Identitas dan Representasi Tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella melalui Kajian Budaya

Provinsi Maluku merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masih mewariskan dan mempertahankan tradisi dan adat istiadat. Di Maluku sendiri terdapat banyak desa-desa yang masih menggunakan sistem negeri yang dipimpin oleh raja. Hal ini sebagai wujud kepatuhan masyarakat adat terhadap adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Selain daripada itu, banyak warisan budaya berupa tradisi dan atraksi yang dilakukan secara rutin oleh masyarakat adat di Maluku diantaranya, budaya Pela Gandong sebagai simbol persatuan dan persaudaraan yang dipegang teguh oleh seluruh masyarakat adat Maluku, aturan adat Sasi berupa larangan mengambil hasil alam sebelum waktu yang ditentukan yang berlaku di seluruh negeri di Maluku, ritual ma’atenu yang dilakukan oleh masyarakat muslim Hatuhaha di Pelauw, tradisi Abda’u di Negeri Tulehu, dan atraksi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella. Atraksi Pukul Sapu merupakan salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh masyarakat adat di Negeri Mamala dan Morella, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Atraksi Pukul Sapu rutin dilaksanakan pada delapan Syawal setiap tahunnya secara turun temurun sejak abad ke-17. Atraksi Pukul Sapu di dua negeri ini sudah menjadi agenda tahunan oleh Dinas Pariwisata Maluku. Atraksi ini menjadi suatu tradisi budaya Negeri Mamala dan Morella yang masih eksis hingga kini. Tradisi diartikan sebagai adat kebiasaan yang dilakukan secara turuntemurun oleh masyarakat di suatu daerah yang wajib ditaati dan dipatuhi (Fardayanti, 2013). Atraksi Pukul Sapu dinilai sebagai tradisi budaya di kedua negeri tersebut yang wajib untuk dilaksanakan setiap tahunnya. Tradisi Pukul Sapu merupakan suatu atraksi budaya berupa saling memukul badan hingga mengeluarkan darah antara dua kelompok dengan menggunakan sapu lidi dari pohon enau. Tradisi ini dilaksanakan pada hari ketujuh setelah hari raya Idul Fitri atau tepat pada tanggal delapan Syawal. Pelaksanaan tradisi Pukul Sapu ini berlokasi di dua negeri, yakni Negeri Mamala dan Morella.

Secara umum pelaksanaan tradisi Pukul Sapu antara dua negeri ini terlihat serupa namun, apabila ditelisik lebih dalam, terdapat perbedaan latar belakang dan pelaksanaan antara tradisi Pukul Sapu yang dilaksanakan di Negeri Mamala dan Negeri Morella. Masing-masing negeri memiliki motif dan tujuan tersendiri terhadap pelaksanaan tradisi Pukul Sapu yang dipengaruhi oleh sejarah, adat istiadat, dan pandangan masyarakat adat kedua negeri. Perbedaan ini merupakan hal baik yang kemudian menunjukkan eksistensi kedua negeri kepada masyarakat umum. Negeri Mamala menunjukkan eksistensinya melalui tradisi Pukul Sapu yang disimbolkan sebagai pembuktian dan pelestarian minyak mamala, dan Negeri Morella yang melalui tradisi Pukul Sapu menunjukkan simbol semangat juang dan perjuangan Kapahaha (Azuz, 2011). Hal ini yang kemudian menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian terkait eksistensi tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *