Kemantren Tegalrejo

Kota Yogyakarta lahir dari rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau. Hal itu menjadikan kota Yogyakarta memiliki banyak kisah-kisah sejarah baik mengenai asal-usul nama tempat maupun kisah perjuangan kemerdekaan. Di kawasan Kota Yogyakarta sendiri terdapat jejak peninggalan sejarah masa klasik (Mataram Kuna), Mataram Islam, Kolonial, Pergerakan nasional, dan revolusi. Yang tidak hanya menyajikan cerita sejarahnya saja, melainkan terdapat pula bangunan, tempat, bahkan kawasan yang menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa tersebut. monumen atau tetenger dibangun untuk menjadikan penanda bahwa di lokasi tersebut pernah berlangsung sebuah peristiwa penting yang berpengarung bagi Kota Yogyakarta. Adapun maksud dan tujuan dari penulisan kajian ini adalah sebagai berikut:

  1. Menginventarisasi monumen dan tetenger penanda bersejarah di Kota Yogyakarta.
  2. Mendokumentasikan monumen dan tetenger penanda sejarah yang ada di Kota Yogyakarta.
  3. Menggali latar belakang sejarah didirikannya setiap monumen dan tetenger penanda sejarah tersebut.

Adapun monumen/ tetenger yang berada di kawasan Kemantren Tegalrejo antara lain sebagai berikut:

  1. Candi Donotirto, berlokasi di Jatimulyo TR.I/269 RT.60 RW.01 Kec. Tegalrejo Kel. Kricak. Tetenger ini berbentuk situs dan berklasifikasi landmark. Menurut keterangan, bangunan ini didirikan pada tahun 1930 oleh pihak Kraton. Tepatnya pada masa pemerintahan HB IX sebagai fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus warga sekitar yang kesulitan mengakses air bersih. Air saluran sanitasi yang digunakan ini berasal dari Kali Winongo melalui pintu air Bendolole
  2. Markas Batalion 300, berlokasi di KPU Kota Yogyakarta Jl. Magelang No 41, Kricak, Kec. Tegalrejo. Tetenger ini berbentuk situs dan berklasifikasi sebagai landmark. Gedung ini diperkirakan didirikan pada masa pembangunan Kawasan Jetis, yaitu pada awal abad ke-20. Pada masa perjuangan kemerdekaan bangunnan ini digunakan sebagai markas Batalyon 300 Tentara Pelajar. Tentara ini terlibat dalam beberapa pertempuran melawan Belanda. Salah satunya terjadi di Sidobunder, Kebumen. Pertempuran ini terjadi padaSeptember 1947. Dalam perkembangannya, bangunan ini digunakan sebagai Kantor Kelurahan Kricak.
  3. Museum Diponegoro, berlokasi di Jl. HOS Cokroaminoto TR-III/430, Tegalrejo. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi landamark. Gedung museum ini dulunya merupakan rumah nenek buyut Pangeran Diponegoro, Nyai Ageng Tegalrejo, Istri Sultan HB I. Sejak kecil Diponegoro tinggal bersama nenek buyutnya di Tegalrejo. Ditempat inilah dimulai Perang Jawa. Perang ini terjadi karena Pangeran tidak menyetujui campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan. Selain itu, sejak 1821 para petani lokal menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh orang asing. Diponegoro membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa agar para petani Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan. Kekecewaan Pangeran Diponegoro juga semakin memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belnada membuat jalur rel kereta yang melewati makam leluhurnya. Pada Rabu, 20 Juli 1825, pihak istana mengutus dua bupati keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo sebelum perang pecah. Tetapi pangeran dan pengikutnya berhasil kabur biarpun rumahnya jatuh dan dibakar. Museum ini didirikan untuk mengenang jasa-jasa, perjuangan dan dedikasinya. Museum dibangun secara bertahap dan baru diresmikanpad atanggal 9 Agustus 1969 oleh Jendral TNI (Purnawirawan) Soeharto.
  4. Watu Komboran, berlokasi di Jatimulyo TR.I/269 RT 60 RW.01. kec. Tegalrejo. Tetenger ini berbentuk situs dan berklasifikasi sebagai landmark. Selama masa hidupnya, Pangeran Diponegoro memiliki ratusan Kuda yang ditempatkan di rumah-rumah penduduk di wilayah Kricak dan Bener. Terdapat sekitar 60 warga yang merawatnya. Kuda-kuda tersebut minum dari aliran Sungai Winongo. Para perawat kuda kemudian membuat Komboran di atas kali mengingat posisi Kali yang dulu cukup terjal, yang kemudian dikenal dengan Watu Komboran. Selain sebagai tetenger, watu kricak juga menjadi bagian dari “Merti Komboran” yang diselenggarakan warga kricak untuk memperingati leluhur mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *