Etnopedagogi Suku Bajo dalam Tayangan Film Dokumenter “The Bajau”

Etnopedagogi Suku Bajo – Ada beberapa nilai etnopedagogi yang terdapat dalam tayangan film dokumenter “The Bajau”. Nilai tersebut digambarkan secara jelas oleh Watchdoc sebagai nilai kebudayaan warisan dari leluhur kepada generasi muda. Ada empat data nilai etnopedagogi yang didapatkan dalam tayangan film dokumenter “The Bajau” yaitu, ritual penolak bala, cara bertahan hidup di atas laut, gotong royong sesama pelaut, serta pantangan.

Salah satu ritual yang dilakukan oleh suku Bajo adalah ritual penolak bala. Ritual dengan mengorbankan penyu merupakan sebuah hal unik yang tidak dapat ditemukan pada suku lain. Hal ini dikarenakan mereka hidup di atas laut sehingga ritual-ritual yang dilakukan harus berhubungan dengan laut. Ritual pengorbanan penyu ini dilihat pada awal-awal tayangan yaitu beberapa masyarakat membawa perahunya ke tengah laut dengan membawa satu ekor penyu. Hal itu dilakukan oleh tetua dari sekelompok masyarakat tersebut.

Membawa seperangkat peralatan ritual seperti kemenyan dan arang. Kemudian menyembelih penyu di atas perahu dengan mengucapkan mantra-mantra. Namun, ada hal yang menyedihkan yaitu seekor penyu disembelih, tangan, kaki, dan cangkang dipisah-pisah, dan dagingnya dicacah sampai halus kemudian dicampur dengan nasi yang diletakkan di atas cangkang penyu. Kemudian, semua itu ditenggelamkan ke laut sebagai bentuk penolak bala agar masyarakat suku Bajo di sana selalu diberikan perlindungan oleh tuhan. Data di atas dibenarkan dengan berita tentang film dokumenter “The Bajau” bahwa upacara ada menjadi hal menarik yang ditayangkan di awal pemutaran film yang mana dalam film tersebut menayangkan ritual menyembelih seekor penyu sebagai tumbal penolak bala.

Ritual penolak bala ini juga diwariskan dari generasi ke generasi karena seperti yang sudah diketahui bahwa suku Bajo semua kehidupannya bergantung kepada lautan. Jadi, ritual untuk berterima kasih kepada laut sangat lumrah dilakukan oleh mereka. Seperti pada penelitian Akhmad Mahardi yang mengatakan bahwa ritual semacam itu sudah menjadi kepercayaan umum suku Bajo dan jika dilanggar atau diabaikan akan berdampak pada penghasilan laut yang dicapai bahkan bisa keselamatan nelayan suku Bajo di laut. Bertahan hidup di atas laut memang sebuah keahlian yang paling banyak dikenal orang dari suku Bajo. Oleh karena itu, suku Bajo dipandang sangat dekat dengan laut. Dengan begitu, hal yang perlu dikaji lebih dalam adalah suku Bajo dan laut saat ini dapat dipandang sebagao budaya, sumber mencari nafkah ataupun sarana pelestarian lingkungan.

Baca juga : Analisis Pekerja Industri Kreatif di Indonesia: Tren, Tantangan, dan Peluang

Dinamika mengenai suku Bajo yang tidak dapat dilepaskan dengan lautan menjadikan sebuah kajian mengenai suku Bajo sangat menarik. Di bawah ini disajikan data-data yang ditemukan sebagai bukti bahwa lautan menjadi tempat kehidupan dari suku Bajo dan bagaimana suku Bajo dapat bertahan hidup di tengah lautan. Meskipun suku Bajo hidup di lautan, bukan berarti itu membuat mereka menjadi manusia yang individual. Ada kebiasaan yang membuat suku Bajo atau sesama pelaut menjalin kerukunan di atas laut ketika sedang mengembara. Pengembaraan bisa dilakukan berminggu-mingu. Jadi, masyarakat suku Bajo akan tinggal di laut dalam waktu yang lama. Ada saatnya mereka akan dipertemukan dengan sesama suku Bajo untuk saling berinteraksi atau saling melengkapi ketika masyarakat lain mengalami permasalahan entah itu perahu yang rusak atau bekal makanan yang menipis. Mereka tetap saling membantu satu sama lain. Hal ini ditunjukan dalam film dokumenter “The Bajau”, yaitu menggambarkan beberapa nelayan yang saling bertemu di malam hari.

Tampak jelas di dalam film tersebut digambarkan seorang lelaki yang membakar ikan di atas perahunya dan meminta nasi kepada teman sesama pelaut. Mereka tampak akrab dan bergurau di atas perahu masing-masing. Selain itu, perempuan yang memberikan nasi tersebut kehabisan air minum sehingga meminta air minum kepada orang yang sudah diberikan nasi tersebut. Hal tersebut juga terjadi pada masyarakat suku Bajo lainnya. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh (Susiati, 2019), juga mengatakan bahwa suku Bajo merupakan suku yang terkenal sebagai suku yang ringan tanga nata mudah memberi. Hal ini menandakan interaksi sosial antara suku Bajo atau sesama nelayan masih terjadi begitu baik.

Dalam setiap aktivitas, ada kegiatan yang dikenal dengan Bapongka atau melaut selama beberapa minggu bahkan bulan. Selama kegiatan tersebut berlangsung ada nilai kearifan lokal yang selalu dipercayai oleh masyarakat suku Bajo yaitu berupa pantangan. Pantangan tersebut seperti, membuang arang dari kayu bekas memasak, air bekas cucian beras, air cabai, ampas kopi, kulit jeruk, air jahe dan abu sisa pembakaran. Hal itu dipercaya akan merusak kelestarian laut.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di (0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *