Filosofi dan Makna Omo Sebua

Omo sebua (rumah adat besar) merupakan rumah tradisional/rumah adat suku Niasa yang dihuni oleh raja beserta keluarga dan keturunannya. Rumah in memiliki perbedaan dengan rumah adat biasa, atau rumah adata yang dihuni oleh masyarakat biasa.  Omo sebua ini memiliki ukuran lebih luas, yakni kurang lebih 300 m2, dengan tinggi rumah mencapau 22 m, diameter tiang penyangga rumah kurang lebih 1 m. Selain itu, yang membedakan adalah di rumah adat in terdapat ornamen-ornamen ukiran dinding, serta koleksi tanduk rusa dan gigi babi hutan yang tersusun rapi pada satu tiang yang merupakan hasil buruan, melambangkan kehebatan raja yang tidak ditemukan di rumah adat biasa.

Rumah adat ini dibangun atas dasar keinginan raja untuk memiliki rumah yang terbuat dari kayu di gunung yang memiliki pemandangan sangat indah. Rumah ini dibangun setelah adanya musyawarah desa (orahua) yang menyetujui untuk membangun rumah adat yang juga nantinya akan digunakan sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya. Akhirnya rumah ini dibangun secara gotong-royong dan tetap mengunakan tukang, dimana masyarakat membantu mengangkat bahan yang dipakai atau digunakan. Karena bahan yang digunakan berukuran besar, seperti tiangnya dan tempat duduk “danedane”.

Rumah adat ini dibangun menggunakan jenis kayu yang tahan lama dan sudah terpilih, seperti berua, manawadano, afoa, mosihilidano, kafini, simandraolo dan masih banyak lagi. Uniknya, rumah adat ini dibangun tanpa paku, tetapi dengan melubangi salah satu ujung kayu dan kemudian kayu yang satu dihubungkan dengan kayu tersebut, atau dengan menggunakan kusikus ’kayu kecil’ yang sudah di runcingkan sebagai pengganti paku.

Setiap rumah adat yang dibangun semestinya mempunyai makna, baik makna kultural, naratif, maupun filosofis akan bentuk adat.  Adapun makna dari bentuk rumah adat ini adalah sebagai berikut:

  1. Bure dan talina mbumbu, ini merupakan hiasan atau biasa juga dikatakan sebagai mahkota kerajaan atau sebagai tanda bahwa pemilik rumah itu adalah raja. Bure memiliki makna penahan angin, sedangkan talina mbumbu memiliki makna sebagai alat pendengar, yang maksudnya jika ada berita atau informasi tentang kejadian di kampung tersebut baik menganai hal baik atau hal buruk semuanya wajib didengar dan diketahui oleh raja. Adapun makna filosofisnya bure merupakan tingkatan kejayaan seseorang, karena bure berupa mahkota kerajaan (kekayaan) yang hanya dimiliki orang tertentu. Sedangkan talina mbumbu adalah lambang yang menunjukkan bahwa setiap hal yang terjadi di desa baik yang baik maupun buruk, maka sebagai raja harus mengetahuinya. Untuk itu, talina mbumbu ini hanya terdapat di rumah raja.
  2. Sago nomo hada (atap rumah adat), makna kultural dan naratif dari ini adalah dibuat memanjang keatas dengan tujuan agar terhindar dari perkarangna angin atau dengan makna lain agar atapnya tidak mudah busuk karena airnya tidak tertahan. Sementara itu, makna filosofis dari ‘sago’ yakni untuk menghindari cepat busuknya atap dari air hujan.
  3. Lawa-lawa (jendea atap), makna kultural dan naratif dari ‘lawa-lawa’ yaitu sebagai pengambilan cahaya dan angin, supaya dalam ruangan tersebut terang. Adapun makna lain dari ‘lawa-lawa’ ini adalah sebagai tempat dewi silewe saat melakukan moere “mogaele” saat ada acara besar. Adapun makna filosofis dari ‘lawa-lawa’ yakni sebagai jendela kedua rumah adat agar didalam rumah adat tersebut lebih terang dan juga sebagai tempat untuk melihat apa yang terjadi di kejauhan rumah.
  4. Jara-jara nomo hada (jendela), makna kultural dan naratif dari ‘jara-jara’ yaitu sebagai jendela namun memiliki makna lain seperti melihat pekarangan di depan rumah. ‘jara-jara’ dirumah adat besar itu besi, tapi jika dirumah adata biasa semuaya paku kayu atau Adapun makna filosofis dari ‘jara-jara’ ini sebagai jendela dan dengan bentuk seperti itu untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti anak jatu dan masuknya pencuri.
  5. Sikholi nomo hada, makna kultural dan naratif dari ‘sikholi’ yaitu sebagai motif namun ada juga makna lainnya yaitu merupakan tanda kekuatan setiap rumah karena sikholi ini yang mengangkut semua bagian rumah adat. Adapun makna filosofisnya yakni sebagai tanda bahwa pemilik rumah adat itu memiliki kekuasaan dan kejayaan.
  6. Hare-hare (rak ‘tempat barang’), makna kultural dan naratif dari hare-hare ini adalah sebagai tempat penyimpanan barang, sedangkan makna filosofisnya adalah sebagai tempat penyimpanan barang untuk tamu.
  7. Danedane (tempat duduk), makna kultural dan naratif dari ‘dane-dane’ adalah sebagai tempat duduk atau tempat santai saat melihat pekarangan diluar rumah atau halaman rumah. Adapun makna filosofis dari ‘dane-dane ini merupakan penghargaan/ kehormatan yang diberikan kepada raja dan untuik memperjelas jabatan seseorang.
  8. Bati ba ahembato, makna kultural dan naratif dari bato ahembato adalah sebagai tempat tidur atau tempat duduk dan sebagai tempat tamu tidur , di bato itu tidak semabrang orang memakai sandal. Sedangkan ahembato sebagai lantai biasa yaitu tempat kaki berpijak atau lantai biasa, disini orang bebas memakai sandal atau menaruh barang orang lain. Adapun makna filosofis dari ‘bato’ adalah tamu yang menginap dirumah tidak diijinkan tidur dibelakang, sedangkan ‘ahembeto’ sebagai lantai biasa.
  9. Naha nawunomo hada (dapur depan dan belakang), makna kulturan dan naratif pada dapur adalh jika ada tamu yang bermalam maka makan tamu itu dimasak disitu, ataupun jika ada acara keluarga maka mereka masak di dapur itu. Adapun makna filosofis dari ‘nahanawu’ yakni agar dirumah adat tersebut tidak mondar-mandir dibelakang untuk memasak maka raja membuat satu dapur didepan.
  10. Bawandruho nomo hada (pintu rumah adat), makna kulturan naratif dari ini adalah bermakna agar setiap yang masuk ataupun keluar wajib memberikan salam kepada pemilik rumah dengan menundukkan kepalanya. Adapun makna filosofisnya yaitu untuk membuat orang yang akan masuk memberi hormat dengan menundukkan kepada kepada pemilik rumah tersebut.
  11. Lala feamoi baomo (jalan masuk kerumah), bermakna jalan yang diletakkan di bawah rumah karena tiangnya terlalu tinggi jadi jika jalannya diletakkan di samping rumah raja takut jika ada yang jatuh bisa mati, maka raja memberikan jalan dibawah, dengan makna lain agar orang yang masuk dirumah itu harus dari depan. Adapun makna filosofisnya yaitu untuk menghindari dari ketinggian dan kesulitan saat seseorang memasuki rumah adat.
  12. Ehomo dan ehomo driwa (tiang dan tiang penyangga), ehomo sebagai tiang rumahnya agar tidak langsung bersentuhan dengan tanah, sedangkan ‘driwa’ tiang penyangga atau makna lainnya adalah sebagian tiang pertahanan jika ada gempa atau angin rumah itu tidak akan roboh karena sudah disangga oleh tiang. Adapun makna filosofinya yaitu sebagai penguat atau pelindung badan rumah karena jika badan rumah bersentuhan dengan tanah langsung maka akan cepat membusuk, sedangkan ndriwa untuk memperkuat dan mepererat rumah adatnya atau tiangnya dari bencana.

Saat ini, rumah adat ini biasanya digunakan untuk tempat pertemuan antar tokoh adat atau bangsawan dan juga digunakan sebagai tempat acara besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *