Eksistensi Pepes sebagai Identitas Kuliner Desa Walahar

Desa Walahar merupakan salah satu desa di Kabupaten Karawang yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Desa Walahar sering disebut desa wisata, karena terdapat peninggalan zaman Belanda berupa Bendungan Walahardi Sungai Citarum yang digunakan untuk mengairi sawah sejak tahun 1925 hingga sekarang.

Masakan Indonesia terkenal dengan rempah-rempah yang dihasilkan dari rempah-rempah, serta penggunaan teknik memasak yang khusus untuk bahan dan tradisi/adat Indonesia. Tiap-tiap daerah memiliki rasa yang berbeda sebagai cita rasa khasnya. Pepes ini makanan dari Desa Wakahar, Karawang yang merupakan suku Sunda. Pepes ini sudah ada sejak jaman kerajaan. Pepes merupakan makanan yang dibungkus untuk menjaga makanan agar tetap awet.

Sejatinya pepes sudah terdapat pada prasasti Trunyan B dari Bali Kuno 833 Saka (911 M) yang menyembang pada dewa api amni, tertulis persembahan makanan dari Desa Air Rawang berupa 30 pepes ikan nyalian, biasanya ikan sudah biasa dilakukan dengan cara di pepes oleh masyarakat Bali Kuno. Pepes sebenarnya bukan nama masakan, melainkan aluminium foil (pada zaman sekarang) sehingga pepes itu diartikan sebagai metode penghangatan pada makanan (Hardiansyah, 2021). Menurut pernyataan tersebut, pepes merupakan makanan Nusantara yang sudah ada pada masa zaman kerajaan yang dikembangkan secara turun temurun dan menyesuaikan sesuai letak geografisnya. Oleh karena itu, isi dari pepes adalah ikan, mengingat di Bali maupun di Sunda berada di pinggir sungat, sehingga memanfaatkan ikan. Tapi sekarang bahan yang digunakan tidak hanya ikan saja, namun bisa menggunakan bahan lain, seperti ayam, oncom, tahu dll.

Emin (2021) menyatakan bahwa pepes merupakan Khas Sunda, namun untukdi Karawang terkenalnya Pepes Walahar. Hal ini didukung karena berada di wilayah Walahar serta terdapat bendungan Walahar.  Dulunya ikan yang berada di walahar cukup memadai sehingga warga sekitar mencari nafkah dari situ dengan mencari ikan, kemudian dijual dalam bentuk olahan seperti pepes.

Pada hakikatnya masakan tradisional merupakan salah satu aspek budaya yang memiliki peran cukup menonjol, karena makanan berhubungan dengan pembiasaan tubuh,khususnya lidah.  Menurut Emin(2021) kisah kearifan lokal budaya masyarakat pasundan tertuang dalam naskah sunda kuno yang berbunyi, Kemudian terampil memasak: Ikan paray dikembangkan lopang, udang dimasak kembang dadap, ikan hiu di pepes bari, ikan lele di bumbu cobek, ikan gabus dipanjel-panjel, ikan hikeu dileuleunjeur, ikan kancra dilaksa-laksa, sisiknya dibuat raramandi, tulangnya dibantu rangu, siripnya dirokotoy.

 Dalam budaya sunda, masyarakat Sudna tidak bolehmembuang makanan, karena mereka percaya setiap makanan terdapat berkahnya. Sehingga makanan yang tersisa disimpan dengan cara dibungkus, seperti nasi yang tidak habis akan dibungkus daun pisang dan besoknya akan dibakar, maka jadilah nasi bakar. Unsur budaya yang terdapat pada pepes sudah ada secara turun menurun yang mengajarkan  kepada anak-anaknya dari orangtua agar alam yang berlimpah tidak terbuang dan memanfaatkan alam sekitar sehingga dibuat dengan cara dipepes.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *