INTERPRETASI PARIWISATA EDUKASI DI MUSEUM

Informasi pariwisata ataupun pemberian informasi kepada wisatawan mengenai kegiatan wisata dapat menjadi cara penting dalam memberikan layanan optimal kepada wisatawan. Ketersediaan informasi merupakan salah satu aspek penting dalam mengelola daya tarik wisata dan usaha pariwisata. Informasi yang tersedia beragam, tergantung pada cara pelaku usaha pariwisata memberikan informasi, misalnya pesan-pesan singkat untuk dilaksanakan wisatawan, informasi detail melalui peran pemandu wisata, papan bicara,dan berbagai bentuk informasi lainnya (Moscardo, 2003).

Pemanduan wisata merupakan salah satu kebutuhan   penting   dalam   pelayanan   wisata   khususnya jika berkaitan dengan kunjungan ke daya tarik wisata budaya, sejarah,dan edukasi (Purwaningsih, 2013). Dalam konteks kepariwisataan, pemberian informasi merupakan upaya memberikan edukasi kepada pengunjung atau wisatawan agar terwujud kegiatan wisata yang berkelanjutan. Proses pemberian informasi ini mengacu padamakna dari suatu koleksi atau storytelling (Nielsen, 2017; Pasaribu et al., 2022) yang dalam konteks kepariwisataan disebut sebagai ‘interpretasi’ atau interpretation. Museum merupakan suatu lembaga yang didirikan sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah tentang pelestarian benda budaya dan sejarah manusia. Koleksi museum merupakan warisan budaya bangsa dan mengandung informasi mengenai sejarah dan budaya. Nilai informasi dari suatu koleksi menjadikan museumsebagai pusat informasi dan center of excellent, penggambaran sejarah dan budaya bangsa. Kebijakan tentang museum diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 2015 tentang Museum.

Menurut peraturan tersebut, museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. Organisasi museum dunia (ICOM) juga memberikan definisi yang sama tentang museum dengan penekanan pada museum sebagai lembaga tetap yang tidak mencari keuntungan dan   memberikan   pelayanan kepada masyarakat, melakukan konservasi, penelitian, pameran, dan komunikasi ke publik terkait benda atau artefak budaya untuk tujuan studi (pendidikan) dan kesenangan.

Museum merupakan daya tarik wisata karena wisatawan dapat memanfaatkannya sebagai lokasi berwisata, khususnya pariwisata edukasi.  Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan (Undang-Undang No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, 2009). Upaya mengoptimalkan bentuk interpretasi sebagai strategi menarik kunjungan ke museum belum menjadi perhatian praktisi dan akademisi. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan memberi informasi ilmiah mengenai bagaimana pengelolaan museum secara profesional dalam konteks wisata edukasi melalui interpretasi.

Interpretasi diartikan sebagai proses pemberian atau penyampaian informasi kepada pengunjung museum yang pelaksanaannya memanfaatkan media tulisan, gerakan, ataupun lisan. Interpretasi merupakan bentuk komunikasi yang menghasilkan suatu hubungan antara pemberi penjelasan dan penonton atau pendengar (Mason, 2003). Objek menjadi sasaran utama dalam memberi penjelasan. Interpretasi juga dimaknai sebagai aktivitas pendidikan dengan tujuan menjelaskan sesuatu subjek dan objek oleh orang yang sudah mempunyai pengalaman (tour guide) dan media-media yang ilustratif.

Interpretasi dalam konteks museum dilihat dari proses pemberian informasi oleh pemandu museum kepada pengunjung (Hasanah et al., 2015). Proses inimerupakanbagian dari interpretasi personal. Selanjutnya, museum memiliki koleksi yang selanjutnyadiinterpretasikan melalui label atau informasi koleksi secara tertulis. Koleksi museum merupakan inti dari pengelolaan museum, khususnya yang berkaitan dengan interpretasi. Informasi yang disampaikan oleh museum menjadi nilai sejarah dan edukasi dari koleksi yang dipajang dalam display koleksi. Interpretasi merupakan bagian penting dalam aktivitas pariwisata budaya (Appleton, 2006) yang dapat pula berdampak pada kualitas penyelenggaraan pariwisata edukasi (Puczkó, 2006). Interpretasi dibutuhkan karena kandungan nilai-nilai intrinsik koleksi museum berupa nilai ekonomi dan ilmiah (economic   and   scientific   values). Wisatawan   membutuhkan pengalaman yang mengesankan dan pengetahuan tentang koleksi ketika berkunjung ke museum. Interactive   storytellingdapat   menjadi   acuan   pengelola   museum   dalam mendukung fungsi dan peran museum sebagai daya tarik wisata edukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *