Masyarakat yang Latah: Desa Wisata Banyak yang Mangkrak

Desa Wisata Terbengkalai – Hampir semua berlomba-lomba membuat desanya menjadi desa wisata. Mengada-adakan sesuatu yang sebetulnya tidak ada. Seperti membuat spot foto di sana-sini. Seakan-akan desa wisata hanya sebatas pada spot foto saja, membuat aktivitas yang tidak selaras dengan kesehariannya, dan membuat program musiman. Saya sendiri cukup heran, kenapa hari ini semua desa ingin jadi desa wisata, padahal banyak sekali desa wisata yang mangkrak. Plang-plang ‘desa wisata’ sudah mulai menjamur di mana-mana, namun ketika kita mencoba datang ke lokasi tidak ada apa-apa. Masyarakat masih banyak yang latah.

Belum lama ini muncul wacana aneh dari Pemkab Gunungkidul. 1 November 2022 lalu Pemkab Gunungkidul melakukan rapat untuk meninjau ulang kawasan karst. Hasil rapat tersebut pemkab Gunungkidul mengusulkan pengurangan kawasan karst seluas 37.018,06 hektar, atau sekitar 48% dari total wilayah karst. Lagi-lagi tujuannya adalah kebutuhan pariwisata dan pembangunan infrastruktur untuk kesejahteraan rakyat.

Ekowisata Kali Talang, Ikon Desa Wisata Balerante Kabupaten Klaten

Saya sering bertanya-tanya mengapa sektor pariwisata hari ini seakan menjadi satu-satunya cara untuk meningkatkan ekonomi di Gunungkidul? Mengapa bukan dari sektor pertanian, peternakan, atau perikanan dulu yang dikembangkan? Bukannya Gunungkidul memiliki potensi pertanian yang besar? Bahkan sistem pertanian Gunungkidul pun sangat menarik untuk terus dikembangkan. Mengapa malah pariwisatanya dulu yang utamakan? Pertanian di lahan gersang.

Gunungkidul memang terkenal akan tanahnya yang tandus dan kering. Hal itu terjadi karena memang kondisi geografis Gunungkidul mayoritas adalah batuan karst. Namun segala keterbatasan yang dialami oleh masyarakat Gunungkidul tidak membuat orang-orang di dalamnya lantas berpangku tangan dan menyerah. Keterbatasan justru melahirkan berbagai siasat bertahan hidup yang sangat kreatif.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Gunungkidul memiliki etos kerja yang bagus. Bukan tanpa sebab, etos kerja keras orang Gunungkidul terbentuk karena keterbatasan yang dimiliki. Terutama dalam hal bercocok tanam. Pertanian subsisten atau pertanian tadah hujan, adalah sistem pertanian yang dianut oleh masyarakat Gunungkidul. Bertani paling utama untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga baru surplusnya dijual ke pasar. Karena hanya bisa menanam pada musim hujan orang Gunungkidul tetap punya cara untuk memaksimalkan hasil taninya. Menggunakan sistem bertani tumpang sari atau campur sari. Jadi di dalam satu lahan akan ditanami beragam jenis tanaman. Mulai dari padi, jagung, singkong, kacang panjang, kacang gude, orok-orok, dan masih banyak lagi. Sistem tumpang sari ini sudah digunakan selama puluhan tahun oleh orang Gunungkidul.

Potensi Desa Wisata Jimbung Kabupaten Klaten

Sistem pengawetan makanan dan lumbung pangan, mengingat hanya bisa bertani di musim penghujan, siasat lain seperti pengawetan bahan makanan juga dilakukan oleh masyarakat Gunungkidul. Salah satunya mengawetkan makanan dengan cara pengeringan. “Thiwul dan Gatot” dua makanan yang sangat identik dengan Gunungkidul. Dua makanan ini adalah produk budaya, dari respon orang-orang Gunungkidul memaksimalkan apa yang ada di sekitarnya. Dari singkong basah yang ditanam secara tumpang sari bersama padi dan jagung, akan dikeringkan sampai betul-betul kering atau biasa disebut gaplek. Setelah dikeringkan akan ditumbuk atau digiling dibentuk menjadi tepung. Nah dari bentuk tepung ini nantinya yang akan disimpan di pesucen (sebutan lumbung pangan di rumah). Tepung gaplek bisa disimpan hingga satu tahun ke depan. Ketika mau membuat thiwul untuk bahan pangan, tinggal diambil secukupnya dan dimasak. Sudah menjadi bahan pangan mandiri, paling tidak untuk kebutuhan karbohidrat.

Tidak hanya singkong yang akhirnya bisa disimpan sebagai cadangan makanan. Padi juga diperlakukan serupa. Usai masa panen, padi akan digiling dan dijemur hingga kering berbentuk gabah. Gabah yang betul-betul kering bisa disimpan tahunan. Nah, ketika butuh nasi, gabah kering baru akan digiling sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan.

Hal yang serupa juga dilakukan untuk komoditas lain seperti, jagung, gude, kacang ijo, jawut dan lain-lainnya. Dari bahan basah lalu dikeringkan dan disimpan di pesucen. Orang Gunungkidul pun tak perlu risau lagi terkait pangan walaupun hanya bisa menanam saat musim hujan saja. Menghidupi pekarangan

Kebutuhan pangan tentu saja tidak hanya karbohidrat. Perlu ada lauk pauk agar gizi tercukupi. Lagi-lagi orang Gunungkidul sudah punya cara untuk bisa terus hidup di tanahnya yang terkenal tandus. Jika diperhatikan, rata-rata setiap rumah di Gunungkidul punya pekarangan yang cukup luas. Di setiap pagarnya tumbuh berbagai tanaman, yang berjajar rapi. Entah turi, tayuman, atau mandhing.

Tanaman-tanaman ini tak hanya berfungsi sebagai tanaman pagar, namun juga sebagai cadangan bahan pangan. Aneka kebutuhan sayur-sayuran, biasanya akan dipenuhi dari pekarangan. Jika ladang akan dipenuhi tanaman karbohidrat dan kacang-kacangan. Di pekarangan biasanya akan ditanami tanaman sayur-sayuran dan empon-empon. Seperti cabai, pokak, jahe, laos, kunyit, mandhing, turi dan masih banyak lagi.

Tujuannya, tentu saja untuk memenuhi kebutuhan sayur mayur segar. Jika butuh bahan sayur-sayuran, tinggal memetik saja di pekarangan. Untuk itu muncul istilah ngramban (memetik dedaunan dari sekitar). Selain itu kebutuhan bumbu seperti empon-empon juga tinggal mengambil saja dari pekarangan.

Sebuah gambaran budaya Gunungkidul yang sudah ada turun-temurun sampai hari ini namun mulai berangsur menghilang. Sepertinya budaya bertani hingga pengolahan yang dilakukan oleh orang Gunungkidul, tidak dianggap sebagai suatu kekayaan oleh pemerintah. Bahkan mungkin berdaulat pangan ala orang Gunungkidul yang sejauh ini terjadi, tidak dinilai sejahtera tapi hanya suatu kekunoan dan primitif.

Sepertinya ukuran sejahtera versi pemerintah hari ini ketika bisa mendatangkan investor sebanyak-banyaknya. Membuka lahan seluas-luasnya, dan membangun hotel setinggi-tingginya. Berdaulat pangan tidak termasuk di dalamnya.

Jujurly, saya sendiri cukup dibuat bingung dengan ini. Bukankah biaya yang dikeluarkan untuk mengubah budaya masyarakat dari bertani ke pariwisata itu tidak murah? Selain mahalnya biaya infrastruktur karena harus membangun jalan, membangun penginapan, belum lagi membangun manusia di dalamnya, perlu berapa kali pelatihan dan kebutuhan konsumsi yang diperlukan untuk memasukkan materi-materi pariwisata ke masyarakat Gunungkidul? Saya kira tidak akan cukup 10 kali. Atau jangan-jangan memang bukan untuk orang Gunungkidul? Lalu kesejahteraan yang digembor-gemborkan sejahtera untuk siapa?

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *