Dugderan Semarang Sebuah Tradisi Perayaan Bulan Ramadan

Dugderan Semarang Sebuah Tradisi Perayaan Bulan Ramadan – Kearifan lokal merupakan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh masyarakat lokal tentang lingkungan dan budayanya. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan atau tertulis, dan merupakan hasil dari interaksi yang panjang antara manusia dengan lingkungannya. Secara etimologi, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Kearifan lokal disebut juga dengan kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge), dan kecerdasan setempat (local genious) (Njatrijani, 2018). 

Kota Semarang, kota yang kaya akan budaya dan sejarah dimana telah mengalami perkembangan sepanjang 471 tahun terakhir. Kota Semarang memiliki berbagai potensi dan warisan budaya baik benda maupun tak benda yang telah diwariskan secara turun-temurun. 

Dugderan merupakan tradisi perayaan penyambut bulan Ramadan yang biasa dilakukan oleh umat Islam di Semarang, Jawa Tengah. Dugderan berasal dari kata “dugder” yang diambil dari perpaduan bunyi bedug “dug dug” dan bunyi meriam “der”. Tradisi Dugderan telah dilestarikan sejak tahun 1881 dan menjadi salah satu ikon budaya Kota Semarang. Tradisi ini juga menjadi pesta rakyat tahunan bagi masyarakat Semarang. Selain itu, Tradisi Dugderan dimaksudkan untuk menyatukan masyarakat dalam suasana gembira, memungkinkan mereka untuk bersama-sama, berinteraksi, dan saling menyapa tanpa memandang perbedaan.

Konon, dahulu terdapat perbedaan pendapat dalam menentukan hari dimulainya bulan puasa. Oleh karenanya, Kanjeng Bupatei Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat mengusulkan penentuan bulan puasa dengan membunyikan bedug Masjid Agung dan membunyikan meriam bambu di halaman kabupaten sebanyak tiga kali. Namun, sebelum membunyikan bedug dan meriam, dilakukan upacara di halaman kabupaten. 

Pelaksanaan Dugderan terdiri dari dua rangkaian, yaitu Pasar Dugderan dan Kirab Dugderan. Pasar Dugderan dilaksanakan selama satu minggu hingga sepuluh hari penuh mulai dari siang hingga malam hari. Biasanya dilaksanakan sebelum rangkaian Kirab Dugderan dan berlokasi di Pasar Johar atau sekitar Alun-Alun Kauman Semarang. Di dalam Pasar Dugderan terdapat pesta kuliner di sepanjang Alun-Alun Kauman dan wahana permainan seperti pasar malam. 

Pada tradisi Dugderan ini terdapat Warak Ngendok, yaitu maskot berukuran raksasa yang diarak keliling jalan raya setiap menjelang perayaan Dugderan. Dalam kajian oleh Njatrijani (2018), Warak Ngendok berasal dari dua kata, yaitu Warak (bahasa arab Wara’i) yang berarti suci dan Ngendog yang berarti bertelur. Warak Ngendog artinya siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadan akan mendapat pahala di hari Raya. Warak Ngendok menjadi maskot dan menggambar citra masyarakat Kota Semarang yang terbuka, lurus, dan berbicara apa adanya. 

Dugderan adalah tradisi budaya yang unik dan penting bagi masyarakat Semarang. Tradisi ini bukan hanya sebagai penanda awal Ramadan, tetapi juga menjadi simbol keragaman budaya dan kearifan lokal Kota Semarang.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di (0812-3299-9470).

Baca juga : Desa Pujon Kidul Studi Kasus Pariwisata Berkelanjutan

Sumber: 

Njatrijani, R. (2018). Kearifan lokal dalam perspektif budaya Kota Semarang. Gema keadilan5(1), 16-31.

https://gayamsari.semarangkota.go.id/berita/sejarah-dugderan-menyambut-bulan-ramadhan-di-kota-semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *