EKOWISATA SEBAGAI BENTUK ADAPTASI MASYARAKAT LIANG NDARA PADA PARIWISATA

Selama lebih dari sepuluh dekade pariwisata bertumbuh menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dengan tingkat pertumbuhan tercepat di dunia. Melalui penerimaan devisa, penciptaan lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha, serta pembangunan infrastruktur, pariwisata menjadi salah satu penggerak utama kemajuan sosio- ekonomi suatu negara. Kendati demikian, di sisi lain pariwisata juga menjadi pedang bermata dua (McKercher & Du Cros, 2002). Pariwisata berkelanjutan didefinisikan oleh UNWTO sebagai pariwisata yang memperhi tungkan secara penuh dampak ekonomi, sosial dan lingkungan sekarang dan yang akan datang, menjawab kebutuhan pengunjung, industri pariwisata, lingkungan dan komunitas lokal.

Terdapat cukup banyak definisi ekowisata. Kendati demikian umumnya orang memahami ekowisata sebagai sebuah alternatif pariwisata yang berbeda (opposite) dengan jenis pariwisata pada umumnya yang mengandung sisi negatif. Ekowisata dicirikan oleh usaha-usaha untuk meminimalisir dampak negatif terhadap ling kungan dan sosio kultural masyarakat. Dalam ekowisata ada usaha konservasi, perlindungan dan perbaikan kualitas sumber daya yang justru fundamental bagi pariwisata itu sendiri. Di dalam ekowisata juga terdapat usaha untuk mendorong pertumbuhan infrastruktur dan atraksi yang berakar pada tradisi dan kearifan lokal penduduk setempat. Melalui ekowisata diharapkan agar keuntungan ekonomi yang diperoleh berjalan beriringan dengan usaha-usaha untuk melin dungi sumber daya yang dimiliki. Keuntungan ekonomi tersebut harus dirasakan oleh sebanyak mungkin orang, bukan hanya milik orang tertentu.

Beberapa informan pada awalnya bahkan memiliki kecemburuan atas kesuksesan orang-orang di sekitar kota Labuhan bajo yang sebagian di antaranya bukan penduduk asli Manggarai Barat. Kecemburuan ini kemudian berubah menjadi tantangan yang justru menurut (Gudykunts, 2003) penting dalam proses adaptasi. Masyarakat desa Liang Ndara melakukan dua tahap adaptasi sebagaimana yang dikemukakan oleh Kim (2017) yaitu cultural adaptation dan cross cultural adaptation. Dalam cultural adaptation terjadi proses dasar komunikasi di mana terdapat pemberi pesan, medium dan penerima pesan yang mana selanjutnya terjadi proses encoding dan decoding. Proses ini terjadi ketika individu pindah ke lingkungan yang baru di mana orang dari lingkungan yang baru mengiriman pesan yang dapat dipahami oleh pendatang. Proses ini disebut enkulturasi. Masyarakat desa Liang Ndara memasuki suatu lingkungan baru yakni pariwisata. Berbagai pembangunan dan aktivitas pariwisata yang mereka amati memberikan pesan yang kuat bahwa terdapat banyak peluang untuk mendapatkan keuntungan dari sektor ini.

Masyarkat desa Liang Ndara berhasil memperoleh keuntungan dari pariwisata dengan mengembangkan ekowisata. Daya tarik yang ditawarkan kepada para wisa tawan adalah aktivitas kehidupan sehari-hari yang tradisional disertai dengan kekayaan budaya yang dimiliki. Melalui Lembaga Ekowisata Riang Tana Tiwa yang menjadi pelopor ekowisata di desa tersebut, masyarakat desa dapat beradaptasi terhadap fenomena global budaya pariwisata. Mereka mampu menangkap peluang keuntungan finansial sekaligus melestarikan budaya dan ekologi. Melalui ekowisata mereka beradaptasi terhadap pariwisata. Keberhasilan yang dicapai saat ini tentu saja melalui perjuangan yang tidak mudah. Beberapa hal kunci dalam keberhasilan desa Liang Ndara menjadi destinasi ekowisata antara lain adanya sensitivitas atau kepekaan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar mereka. Kepekaan ini memampukan mereka membaca peluang pariwisata yang ada terutama karena letak desa ini yang tidak jauh dari Kota Labuhan Bajo sebagai pintu gerbang menuju TNK Komodo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *