Daur Hidup Menjadi Salah Satu Upacara Adat yang Masih Lestari

Daur Hidup Menjadi Salah Satu Upacara Adat yang Masih Lestari Di Masyarakat Desa Giropurwo –Daur hidup menjadi salah satu upacara adat yang masih lestari di masyarakat Desa Giropurwo. Upacara adat daur hidup merupakan gambaran rangkaian kehidupan manusia diawal dari lahir, dewasa, menikah,memilik anak, sampai pada hari kematian. Upacara adat daut hidup dilaksanakan secara individu dan menjadi bagian tradisi yang sudah dilaksanakan turun temurun sebagai bagian dari budaya jawa dalam memakani kehidupan dan rasa syukur kepada sang Pencipta. Adat daur hidup ini dibagi menjadi 4 fase kehidupan diantaranya adalah:

  • Fase Kehidupan Baru

Pada fase ini upacara adat untuk menyambut kehidupan baru yaitu lahirnya anggota keluarga baru yang dilaksanakan dengan rangkaian upacara adat dimulai dari upacara mitoni/tingkeban bagi ibu yang hamil pertama kali, upacara kelahiran (brokohan bagi bayi yang baru lahir), dilanjutkan dengan sepasaran bayi dan puputan, selapanan bagi bayi yang berusia 35 hari), dan fase ini diakhir dengan upacara adat tedak sinten.

  • Fase Kedewasaan

Fase kedewasaan ini menjadi gambaran bahwa kehidup seseorang yang sudah beranjak dewasa yang perlu dirayakan dan didoakan untuk menghindari hal yang tidak baik sehingga perlu diadakan ruwatan dan sunatan bagi anak laki-laki yang menuju kedewasaan.

  • Fase Gambaran Daur Hidup Manusia

Pada fase ini merupakan gambaran daur hidup manusia yang akan memasuk kehidupan baru dengan berumah tangga. Upacara perkawinan yang dimulai dari tradisi upacara memasang tarub, yang diawali dengan kenduri buntu tarub, dilanjutkan dengan upacara adat siraman pada siang hari, dan pada malem harinya yaitu malem midodareni. Disamping itu masih ada tradisi yang masih dijalan yaitu pelaksanaan upacara panggih dengan pakaian adat, sungkeman.

  • Fase Kematian

Fase kematian menjadi fase terakhir dari daur hidup manusia untuk memperingati kematian seseorang sebagai salah satu tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa dalam memperingati dan mengingat hari-hari setelah kematian. Tradisi Jawa untuk memaknai kematian dapat diurutkan ke dalam berbagai prosesi di awal untuk memberikan informasi beirta duka disbeut dengan Lelayu, yang dilanjutkan dengan mengurus jenasah sampai dimakamkan yang biasa disebut Ngrukti Laya.

Adapun jenis upacara tradisi hidup di Kalurahan Giripurwo seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 4. 4 Jenis Upacara Tradisi Hidup di Desa Giripurwo

Fase Tradisi/ 

Upacara Adat

Keterangan
Kehidupan baru Tingkepan/ mitoni  Tingkepan merupakan salah satu upacara adat yang dilaksanakan untuk meemperingit usia kehamilan yang memasuk 7 bulan, tradisi ini juga disebut dengan mitoni yang berasal berasal dari pitu atau tujuh. Tingkepan yang disebut juga mitoni merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa.
Brokohan Brokohan merupakan upacara adat Jawa untuk menyambut kelahiran bayi. sebagai rasa syukur atas lahirnya anak dengan selamat serta rasa sukacita atas proses kelahiran yang berjalan lancar dan selamat. Selain itu brokohan juga bertujuan untuk meminta keselamatan dan perlindungan bagi sang bayi serta memilik sikap dan prilaku yang baik.
Sepasaran atau puputan  Sepasar dalam perhitungan jawa merupakan jumlah hari jawa lamanya 5 hari. Sepasaran bayi merupakan selamatan yang diadakan pada waktu bayi berumur 5 hari.
Tedak sinten Tedak sinten merupakan rangkai tradisi dalam menyambut kehidupan baru yang merupakan bentuk rasa syukur karena sang anak akan mulai belajar berjalan selain itu juga dianggap dapat memprediksi masa depan bayi.
Kedewasaan  Supitan Supitan adalah upacara daur hidup masyarakat Jawa yang memasuki fase dewasa, yang merupakan upacara sunat khitan khusus untuk anak laki-laki, disertai dengan sesaji supitan yang terdiri dari tumpeng rombyong, tumpeng gundul, pisang ayu, pisang pundutan peken, seekor ayam hidup dalam keranjang, dan sepasang kembar mayang, namun tidak sedikit juga yang melaksanakan upacara adat dengan mendatangkan saudara maupun tetangga untuk meramaikan tradisi ini.
Ruwatan Ruwatan merupakan tradisi upacara adat yang memilik makna membuang sial atau menyelamatkan orang dari gangguan tertentu. Gangguan dapat dialami seseorang akibat suatu perbuatan yang dapat menimbulkan sial/celaka atau dampak sosial lainnya.
Rumah tangga  Lamaran  lamaran merupakan pertemuan antara keluarga calon penganti Wanita dan keluarga calon penganti pria, kerabat  maupun kehadiran beberapa saksi. Lamaran yang telah disepakati bersama ditandai dengan persetujuan atau paningset yang sifatnya mengikat kedua pihak.
Ngunduh mantu Tradisi ini menjadi bagian dalam pernikahan adat jawa yang dilaksanakan setelah proses ijab, yang bermakna panen mantu artinya bawah aka nada keluarga baru yaitu mendapatkan mantu baru. Ngundu mnatu ini dilaksanakan di rumah penganti pria yang menjadi symbol telah berjalan proses pernikahan dan untuk menyambut mantu yaitu mempelai Wanita diterima sebagai bagian dari keluarga besar pihak mempelai pria, yang dilaksanakan lima hari pasca upacara pernikahan.
Kembar mayang  Tradisi membuat Kembar mayang merupakan bagian dari serangaian adat Pernikahan jawa memiliki prosesi yang telah ditentukan. Kembar mayang dibuat dengan bahan dasar janur yang dibentuk dan disusun dipadukan dengan kembang panca warna, ada juga yang mengunakan buah hingga bentuknya menyerupai bunga yang indah. Kembar Mayang ini memilik filosofis sebagai doa, dan harapan yang mulia untuk calon pengantin.
Upacara Tarub Upacara Tarub merupakan upacara untuk mengawali prosesi upacara pernikahan adat Jawa. Kata tarub berarti pasren dari janur kuning yang dipasang di kanan kiri tratag serta pintu gapura rumah atau tempat tinggal yang sedang mempunyai hajat. Upacara Tarub biasanya bersamaan dengan hari pelaksanaan Upacara Siraman, tepatnya dilakukan sebelum Upacara Siraman dan dilengkapi dengan sesaji.
Upacara boyongan Upacara boyongan adalah upacara pindah rumah setelah proses ngunduh mantu selesai. Proses upacara boyongan dilihat sepentas seperti arak-arakan atau pawai. proses boyongan menjadi salah satu tradisi yang dilaksanakan setelah proses pernikahan selesai, dan berpindahnya mempelai pria ketempat mempelai Wanita maupun sebaliknya.
Kematian  Telung dina tiga hari setelah meninggal 
Pitung dina peringatan tujuh harian setelah meninggal.
Patang puluh dina peringkatan empat puluh hari setelah meniggal 
Satus dina memperigati serratus hari setelah meninggal 
Pendhak pisan mempringati satu tahun setelah meniggal 
Pendhak pindho memperingati dua tahun setelah meninggal 
Sewu dina peringat dengan upacara adat cukup besar adalah sewu dina untuk memperingati selamatan seribu hari setelah meninggal

 

Baca juga : Kota-Kota Unik di Indonesia

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *