Jathilan Krido Turonggo Jati Jiwo Sari, Jiwan, Argomulyo, Cangkringan

Jathilan Krido Turonggo Jati Jiwo Sari –

  1. Alat yang dimainkan

Melihat alat yang dimiliki oleh Jathilan Krido Turonggo Jati ini adalah alat yang paling mendekati dengan format yang sempat dicatat oleh Pigeaud pada tahun 1930an. Mereka memiliki alat sebagai berikut : (masing-masing di beri gambar)

  1. Kendang
  2. Bende
  3. Angklung telu (3 Pcs)
  4. Jeder/ Bem
  5. Kecrek

Bende yang mereka gunakan berlaras pelog. Kondisi alat yang ada cukup menghawatirkan. Beberapa bende sudah tidak terlalu tuning. Kendang sudah kendur dan angklung sudah mulai tidak laras dan diikat dengan tali plastik. Kembali lagi bahwa dalam hal perawatan alat musik mereka hanya bisa membersihkan saja tidak punya kemampuan untuk mentuning ulang apalagi membuat.

Bentuk angklung dari group Jathilan Krido Turonggo Jati ini cukup menarik dan berbeda dengan angklung-angklung yang berkembang didaerah lain. Angklung mereka hanya satu tabung, dengan panjang rangka dasar angklung cukup panjang dan besar. Selain itu laras nya juga menggunakan laras pelog (walaupun tidak tuning tetapi masih bisa terbaca). Berikut beberapa laras angklung yang berhasil tercatat dan dituning menggunakan tuner digital, sebagai berikut:

 

Angklung

Laras
Angklung 1 D5+30cent
Angklung 2 D#5+35cet
Angklung 3 F5+10cent

 

Angklung yang dimiliki hari ini adalah bukan angklung yang pertama kali mereka buat oleh Mbah Alirejo. Angklung yang mereka miliki hari ini mereka membelinya didaerah prambanan. Menurut pengakuan Pak Marsudi sebagai ketua Paguyuban bahwa angklung yang mereka miliki kurang naik turun sedikit lebih rendah. Memang jika dilihat dari ukuran tuningnya memang sudah tidak tuning lagi, dan sudah agak berbeda dengan bende yang mereka miliki. Menyamakan bende dan angklung dalam satu ukuran tuning adalah salah satu jalan keluar dari kasus seperti ini. Gejala seperti ini sama dengan seni jathilan lain, ya karena memang seni kerakyatan, mempunyai sifat bertumbuh yang organik.

Selanjutnya dari segi tata suara dan tata cahaya mereka masih sama seperti yang lain mereka tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk memahami dan mempraktikan betapa penting nya mengelola tata suara dan tata cahaya.

  1. Musik Iringan dan Jenis Tembang

Seperti alat yang mereka miliki format musik yang mereka mainkan adalah format yang paling mendekati jathilan tahun 1930an menurut Pigeaud. Gending-gending yang mereka mainkan cukup sederhana, tetapi dramatis. Monoton tetapi menyihir. Dimulai dengan bowo mocopat dhangdang gulo, mereka memulai pertunjukan. Pak Marsudi melantunkannya hingga selesai dan melambatkan tempo. Kemudian kendang memberi kode buka dan disambut dengan bunyi semua alat musik. Imbal-imbalan angklung yang menjadi dasar atau balunganing gending, Bende dan jeder dipukul diakhir kalimat lagu. Lantunan mocopat pak marsudi, menyihir musik yang sederhana ini. Tempo masih lambat, ini yang digunakan untuk mengiringi tarian jathilan di awal pagelaran. Kendang memberi aksen-aksen bunyi kendang ciblon jawa, sebagai penegasan dari tarian-tarian yang sedang dilakukan penari.

Alunan musik monoton ini berlangsung ketika penari jathilan masing melakukan gerak dengan tempo-tempo lambat. Ketika penari sudah memulai gerakan cepat, kendang memberi kode tempo agar musik mempercepat tempo nya. Gerakan-gerakan pasukan kuda ditegaskan oleh kendang. Ketika pemain sudah mulai ndadi, musik pun berangsur mempercepat tempo. Balunganing gending yang dipegang oleh angklung, bende dan jeder/bem, tetap memainkan gending yang sama tetapi dengan mempercepat tempo. Artinya bentuk gending nya tetap sama, temponya yang berubah. Hanya kendang yang memainkan pola permainan yang berbeda, ia menyesuaikan pukulannya dengan gerakan penari. Berikut notasi saat ndadi yang berhasil dicatat:

Untuk format jathilan lancur klasik ini lagu-lagu yang dimainkan hanya lagu-lagu mocopatan dan lagu-lagu karawitan jawa klasik saja. Mereka menjaga pertunjukan agar kesan dan rasa klasik nya tetap terjaga. Lagu-lagu silih berganti dengan musik tetap berjalan. Kadang lagu berhenti di suatu sesi pertunjukan sebagai penegasan pergelaran yang sedang berlangsung. Misalnya ketika ada seseorang yang ndadi atau kejadian ndadi bersama (beberapa orang) maka nyayian akan berhenti, agar fokus pertunjukan tertuju pada ketegangan ndadi tadi.

Baca juga : Haji Muhammad Sudja: Di Balik Layar Lahirnya RS PKU Muhammadiyah

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 0812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *