Eksplorasi Pengalaman Pariwisata Kesehatan dalam Membentuk Keterlibatan Wisatawan

Eksplorasi Pengalaman Pariwisata Kesehatan dalam Membentuk Keterlibatan Wisatawan – Dunia pariwisata saat ini tengah berkembang, ditandai dengan ditemukannya konsep pariwisata baru yang belum pernah ada sebelumnya. Konsep tersebut ialah wellness tourism atau pariwisata kesehatan. Istilah ini muncul karena adanya perkembangan paradigma dari para wisatawan yang sekarang tidak hanya mencari liburan namun juga pengalaman transformatif untuk kesejahteraan mereka. Untuk itulah wellness tourism muncul, karena konsep wisata ini berfokus pada pengembangan kesehatan fisik, mental, dan spiritual yang memberikan pengalaman wisata yang unik dan lebih berkesan. Meskipun kebutuhan akan kesehatan mental dan spiritual setiap orang berbeda.

Wellness tourism muncul setelah menguatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan akibat dari pandemi (Kemenparekraf, 2022). Berdasarkan Global Wellness Institute Tahun 2017, Indonesia memiliki potensi pasar wisata kebugaran yang besar, dibuktikan dari Indonesia menempati peringkat ke-17 sebagai pasar tujuan wisata kebugaran dan pasar terbesar kedua di wilayah Asia Tenggara yang mampu menciptakan 1,31 juta tenaga kerja (Kemenparekraf, 2022).

Melihat potensi wellness tourism yang besar, Indonesia menyusun Rencana Aksi Nasional 2022 – 2026 guna menjadi acuan dan pedoman dalam pembangunan pariwisata kesehatan (wellness tourism). Produk wellness Indonesia sangat melimpah, bisa berasal dari alam, rempah-rempah, tradisi kesehatan herbal, budaya, makanan sehat, jamu, dan spa. Belakangan ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu wellness tourism bagi kelas dunia, dimana ada tiga kota dengan wellness tourism terbaik, yaitu Bali, Yogyakarta, dan Solo (Kemenparekraf, 2019).

Bali terkenal dengan banyaknya Ubud yang memiliki 74 spa hingga Bali dikenal sebagai destinasi spa terbaik di dunia (Fatihah & Rusmaningsih, 2023). Kota Solo memiliki brand Solo Welleness City, The City of Java Wellness yang dicirikan dengan beragamnya aktivitas kebugaran bernuansa lokal seperti spa, yoga, meditasi, berenang, bersepeda, dan sebagainya (Imanulhaq, 2021 dalam Fatihah & Rusmaningsih, 2023). Sementara Kota Yogyakarta menginisiasi wellness tourism melalui event Jogja Cultural Wellness Festival di tahun 2023. Acara ini mengusung filosofi Jawa Olah Saliro, Roso, Lan Pikir atau olah sikap diri, rasa, dan pikiran melalui keseimbangan tubuh, pikiran, serta jiwa pada manusia.

Saat ini, mayoritas wisatawan cenderung berwisata pada minat khusus, yaitu mencari destinasi wisata yang bisa untuk relaksasi melalui keindahan alam atau kegiatan yang bisa memulihkan diri. Adanya motivasi wisatawan untuk berkunjung berpengaruh kepada peningkatan loyalitas kunjungan wisatawan. Motivasi berwisata (travel motivation) tercipta karena adanya dorongan diri untuk melakukan tindakan guna memuaskan kebutuhannya (Kim et al, 2016 dalam Fatihah & Rusmaningsih, 2023). Terciptanya dorongan atau motivasi wisatawan untuk melakukan wellness tourism sangat penting karena akan membuat wisatawan memiliki keterlibatan (tourist engagement) dengan apa yang ditawarkan di destinasi wisata, hal ini dapat membuat wisatawan ingin berkunjung kembali di lain waktu. Tourism engagement adalah keterlibatan secara emosional wisatawan dengan daya tarik wisata yang dikunjunginya. Untuk itu, pelaku industri pariwisata harus melakukan inovasi bentuk aktivitas tourism wellness terutama pada pengalaman berwisata (experiental engagement) yang dapat mendorong keterlibatan wisatawan.

Baca juga : Wisata Tradisi Indonesia Makin Sepi Generasi Muda Tergoda Globalisasi

Dalam era globalisasi ini, isu-isu pariwisata menjadi topik yang semakin relevan dan memerlukan perhatian mendalam. Kami PT Kirana Adhirajasa Indonesia, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan, kami memahami bahwa industri pariwisata tidak hanya mencakup aspek hiburan semata, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi, budaya, dan lingkungan. Untuk penyusunan penelitian, hubungi (0812-3299-9470).

Sumber:

Alatas, B.I. (2022). Kemenparekraf Siapkan Pedoman Pembangunan “Wellness Tourism” 2022-2026. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/3046697/kemenparekraf-siapkan-pedoman-pembangunan-wellness-tourism-2022-2026

Fatihah, W. O., & Rusmaningsih, P. N. (2023). How travel motivation and engagement can boost loyalty to wellness tourism in Yogyakarta. Jurnal Pariwisata Pesona, 8(1).

Kemenparekaraf. (2019). Skenario perjalanan wisata kebugaran di Joglosemar, Bali dan Jakarta.

Kemenparekraf. (2022). Siaran Pers: Menparekraf: Wellness Tourism Kunci Pemulihan Sektor Parekraf Nasional dan Global. Diakses dari https://kemenparekraf.go.id/berita/siaran-pers-menparekraf-wellness-tourism-kunci-pemulihan-sektor-parekraf-nasional-dan-global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *