Identitas dan Representasi Tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella melalui Kajian Budaya (Maluku Tengah)

pukul sapu

Tradisi pukul sapu merupakan warisan budaya yang dilakukan oleh masyarakat negeri mamala dan negeri morella. Tradisi ini berupa atraksi saling memukul badan hingga terluka dan mengeluarkan darah dengan menggunakan sapu lidi. Tradisi pukul sapu ini biasa dilakukan pada tanggal delapan syawal atau bertepatan dengan hari ketujuh setelah hari raya idul fitri secara turun temurun sejak abad ke-17. Tradisi yang dilakukan di dua negeri ini kerapkali dipandang sama oleh masyarakat luar. Provinisi maluku merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masih mewariskan dan mempertahankan tradisi dan adat istiadat. Dimaluku sendiri terdapat banyak desa-desa yang masih menggunakan sistem negeri yang dipimpin oleh raja. Selain itu dimaluku sendiri sering sekali melakukan tradisi dan atraksi secara rutin oleh masyarakat adat di maluku.

Atraksi pukul sapu merupakan salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh masyarakat adat di negeri mamala dan morella. Kecamatan leihitu, Kabupaten maluku tengah. Atraksi pukul sapu mempunyai dua perbedaan pada negeri masing-masing dengan motif dan tujuan tersendiri terhadap pelaksanaan tradisi pukul sapu yang dipengaruhi oleh sejarah, adat istiadat, dan pandangan masyarakat adat kedua negeri.

Masing-masing negeri memiliki motif dan tujuan tersendiri terhadap pelaksanaan tradisi Pukul Sapu yang dipengaruhi oleh sejarah, adat istiadat, dan pandangan masyarakat adat kedua negeri. Perbedaan ini merupakan hal baik yang kemudian menunjukkan eksistensi kedua negeri kepada masyarakat umum. Negeri Mamala menunjukkan eksistensinya melalui tradisi Pukul Sapu yang disimbolkan sebagai pembuktian dan pelestarian minyak mamala, dan Negeri Morella yang melalui tradisi Pukul Sapu menunjukkan simbol semangat juang dan perjuangan Kapahaha (Azuz, 2011). Hal ini yang kemudian menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian terkait eksistensi tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella.

Awal mula pelaksanaan tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala berkaitan dengan adanya pembangunan masjid Al-Muhibbin yang terletak di Negeri Mamala oleh Imam Tuny. Dikisahkan pembangunan pada masa itu masih menggunakan kayu dari pohon yang diambil di hutan. Kayu-kayu tersebut diangkut dengan cara dipikul dan ditarik oleh beberapa orang, sehingga membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Pada saat pembangunan masjid hampir rampung, terdapat satu tiang inti yang mengalami keretakan. Kejadian ini merupakan suatu masalah besar yang menjadi bahan diskusi raja, Pati Tiang Besi dan Imam Tuny. Sedangkan, dinegeri morella atraksi Pukul Sapu awalnya merupakan permainan anak-anak yang dimainkan pada masa kejayaan benteng Kapahaha. Atraksi Pukul Sapu ini menjadi suatu tradisi budaya di Negeri Morella sejak tahun 1646. Sejarah awalnya bermula dari perang Kapahaha yang disebut perang Hitu II atau perang Ambon ke-IV. Perang ini dipimpin oleh kapitan Telukabessy dan mendapat bantuan dari masyarakat luar wilayah Kapahaha, dari benteng-benteng pertahanan lain di luar maluku tengah, yakni dari benteng pertahanan di seram.

Tradisi yang dilakukan di dua negeri ini kerapkali oleh masyarakat luar dianggap sama, namun apabila ditelisik lebih dalam, terdapat perbedaan mendasar dari eksistensi tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella. Secara garis besar perbedaan bermula dari sejarah eksistensi tradisi di kedua Negeri Mamala dan Morella. Bermula dari sejarah inilah yang kemudian berpengaruh pada perbedaan pandangan, tujuan, hingga pelaksanaan tradisi di masing-masing negeri. Adapun berdasarkan hasil penelitian, ditemukan perbedaan tradisi Pukul Sapu Negeri Mamala dan Morella, yaitu pada 1) Sejarah, 2) Simbol, 3) Tujuan, dan 4) Rangkaian acara.

Baca juga: Membaca Realitas orang Malind dalam Paradigma Ethnodevelopment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *