Kemantren Mergangsan

Kota Yogyakarta lahir dari rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau. Hal itu menjadikan kota Yogyakarta memiliki banyak kisah-kisah sejarah baik mengenai asal-usul nama tempat maupun kisah perjuangan kemerdekaan. Di kawasan Kota Yogyakarta sendiri terdapat jejak peninggalan sejarah masa klasik (Mataram Kuna), Mataram Islam, Kolonial, Pergerakan nasional, dan revolusi. Yang tidak hanya menyajikan cerita sejarahnya saja, melainkan terdapat pula bangunan, tempat, bahkan kawasan yang menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa tersebut. monumen atau tetenger dibangun untuk menjadikan penanda bahwa di lokasi tersebut pernah berlangsung sebuah peristiwa penting yang berpengarung bagi Kota Yogyakarta. Adapun maksud dan tujuan dari penulisan kajian ini adalah sebagai berikut:

  1. Menginventarisasi monumen dan tetenger penanda bersejarah di Kota Yogyakarta.
  2. Mendokumentasikan monumen dan tetenger penanda sejarah yang ada di Kota Yogyakarta.
  3. Menggali latar belakang sejarah didirikannya setiap monumen dan tetenger penanda sejarah tersebut.

Adapun monumen/ tetenger yang berada di kawasan Kemantren Mergangsan antara lain sebagai berikut:

  1. Lalu lintas Pasukan Hantu Maut, berlokasi di Jl. Gerilya Prawirotaman II, Mergangsan. Tetenger ini berbentuk struktur dan berklasifikasi sebagai tetenger. Jalan gerilya merupakan jalur yang digunakan oleh Pasukan Hantu Maut yang dipimpin oleh Bapak Tulus Muliohartono (pemimpin pasukan Hantu Maut Selatan/ Prawirotaman) saat bereaksi untuk melakukan kegiatan Gerilya yang dilakukan pada malam hari.
  2. Monumen Pancasila Garuda, berlokasi di Jl. Ireda Keparakan Kidul, Gg Wiyono, Kec. Mergangsan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai monumen. Monumen ini dibuat oleh warga Keparakan Kidul pada tahun 1986. Namun, ide membuat tetenger ini pada 1 Maret 1977. Bentuk tetenger ini ada gambar burung Garuda, Senjata Buatan, Helm, dan nama-nama pejuang yang gugur dalam medan peperangan pada Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berjumlah 9 orang. Namun, menurut warga ada 10 korban, tapi yang ditemukan dan tercatat hanya 9 orang.
  3. Monumen Ki Hajar Dewantara, berlokasi di Jl. Taman Siswa No 31. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai monumen. Monumen ini dibangun untuk mengenang Ki Hajar Dewantara. Monumen ini diresmikan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2007 yang juga hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Patung ini terbuat dari perunggu setinggi 22o cm, altar patung 250 cm dan berbobot 500 kg. Di samping patung itu terdapat prasasti monumen yang berisi Candra Sengkala berbunyi “Pawiyata Luhur Tan Sunya Susastra” yang artinya bahwa tempat pendidikan yang tidak pernah sepi dan tidak pernah kosong dari ilmu pengetahuan.
  4. Monumen Pasukan Hantu Maut, berlokasi di Jl. Prawirotaman No. 24-16, Brontokusuman. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi monumen. Berawal dari semangat juang 30 orang pemuda Pujokusuman yang bersepakat dan berikrar, jika sampai Belanda masuk dan menduduki Kota Yogyakarta mereka bersama-sama akan keluar kampung untuk membentuk pasukan guna melawan dan mengusir penjajah Belanda. GBPH Poedjokoesoemo yang merupakan putra Sri Sultan HB VIII, akhirnya membentuk pasukan Hantu Maut. Pada saat itu ada korban jiwa yang bernama Pratu R Pruwito maka dibuatlah sebuah monumen untuk mengenang jasa Pratu R Pruwito.
  5. Museum Dewantara Kirti Griya, berlokasi di Jl. Taman Siswa No 31. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. museum ini diresmikan oleh Nyi Hajar Dewntara pada 2 Mei 1970 dengan nama “Dewantara Kirti Griya” yang berarti rumah yang berisi hasil kerja Ki Hajar Dewantara. Peresmian ditandai dengan sengaklan berbunyi “miyat ngaluhur trusing budi” yang mengandung makna bahwa para pengunjung diharapkan dapat mempelajari, memahami, dan kemudian mewujudkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya ke dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.
  6. Museum Perjuangan, berlokasi di Jl. Kolonel Sugiyono No 24, Brontokusuman. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. museum ini dibuat oleh panitia pembangunan Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional yang di ketuai oleh Sri Sultan HB IX dengan anggota terdiri dari DPRD, ABRI, dan para Cendekiawan. Pembangunan ini diawali pada tanggal 17 Agustus 1959 dengan pencangkulan pertama oleh Sri Paku Alam VIII pada 5 Oktober 1959 kemudian diakhiri dengan peletakan batu terakhir oeh Sri Sultan HB IX pada 29 Juni 1961. Pembukaan secara resmi dilaksanakan oleh Sri Paku Alam VIII pada tanggal 17 November 1961. Sejak 5 September 1997 museum ini merupakan unit II dari Museum Benteng Vredeburg.
  7. Pendopo Taman Siswa, berlokasi di Jl. Taman Siswa No 31 Wirogunan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi landmark. pendopo ini digunakan untuk kegiatan belajar mengajar terutama dari TK,SD,SMP dan SMA terutama untuk kegiatan belajar diluar pelajaran dasar. Pendopo juga digunakan untuk kegiatan publik masyarakat sekitar Taman Siswa. Pendopo ini selesai dibangun pada 1938 dan dibuka secara resmi pada 16 November 1938. Upacara peresmian Pendopo dibuka dengan Kongres Taman Siswa. Selain untuk kepentingan belajar, pendopo ini juga digunakan sebgai tempat penanaman nilai-nilai kebangsaan.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.