dr. Yap Hong Tjoen

dr. Yap Hon Tjoen РYap Hong Tjoen, seorang dokter Tionghoa lulusan Universitas Leiden. Tangan dingin Yap Hong Tjoen membuat RS dr. Yap Prawirohusodo yang sebelumnya bernama Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders, menjadi rumah sakit khusus mata pertama yang ada di Indonesia. Yap Hong Tjoen adalah pria kelahiran Yogyakarta tahun 1885. Semasa mudanya, Yap Hong Tjoen menjalani pendidikan di sekolah khusus Tionghoa, sebelum melanjutkan studi ke ELS atau setara sekolah dasar. Setelahnya menempuh pendidikan tingkat HBS atau SMA di Semarang, Jawa Tengah. Yap Hong Tjoen kemudian melanjutkan sekolah kedokteran dk Leiden, Belanda. Yap Hong Tjoen tercatat menjadi generasi awal orang Tionghoa dan Hindia Belanda yang melanjutkan studi ke Belanda. Semasa di Belanda, Yap Hong Tjoen merupakan orang yang aktif berorganisasi. Terbukti Yap Hong Tjoen merupakan salah seorang pendiri organisasi Chung Hwa Hui, atau organisasi pelajar Tionghoa di Belanda.  Kiprah Yang Hong Tjoen juga termaktub dalam organisasi Indonesisch Verbond van Studeerenden, atau cikal bakal Perserikatan Pelajar Indonesia. Yap Hong Tjoen bersama dengan Soewardi Soeryaningrat atau dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara dan JA Jonkman aktif dalam dewan redaksi PPI tersebut.

Yap Hong Tjoen dikenal pula sebagai orang yang menyukai karya sastra dan seni lukis. Selain itu Yap Hong Tjoen juga diketahui menguasai tujuh bahasa seperti Belanda, Mandarin, Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol, Portugis hingga Bahasa Jawa. Selesai menempuh pendidikan di Belanda, Yap Hong Tjoen pun pulang ke Yogyakarta. Sebagai seorang dokter spesialis mata, Yap Hong Tjoen mempunyai keinginan untuk mengamalkan ilmu guna menolong masyarakat dari penyakit mata dan kebutaan. Bersama sejumlah temannya, Yap Hong Tjoen pun mendirikan Centrale Vereeniging tot Bevordering der Oogheelkunde in Nederlandsch-Indie (CVO). CVO didirikan dan dicatatkan ke notaris di Batavia tahun 1920. CVO memiliki tujuan untuk menolong penderita penyakit mata, memberantas kebutaan, memerbaiki nasib tunanetra dan memajukan ilmu tentang kesehatan mata. CVO kemudian mengamanahkan amanat ke Yap Hong Tjoen untuk mendirikan sebuah rumah sakit khusus mata. Sebelum mendirikan rumah sakit, sepulang dari Leiden, Yap Hong Tjoen sempat membuka sebuah klinik di daerah Gondolayu, Kota Yogyakarta. Yap Hong Tjoen pun kemudian mendirikan sebuah rumah sakit mata yang dinamai Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders. Pembangunan dilakukan pada tahun 1922. Pada 29 Mei 1923, rumah sakit Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu. Yap Hong Tjoen dikenal sebagai sosok dokter yang humanis. Yap Hong Tjoen selain praktik di rumah sakit, juga kerap melakukan blusukan ke desa-desa untuk mengobati masyarakat terutama untuk penyakit mata. Yap Hong Tjoen juga mendirikan Voerstenlandsch Blinded Instituut atau sebuah balai perawatan dan pelatihan bagi tunanetra. Balai ini didirikan pada tahun 1927 dan dinamai Balai Mardi Wuto. Di Balai Mardi Wuto ini orang tunanetra diberikan pelatihan dan keterampilan. Seperti membaca braille, membuat kerajinan, pelatihan pijat dan lain-lainnya. Di tahun 1942 Jepang mulai masuk ke Indonesia. Kedatangan Jepang ini membuat rumah sakit harus berganti nama. Jepang kala itu tak menginginkan nama berbau Belanda di Indonesia. Hal ini membuat nama Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders berganti nama menjadi RS dr. Yap.

Baca juga : Wisata Lava Tour Merapi

Di masa pendudukan Jepang, Yap Hong Tjoen beberapa kali harus berurusan dengan militer. Yap Hong Tjoen kerap dicurigai sebagai mata-mata. Tak hanya itu, Yap Hong Tjoen juga kerap dituding memberikan bantuan kesehatan kepada tentara. Meskipun Yap Hong Tjoen merupakan seorang dokter spesialis mata tapi beliau tahu bagaimana menangani pasien yang misalnya patah atau terkena tembak. Beliau juga secara sembunyi-sembunyi memberikan bantuan perawatan kepada para pejuang. Tahun 1948, Yap Hong Tjoen mengundurkan diri sebagai Direktur RS. Dr Yap. Jabatan Yap Hong Tjoen diteruskan oleh anak keduanya yaitu Yap Kie Tiong yang juga merupakan seorang dokter mata. Kemudian Yap Hong Tjoen bersama istri dan anaknya pun memilih untuk tinggal di Belanda. Sementara Yap Kie Tiong menjabat sebagai direktur hingga meninggal dunia di tahun 1969.(Sumber: https://www.merdeka.com/histori/cerita-dokter-mata-yap-hong-tjoen-gratiskan-pengobatan-dan-beri-pasien-uang.html)

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di (0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *