Karakteristik Masyarakat Lereng Merapi

sleman

Karakteristik Masyarakat Lereng Merapi – Penelitian Triyoga (2010, pp. 31–42) menjelaskan bahwa pada tahun 1984 desa-desa di lereng Merapi merupakan masyarakat yang masih sangat agraris. Masyarakat bermukim di rumah-rumah yang “mengelompok dikelilingi oleh tegalan-tegalan dan hutan lindung. Di samping rumah kediaman didirikan kandang-kandang ternak sapi dan kambing.” Di ladang, mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, disertai umbi-umbian, sayur-mayur, dan buah sebagai pelengkap. Dari hutan-hutan lindung di sekitar desa, banyak yang mengambil kayu bakar untuk dipakai atau dijual. Mereka juga mencari rumput untuk pakan ternak di dalam hutan, karena rumput pekarangan rumah dan tegalan saja tidak cukup. Kegiatan merumput dilakukan bergantian antar anggota keluarga dengan memanfaatkan siklus ketersediaan rumput secara alami. Dalam penelitian Hudayana (2021, p. 238), dijelaskan bahwa setiap keluarga di dusun-dusun sekitar Merapi rata-rata memiliki ladang seluas setengah hektare dan ternak sebanyak 2-3 ekor.

Masyarakat lereng Merapi kebanyakan sudah memeluk agama-agama besar yang diakui oleh pemerintah, terutama Islam. Meski begitu, praktik yang dijalankan sehari-hari tidak begitu ketat. Kepercayaan terhadap Tuhan, Nabi, dan Rasul dibarengi dengan kepercayaan terhadap makhluk-makhluk spiritual yang hanya dapat dilihat orang-orang berkemampuan khusus. Tidak heran, peran orang-orang seperti dukun, Juru Kunci, dan sesepuh desa pun mendapatkan posisi penting dalam pengambilan keputusan masyarakat Merapi. Berbagai penelitian turut menegaskan bahwa pengaruh agama Islam dan kepercayaan Kejawen menyatu dalam kebijaksanaan masyarakat Merapi, terutama pada kalangan masyarakat yang disebut kaum abangan (Fatkhan, 2006, pp. 107–108; Schwartz-Marin et al., 2022, p. 594; Tyas, 2022, pp. 13–16).

Baca juga : Ragam Upacara Adat Papua

Setelah perpindahan banyak penduduk Merapi ke hunian-hunian tetap, masih banyak masyarakat yang tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai petani dan peternak. Meski begitu, perubahan permukiman tentu membawa perubahan ke dalam cara hidup masyarakat. Sejak 2010, masyarakat Merapi yang melakukan penambangan pasir kian bertambah. Selain itu, mereka juga mulai menjual material-material vulkanik lainnya seperti lava beku dan endapan piroklastika. Pariwisata juga meningkat dengan pesat, seperti Jeep Lava Tour, hotel, dan museum. Rumah yang ditinggali mendiang Mbah Maridjan semasa hidupnya pun kini telah berubah fungsi menjadi museum. Para pelaku dan pengembang pariwisata tersebut kebanykan adalah penduduk Merapi yang hidup dan pekerjaannya terkena dampak erupsi pada tahun 2010 (Spadone, 2019, pp. 18–19).

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di+62 812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *