Desa Wisata Temanggung, profil “Nepal Van Java” Kabupaten Magelang

Dusun Butuh berada di Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Letak secara geografis ini diklaim merupakan dusun yang tertinggi di Kabupaten Magelang, terletak tepat di kaki Gunung Sumbing dengan ketinggian 1.620 meter di atas permukaan laut. Dusun ini terletak paling utara. Gunung Sumbing sendiri terbagi menjadi tiga wilayah, Magelang, Wonosobo dan Temanggung. Di tengah dusun, sungai mengalir membelah dusun. Istilah Nepal van Java belakangan ini sedang bergaung di ranah industri pariwisata Indonesia. Karena keindahannya yang identik degan pedesaan di Nepal, Dusun Butuh yang terletak di lereng Gunung Sumbing menjadi sorotan wisatawan domestik dan mancanegara. Konsep Desa Wisata sendiri saat ini memang sedang digaungkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), mengingat ribuan desa yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagian besar memiliki potensi wisata dan ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan.

Salah satu potensi wisata di desa ini adalah jalur pendakian Gunung Sumbing yang terletak di Dusun Butuh. Pengelolaan jalur ini menjadi sangat penting karena para pendaki memiliki potensi merusak lingkungan dengan meninggalkan sampah, perusakan vegetasi dan pengambilan tanaman (Santarém, Silva, & Santos, 2015). Dusun ini diklaim merupakan dusun tertinggi di Kabupaten Magelang, terletak tepat di kaki Gunung Sumbing dengan ketinggian 1.620 mdpl. Gunung Sumbing adalah sebuah gunung api yang terdapat di Jawa Tengah, Indonesia. Gunung ini merupakan gunung tertinggi ketiga di pulau Jawa dengan ketinggian puncak 3.371 mdpl. Gunung ini secara administrative terletak di tiga wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.

Komoditas pertanian Dusun Butuh ditujukan untuk dipasarkan di tiga wilayah yaitu Pasar Giwangan Dusun Butuh, KTUKaliangkrik setiap pasaran Legi dan Pon dan Pasar Gotong Royong Magelang. Infrastruktur jalan yang ada telah dapat mendukungkegiatan masyarakat dusun tersebut. Jaringan jalan dusun telah menunjukkan hierarki sesuai skala aktivitas yang dilakukan, yaitu jalan antar dusun, jalan utama dusun jalan lingkungan, jalan setapak pada area pertanian dan jalan setapak pada jalur pendakian(Gambar 9). Jaringan jalan yang ada juga berkembang akibat aktivitas para pendaki gunung yang menjadi pengguna mayoritasinfrastruktur tersebut. Hal ini tampak pada jaringan jalan yang terbentuk pada lanskap dusun dengan material aspal maupun jaringan jalan yang menghubungkan dusun dengan daerah lain.

Pemandangan yang indah, susunan rumah bertingkat, dan udara yang sejuk membuat dusun ini dianggap mirip dengan Nepal. Sejak Juni 2019, warganet kemudian menjuluki dengan “Nepal van Java”, walaupun tidak diketahui siapa yang pertama kali memviralkan nama tersebut. Meskipun julukan tersebut sudah ada sejak Juni 2019, “Nepal van Java” (NvJ) baru terkenal pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19 mulai mewabah di Jawa. Mungkin masyarakat mulai bosan akibat pembatasan sosial dan mencari alternatif solusi untuk berwisata. Dan wisata alam menjadi pilihan masyarakat di musim pandemi Covid-19. Akhir tahun 2020 itu pula NvJ mulai dikunjungi ribuan wisatawan, terutama wisatawan penyuka pemandangan alam. Kemiripan Dusun Butuh dengan Nepal terlihat dari susunan rumah yang berundak (mirip anak tangga) mengikuti kontur kaki gunung (Nepal, 2013; Shrestha & Shrestha, 2012). Pembangunan rumah di Dusun Butuh dilakukan secara tertata dan beraturan yang membentuk pemandangan seperti terasering. Jika Nepal memiliki Gunung Everest sebagai latar pemandangan, Dusun Butuh memiliki Gunung Sumbing yang indah. Bangunan di Dusun Butuh sebagian besar juga masih berupa batu bata yang belum tertutup semen, khas bangunan rumah di “pedesaan Jawa”. Hal tersebut semakin menambah kemiripan dengan perumahan di Nepal terutama jika dilihat dari atas dengan drone. Kebiasaan wargayang gemar “memirip-miripkan” suatu wilayah Jawa dengan wilayah tertentu di luar negeri membuat Dusun Butuh dengan cepat terkenal. Setelah mulai terkenal, warga Dusun Butuh melakukan berbagai pembenahan terutama terkait tempat parkir yang diperluas. Beberapa sisi dusun juga di cat sedemikian rupa agar terlihat lebih indah. Terdapat pula penambahan pondok-pondok yang menjajakan makanan tradisional. Beberapa homestay juga mulai didirikan di wilayah tersebut. Dari atap rumah warga menjadi spot menarik untuk melihat pemandangan Kota Magelang hingga puncak Gunung Sumbing. Keindahan ini semakin dirasa lengkap dengan udara yang sejuk, masyarakat yang ramah, dan kabut tipis yang bergerak menyelimuti dusun. Capture-an berbagai pemandangan ini dengan cepat menyebar dan masyarakat beramai-ramai mengunjungi Dusun Butuh.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *