (milik) kepada jendral.
221 Asmaradana 18-19 18. …

mangkate wadya Ngayogya,

nuju ing dina Ngahad,

Ruwah tanggal ping rong puluh,

Jimakir sĕngkalanira.

 

19. Brĕma Nati Nugang Sasi “1738”

Karsa Dalĕm Jĕng Narendra,

ingkang anglurug sakehe,

wulan Ramĕlan punika,

kinen sami mantuka,

mĕningana mĕgĕngipun,

pasa neng Nagri Ngayogya

18. …

Berangkatnya prajurit Ngayogya

pada hari Minggu,

Ruwah tanggal dua puluh

Jimakir, sengkalannya

 

19. Brěma Nati Nunggang Sasi “1738”.

Keinginan Kanjeng Narendra,

yang berangkat untuk berperang, selama

bulan Ramadan ini,

(prajurit) disuruhnya untuk pulang semua

mengetahui bahwa telah mulainya bulan

puasa di kota Ngayogya.

  • Daendels telah resmi digantikan Jansens.
  • Inggris mulai menyerang Batavia.
  • Jenderal Batavia meminta bantuan pasukan dari Sultan dan Sunan.
  • Pasukan Yogyakarta dan Surakarta berhadapan dengan Inggris di Benteng Kurnelis. 
  • Perang berkecamuk, tentara Inggris sulit dikalahkan
223 Megatruh 22-26 22. wus kaikĕt Dyan Patih astane iku,

lawe satugĕl kinardi,

kabĕskareng gĕdhong sampun,

inganggar Sang Sri Bupati,

Dyan Tumĕnggung nulya kinon.

23. Animbali Danu Kusuma Dyan Mĕnggung,

wus prapta wuwunge ngambil,

tan na sisa wĕdhungipun,

pan laju dipunsakiti,

neng kĕbonan wus ginĕdhong.

 

24.ingkang dados Karsa Dalĕm Sang Aprabu,

mring Sumadiningrat nuli,

kinen lĕkasan gupuh,

anulya dipunlĕkasi,

lina de jaganya alon.

 

25. sampun seda Dyan Patih karsaning Prabu,

kinen amĕrnahkĕn aglis,

aneng ing toya sumurup,

ri Kĕmis Pahing Sawal ping,

pitu likur Jimakir wong.

 

26. sinĕngkalan astha tri Pandhita Ratu. 1738,

mĕngkana sakehe sami,

wadya Ngayogya lit agung,

mĕdhĕt kakung denya wingit,

sakehing wong sami tamboh.

22. Sudah terikat tangan Raden Patih itu

(terikat dengan) seutas benang dibentuk (lilitan).

Gedung(nya) sudah tersorot matahari.

Sang Sri Bupati membawa keris dalam anggar.

Raden Tumĕnggung mulai diperintahkan

23. memanggili Danu Kusuma Raden Měnggung

yang sudah datang di perabungan mengambil.

Tidak ada sisa wedhungnya

tetapi kemudian terus disakiti

di kebun (yang) sudah dibuat gedung.

 

24. Yang menjadi keinginan Sang Raja

terhadap Sumadiningrat selanjutnya

(yaitu) disuruh memulai segera.

Kemudian dimulai,

penjaganya terlena perlahan.

 

25 Raden Patih sudah tewas. (Atas) keinginan Raja

(utusan) disuruh membenarkannya segera (dengan)

memasukkan ke dalam air

(pada) hari Kamis Pahing (bulan) Syawal tanggal dua puluh tujuh Jimakir dengan

 

26. sengkalan tiga tangan Pendeta Raja 1738.

Begitulah banyaknya semua

prajurit Ngayogya besar (maupun) kecil

gelap, sedih, juga angker

kebanyakan orang semua bertambah.

  • Kematian Patih Danurejo yang dianggap kurang baik dan terlalu memihak kolonial. 
  • Pergantian pemerintahan Belanda ke Inggris.
  • Pergantian minister, Engelhard digantikan oleh Garnham.
  • Engelhard bunuh diri dengan meminum air keras.
  • Putra mahkota yang diangkat menjadi wakil raja kembali pada kedudukannya sebagai putra mahkota.
  • Raffles hendak datang ke Yogya, Sultan menyampaikan kepada Crawfurd jika Raffles boleh datang tetapi tanpa pasukan.

 

226 Sinom 55-56 55. …

mĕngkana rawuh Sang Nata,

aneng kori loji aglis,

Jendral mudhun kariyin,

ajlog saking kareta gung,

egal denya lumampah,

nulya tumĕdhak Sang Aji,

pan priyongga tĕdhake Kangjĕng Narendra.

 

56. ing kantor Jendral wus prapta,

sĕksana kaliwon kalih,

amagyanakĕn dhampar mas,

pangyan adat Jendral pranti,

asru krodha sira glis,

dhampar mas ingalih gupuh,

aneng kananing Jendral,

Kaliwon prasamya ajrih,

wangsul malih dhampar panggyaning ingawat.

55….

Demikian (ketika) sang raja datang

di pintu loji. Dengan segera

Jendral turun terlebih dulu

melompat dari kereta agung.

Dengan cepat dia berjalan.

Segera Sang Raja turun

serta Kanjeng Narendra turun sendiri.

 

56. Jendral telah datang di kantor

kemudian kedua lurah Kaliwon

menempatkan singgasana emas.

Tempat Jendral biasa saja.

Dia sangat marah segera

(dengan) tergesa-gesa singgasana emas dipindahkan

berada di sebelah kanan Jendral.

Para lurah Kaliwon ketakutan

kembali lagi (pada) kursi (sebagai) tempat (yang) diinginkan.

  • Terjadi perseteruan antara Raffles dengan Raden Sumaprawira perkara kursi Sultan.
  • Kedudukan Sultan dianggap lebih tinggi sehingga posisinya harus lebih tinggi dari kursi Raffles.
  • Raffles menuntur persamaan tempat duduk. 
  • Raden Sumaprawira menarik keris curiga serta menantang Raffles.
  • Sultan menengahi dan memintan Raden Sumaprawira mengalah.
  • Raffles juga meminta maag kepada raja.
  • Pada kunjungan berikutnya, raja tersinggung saat pintu loji di tutup.
  • Sultan menyatakan perang.
  • Raffles kembali meminta maaf dan membuka semua pintu.
  • Pertemuan dilanjutkan dengan membahas penerus Sultan.
230 Girisa 2-3 2. kala Jendral madukara,

praptanya wontĕn Ngayogya,

Sĕptu tanggal ping kalih wlas,

Bĕsar Jimakir warsanya.

 

3.Tru Panas Pandhita Tugal, 1738,

2. Ketika Jendral Madukara,

kedatangannya ke Ngayogya,

hari Sabtu tanggal ke-dua belas,

Besar Jimakir bulannya,

 

3. Tru Panas Pandhita Tugal, 1738.

Kedatangan Jenderal Madukara ke Yogyakarta.
232 Maskumambang 7-9 7. Jĕng Raja matur wot sĕkar. 

8. igih kula anuwun duka Nrĕpati,

nama kula Raja,

konjuk lawan duka aji,

kula nuwun awasula.

 

9. igih nama kawula ingkang alami,

Pangran Adipatya,

Anom Amangkunĕgari,

kang Sudigbya Raja Putra.

7. Kanjeng Raja berkata menyembah,

 

8. “Saya meminta maaf, Nerpati,

gelar saya Raja,

dihaturkan dengan kemarahan Raja,

saya memohon untuk kembali

 

9. ke gelar saya yang lama,

Pangeran Adipati,

Anom Mangkunegara,

yang Sudigbya Raja Putra,

  • Wakil raja hendak mengembalikan kekuasaan kepada Sultan.
  • Sultan meminta agar keputusan itu dibacakan pada saat pasowanan di hadapan semua prajurit.
  • Pada hari Senin, tanggal 10 bulan Safar tahun Alip dengan sengkalan Trustring Syareng Jalma, 1739 wakil raja kembali pada kedudukan putra mahkota.
234 Dhandhanggula 4 ĕnĕngĕna kang aneng Sĕmawis,

kawuwusa Minĕstĕr Ngayogya,

Tuwan Jan Krapĕt ing make,

arsa turuning prabu,

kĕdhatĕngan utusan prapti,

sangking Nagri Sĕmarang,

saha sĕratipun,

Tuwan Jendral neng Sĕmarang,

pan anganti patĕmbayanireng nguni,

kĕlawan Kangjĕng Sultan.

Hentikan yang ada di Semarang.

Diceritakan Ministĕr Ngayogya,

Tuwan John Crawfurd kini,

berkeinginan turun tahtanya Prabu,

kedatangan utusan tiba,

dari Negeri Semarang,

beserta surat

Tuwan Jendral di Semarang,

mengganti perjanjian dulu,

  • Memanasnya hubungan Sultan dengan Inggris.
  • Crawfurd ingin agar Sultan turun takhta.
  • Pasukan Inggris perlahan memasuki Yogyakarta.
  • Sultan diminta mundur tetapi tidak mau.
240 Dhandhanggula 6-7 6. marang Pangran Natakusumeki,

ing Ngayogya datan ana nata,

na sultan baru ping trine,

Makubuwona iku,

Pangran Natakusuma angling,

igih sumongga jendral,

sĕmunya gĕgĕtun,

neng jro loji samya lĕnggah,

wetan Jĕng Sultan jajar lan Jendral ing,

lan Den Ayu Dipatya.

 

7. Den Mas Timur sampun lĕnggah kursi,

pra putra lĕgah kursi sĕdaya,

apan sami majĕng mangilen,

Pangran Panularipun,

lĕnggah kursi pan aneng wiking,

aran neng ngemper samya,

kawarna ing wau,

sinigĕg kocap Jĕng Sultan,

6. kepada Pangeran Natakusuma

“Di Ngayogya tidak ada raja.

Ada sultan baru ketiga kalinya

Makubuwona itu.”

Pangeran Natakusuma berkata,

“Silakan saja, Jendral”

Rautnya (tampak) penuh sesal.

Semua duduk di dalam loji

di (sebelah) timur Jeng Sultan bersebelahan dengan Jendral

dan Raden Ayu Dipati.

7. Den Mas Timur sudah duduk di kursi.

Para putra semua duduk di kursi

karena semua menghadap ke barat.

Pangeran Panular

duduk kursi berada di belakang

semua berada di teras. 

Diceritakan tadi,

disingkat kisah Kanjeng Sultan.

  • Pecahnya perang sepoy
  • Pengangkatan Sultan amengku Buwono III 
  • Setiap Minggu dan Rabu, Sultan Baru diundang ke wisma residen
  • Permintaan Natakusuma untuk menjadi pemimpin.
  • DAFTAR RINGKASAN PERISTIWA DAN TANGGAL-TANGGAL DALAM NASKAH
49-50 49. tandya Sikritaris panggih Aji,

kautus mring Tuwan Besar tanya,

dangu buk barang yatrane,

Nata kagunganipun,

sĕdayanya kinen nyĕrati,

wus pinrentahkĕn tandya,

Sikrĕtaris mĕtu,

keh yatra pan wus kusungan,

marang loji syaranya pating kurincing,

wangsul akathah.

 

50. apan samya kineseran sami,

wong Igris man ikang ngirid kathah,

tandya yen na mriyĕm gĕdhe,

rĕngĕng grug sĕbda Prabu,

baya kurmat ingkang wadya Ji,

atma matur dhuh Rama,

jumnĕng angsal sampun,

liya sangking tĕdhak Nata,

kendĕl Nata Atma mring Rama ngling malih,

Pri tuwin Pangran Dĕmang.

49. Kemudian sekretaris bertemu Raja,

diutus oleh Tuwan Besar bertanya,

menanyai untung tidaknya barang uangnya.

Kepunyaan Raja,

semuanya disuruh mencatati,

sudah diperintahkan kemudian,

sekretaris keluar.

Banyak uang yang sudah diangkut,

di Loji suaranya gemerincing.

Kembali banyak,

 

50. semua sudah di gerobak.

Orang Inggris yang mengantarkan banyak.

Kemudian jika ada meriam besar,

Gumam lirih grug sabda Prabu,

“Apa dihormati pasukan Raja”

Sang anak berkata, “Duh Rama,

sudah boleh bertahta,

lain dari lengsernya Raja”

berhenti anak Raja, kepada Rama berkata lagi,

“Dan juga Pangeran Demang,

  • Sekretaris mencatat harta raja yang dijarah
  • Uang, kitab-kitab, dan semua barang berharga dari keraton diangkut menuju loji dengan menggunakan gerobak.DAFTAR RINGKASAN PERISTIWA DAN TANGGAL-TANGGAL DALAM NASKAH
64-66 64. kang rumĕksa kĕdhaton pra sami,

wadya Igris man lawan bĕnggala,

regol Sri Mĕnganti gene,

kĕlawan regol kidul,

kang neng pura pan Sikrĕtaris,

yeku ingkang minongka,

wakil jendral wau,

tan suwe sakehipun,

ngusung malih sĕdaya marang ing loji,

warni arta kĕncana.

 

65. warni perak lan wĕsi aji,

kina reta pĕdhati kĕlawan,

kang cinikar lawan leser,

braneng pura wus kĕbut,

sakehing wong trining myang santri,

donyane sampun tĕlas,

rinayah wus gĕmpung,

angili marang ing desa,

lawan sami tan kawasa andarbeni,

tĕlas wineh wong desa.

66. kang angrayah samya tri prakawis,

wau Sabrang lan Natakusuman,

Prang Wĕdana apa dene,

aneng kang winuwus,

kawarnaa kang aneng loji,

kĕlakung kawlas arsa,

Kangjĕng Sultan sĕpuh,

ri atma lan kaponakan,

sakĕlakung wĕlas arsa Nrĕpati,

katutup kori mĕnga.

64. Yang menjaga Keraton bersama

pasukan Inggris melawan Bĕnggala,

Regol Sri Menganti, adapun

dengan Regol selatan,

yang ada di pura Sekretaris,

yaitu yang menjadi,

wakil Jendral tadi.

Tidak lama kemudian mereka,

membawa lagi semuanya ke Loji,

beraneka uang emas,

 

65. beraneka perak dan besi raja,

diangkut dengan kereta pedati dan

yang diangkut gerobak dengan ditarik.

Harta benda di pura sudah hilang seluruhnya.

Banyak orang kecil juga santri,

dunianya sudah habis,

direbut sudah rusak,

pergi mengungsi ke desa,

dan semuanya tidak kuasa memiliki,

habis diberikan orang desa,

 

66. yang merampas semuanya tiga perkara,

Sabrang dan Natakusuma,

Perang Wedana juga.

Ada lagi yang diceritakan.

Diceritakan yang ada di Loji,

kasihan sekali.

Kanjeng Sultan tua,

anak dan keponakan,

semuanya memelas. Raja,

menutup pintu yang terbuka.

  • Tiga tokoh utama yang merampas harta benda keraton, yakni orang-orang asing, Pangeran Prangwedana, dan Pangeran Natakusuma.DAFTAR RINGKASAN PERISTIWA DAN TANGGAL-TANGGAL DALAM NASKAH
67 pan kajagi astha wadya Igris,

duk sĕmana bĕdhahing Ngayogya,

Sĕptu Lĕgi ing tanggale,

kaping songa jam walu,

wulanipun Jumadilakir,

Alip angkaning warsa,

sinĕngkalan iku,

Binuka Putra Pandhita,

Tugal lawan “1729” wong Igrislawan Dipati,

ing talu sun mring pura.

Kala itu perampasan Ngayogya,

Sabtu Legi tanggal

sembilan jam delapan,

bulannya Jumadilakir,

angka tahunnya Alip,

sengkalannya itu,

Binuka Putra Pandhita,

Tunggal (diawali putra pendeta tunggal) dan “1729” orang Inggris dengan Adipati,

bertiga denganku di istana.

Tanggal peristiwa Geger Sepei yang merupakan serangan pasukan Inggris dengan Benggala ke Keraton Yogyakarta.DAFTAR RINGKASAN PERISTIWA DAN TANGGAL-TANGGAL DALAM NASKAH
241 Asmaradana 18-19 18. …Gandasuwirya lumĕbu,

narik tris sarya anĕbda.

19.  Jasĕntika den tarihi,

babar pisan wus palastra,

iki dadi plawang abot,

Jising wau tan palastra,

Gondasuwirya tandya,

kinrocok apan wus lampus,

geger ramya ing Pacinan.

18….Gandasuwirya masuk,

menarik tris sembari berkata.

 

19. “Jasentika diberikan penawaran.

Sama sekali sudah mati.

Menjadi tukang jaga pintu ini berat,

Jin Sing tadi tidak mati.”

Gandasuwirya kemudian

Dikroyok, sudah mati,

giduh ramai di Pacinan

Pada malam sesudah geger sepei. Terjadi penyerangan di pecinan yang menjadi lokasi mengungsi sementara Putra Mahkota dan pengikutnya. Penyerang itu bernama Gandasuwirya, yang disinyalir merupakan orang kepercayaan Pangeran Mangkudiningrat. Ia dituduh membalas dendam.DAFTAR RINGKASAN PERISTIWA DAN TANGGAL-TANGGAL DALAM NASKAH

Baca juga : Keindahan Alam di Curug Sodong

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *