ECOLODGE SEBAGAI SARANA AKOMODASI PARIWISATA BERKELANJUTAN

Akomodasi khusus kini bukan hanya mengedepankan aspek keuntungan ekonomi dan kepuasan wisatawan, namun sesuai dengan konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan fisik maupun sosial budaya, salah satu bentuknya adalah ecolodge. Terminologi “ecolodge” diluncurkan secara formal pada First International Ecolodge Forum and Field Seminar yang diadakan pada 1994 di Maho Bay Camps di Virgin Islands, Amerika Serikat. Ecolodge adalah fasilitas akomodasi, dengan 5-75 kamar, yang memiliki dampak kecil pada alam, finansialnya berkelanjutan, dan membantu melindungi kawasan sekitar yang sensitif, melibatkan dan menguntungkan bagi komunitas lokal, menawarkan pengalaman interpretatif dan interaktif, memberikan rasa kebersamaan dengan alam dan budaya, direncanakan, didesain, dibangun, dan bertindak dengan cara yang dapat diterima secara ekologi dan sosial (Blangy & Mehta 2006).

Ecolodge adalah fasilitas akomodasi pariwisata yang memenuhi kriteria di antaranya adalah: Melindungi lingkungan sekitar, baik alam dan budayanya; memiliki dampak minimal pada alam di sekelilingnya selama pembangunannya; sesuai dengan konteks fisik dan budaya melalui perhatian pada bentuk, lansekap dan warna, serta penggunaan arsitektur lokal; menggunakan sarana yang berkelanjutan untuk perolehan air dan mengurangi konsumsi air; menangani dengan hati-hati pembuangan limbah padat dan limbah lainnya; mendapatkan kebutuhan energinya dengan desain pasif dan mengkombinasikannya dengan rekan-rekannya untuk keberlanjutan yang lebih besar; mengupayakan untuk bekerja bersama dengan komunitas lokal; menawarkan program interpretatif untuk mendidik, baik pegawai dan wisatawan, seputar lingkungan alam dan budaya sekeliling; berkontribusi pada pengembangan lokal berkelanjutan melalui program penelitian.

Ecolodge memiliki beberapa karakteristik dalam manajemennya, yaitu: menyediakan on-the-job training pada anggota komunitas dan pemandu lokal, mempekerjakan staf yang mayoritas berasal dari masyarakat lokal, dan menghindari memberi tanggung jawab kunci pada orang-orang yang terlatih dari kota atau ekspatriat; mengadakan program bahasa kedua setelah jam kerja (untuk membantu staf dalam berbicara dengan bahasa tamu yang berkunjung) menggunakan masyarakat lokal yang sarjana dengan keahlian dalam pelatihan bahasa, membuat tamu berkontribusi pada pendidikan staf dan proyek pengembangan komunitas yang meliputi pendidikan atau kesehatan, mendorong anggota komunitas yang tertarik untuk mengkomunikasikan pengetahuan mereka tentang area sekitar, sembari menyemangati pemandu lokal untuk berbaur dengan tamu selama jam komunal; mendukung pengalaman belajar tamu melalui kunjungan pada peternakan lokal, pembibitan, proyek reboisasi, peternakan kupu-kupu dan upaya-upaya lainnya untuk mempromosikan keberlanjutan di sebuah daerah; mempromosikan sebuah sistem untuk tamu agar dapat berkontribusi secara finansial untuk pelestarian area alami di daerah tersebut; bersikeras untuk mendaur ulang apapun, dari meja hingga plastik, kertas, dan besi, menggunakan energi alternatif dimanapun yang memungkinkan; menggunakan deterjen yang biodegradable dan menghindari penggunaan racun kapanpun yang memungkinkan, dan yang terakhir adalah tidak mengurung hewan-hewan eksotik di daerah tersebut.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *