Kemantren Ngampilan

Kota Yogyakarta lahir dari rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau. Hal itu menjadikan kota Yogyakarta memiliki banyak kisah-kisah sejarah baik mengenai asal-usul nama tempat maupun kisah perjuangan kemerdekaan. Di kawasan Kota Yogyakarta sendiri terdapat jejak peninggalan sejarah masa klasik (Mataram Kuna), Mataram Islam, Kolonial, Pergerakan nasional, dan revolusi. Yang tidak hanya menyajikan cerita sejarahnya saja, melainkan terdapat pula bangunan, tempat, bahkan kawasan yang menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa tersebut. monumen atau tetenger dibangun untuk menjadikan penanda bahwa di lokasi tersebut pernah berlangsung sebuah peristiwa penting yang berpengarung bagi Kota Yogyakarta. Adapun maksud dan tujuan dari penulisan kajian ini adalah sebagai berikut:

  1. Menginventarisasi monumen dan tetenger penanda bersejarah di Kota Yogyakarta.
  2. Mendokumentasikan monumen dan tetenger penanda sejarah yang ada di Kota Yogyakarta.
  3. Menggali latar belakang sejarah didirikannya setiap monumen dan tetenger penanda sejarah tersebut.

Adapun monumen/ tetenger yang berada di kawasan Kemantren Ngampilan antara lain sebagai berikut:

  1. Balaikota Lama/ Gedung Punokawan, berlokasi di Jl. KH. Ahmad Dahlan. No. 71, RW. 08, Notoprajan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. awalnya gedung ini berada di Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-alun Kidul Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1952 Balaikota Lama Kotapraja Jogjakarta menempati Ndalem Ngabean di Jalan KHA Dahlan atau sekaramh bernama gedung punokawan.
  2. Bekas Stasiun Ngabean, berlokasi di Jl. Wahid Hasyim No. 49, Kel. Notoprajan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. stasiun ini dibuat pada tahun 1893, bersamaan dengan pembangunan jalur trem Yogyakarta-Brosot. Sampai tahun 1914 sampai sebelum PD II stasiun Ngabean untuk sementara ditutup. Pada tahun 1955 Sri Sultan HB IX memprakarsai pendirian PG Madukismo di Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Stasiun Ngabean digunakan untuk menjadi jalur pengangkutan bahan-bahan dan hasil produksi dari PG Madukismo ke stasiun Lempuyangan. Mulai 1975/1976 jalur ini sudah tidak difungsikan lagi.
  3. Gedoeng Moehammadiyah, berlokasi di Jl. KH Ahmad Dahlan No. 103, Notoprajan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. awalnya gedung ini dibangun di atas tanah milik K.H Ahmad Dahlan. Kemudian pada tahun 1941 gedung tersebut dipindah ke Notoprajan. Proses pembangunan gedung selesai pada tahun 1942 dan menghabiskan dana hingga 5000 gulden.
  4. Madrasah Muallimaat Muhammadiyah, Jl. Suronatan, NG. II/653, Notoprajan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. madrasah ini merupakan lembaga pendidikan khusus putri yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1918. Kh Ahmad Dahlan mendirikan Al-Qismul Arqa yang diubah menjadi Pondok Muhammadiyah pada tahun 1921. Pada tahun 1932, Kweekschool Muhamadiyah diganti menjadi Madrasah Mualliman dan Kweekschool Istri diubah menjadi Madrasah Muaalimaat.
  5. SD Muhammadiyah Suronatan, berlokasi di Suronatan NG. II /834, Ngampilan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. sekolah ini merupakan sekolah SD tertua di Indonesia, dahulu namanya Standard School yang berdiri pada tahun 1918. Sekolah ini didirikan oleh KH.Ahmad Dahlan, ada dua sekolah yang didirikan oleh beliau yaitu SD Muhammadiyah Suronatan dan Kauman (dulu bernama Pawiyatan). SD di sini khusus untuk putra dan tanah tersebut milik Keraton.
  6. Tugu Monumen “Satu Abad” Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, berlokasi di Suronatan NG II/834, Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk benda dan berklasifikasi sebagai monumen. Pada tahun 1918, perserikatan Muhammadiyah membentuk HizbulWathan (HW) dan menjadi salah satu pasukan Tanah Air yang membantu negara melawan penjajah. Pada tahun 2019 monumen ini diresmikan olej Ketua Pimpinan Kwartir Pusat HW rmd Hadjam Murusdi SU.
  7. Musholla Al-Wustho, berlokasi di Suronatan NG II/834, Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landmark. Masjid ini dibangun pada tahun 1918, yang mana arah kiblatnya dibenarkan langsung oleh KH Ahmad Dahlan.
  8. Pojok Beteng Utara, berlokasi di Jl. K. H. Wahid Hasyim, Notoprajan, Ngampilan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai Landmark. Beteng ini didirikan oleh Sri Sultan HB II ketika masih menjadi putra mahkota, yakni pada tahun 1785-1787. Bangunan ini kemudian diperkuat lagi sekitar 1809 ketia beliau sudah menjabat sebagai Sultan. Beteng ini diberi nama Beteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan. Tembok beteng dibangun menjulang tinggi dan tebal. Karena berbentuk persegi, maka ada empat sudut yang biasa disebut Jokteng. Beteng yang terletaj di Ngampilan adalah pojok Beteng Lor (utara) yang masih masuk ke dalam kelurahan Notoprajan.
  9. TK ABA Notoprajan, berlokasi di NG II/611 RW 05, Notoprajan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai Landmark. Tahun 1919 merupakan awal dari berkembangnya Taman Kanak-kanak Aisyiyah yang kemudian menjadi sejarah baru bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini di Indonesia. TK ABA adalah salah satu TK yang didirikan oleh Aisyiyah pada tahun 1930 dan menjadi salah satu TK tertua di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *