Kemantren Wirobajen

Kota Yogyakarta lahir dari rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau. Hal itu menjadikan kota Yogyakarta memiliki banyak kisah-kisah sejarah baik mengenai asal-usul nama tempat maupun kisah perjuangan kemerdekaan. Di kawasan Kota Yogyakarta sendiri terdapat jejak peninggalan sejarah masa klasik (Mataram Kuna), Mataram Islam, Kolonial, Pergerakan nasional, dan revolusi. Yang tidak hanya menyajikan cerita sejarahnya saja, melainkan terdapat pula bangunan, tempat, bahkan kawasan yang menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa tersebut. monumen atau tetenger dibangun untuk menjadikan penanda bahwa di lokasi tersebut pernah berlangsung sebuah peristiwa penting yang berpengarung bagi Kota Yogyakarta. Adapun maksud dan tujuan dari penulisan kajian ini adalah sebagai berikut:

  1. Menginventarisasi monumen dan tetenger penanda bersejarah di Kota Yogyakarta.
  2. Mendokumentasikan monumen dan tetenger penanda sejarah yang ada di Kota Yogyakarta.
  3. Menggali latar belakang sejarah didirikannya setiap monumen dan tetenger penanda sejarah tersebut.

Adapun monumen/ tetenger yang berada di kawasan Kemantren Wirobajen antara lain sebagai berikut:

  1. Jogja National Museum, berkokasi di Jl. Prof. Amri Yahya No. 1. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai Landmark. dahulu bangunan ini merupakan bekas Kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (1950) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (1984) yang kemudian vakum dan tidak terawat. Semenjak tahun 1998 Kampus ISI diresmikan di Jl. Parangtritis km 6. Kemudian pada tahun 2006, ketua Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara merenovasi bangunan terseut menjadi gedung Jogja National Museum dengan bekerja sama dengan alumni Fakultas Seni Rupa ISI pada 19 November 2006 dengan menggelar “Melukis Lagi di Gampingan”. Para seniman sepakat untuk menyumbangkan hasil lukisan untuk dana pembangunan museum. Selain direnovasi, fasilitas juga perlu ditambahkan. Pada awal tahun 2008 pihak JNM melakukan renovasi gedung yang dipusatkan pada gedung utama. Bangunan ini juga termasuk dalam rencana Colombo Plan era Soekarno.
  2. Makam Kuncen, berlokasi di Pakuncen, Wirobrajan. Tetenger ini berbentuk situs dan berklasifikasi sebagai landmark. Nyai Ageng Derpayuda merupakan nenek dari Ngarsa Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan HB I. Kyai Ageng Derpayuda merupakan suami dari Nyai Ageng Derpayuda yang meninggal saat perang sebelum perjanjian Giyanti dan dimakamkan di Karanganyar. Nyai Ageng dipercaya meninggal ketika dikejar-kejar Belanda dan meningal di Wilayah Pakuncen. Makam Kuncen tersebut menjadi cikal bakal nama kampung Wirobrajan.
  3. Masjid Kuncen, berlokasi di Jl. Turonggo, Pekuncen, Wirobrajan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi lanmark. Menurut cerita dari masyarakat, masjid ini dibangun beriringan dengan pembangunan Masjid Tawangsari, Masjid Nanggulan di Kulomprogo serta masjid di Kraton Yogyakarta. Dapat ditaksirkan Masjid ini dibangun pada tahun 1800-an. Masjid Kuncen pernah mengalami beberapa kali pemugaran, yaitu pada tahun 1973, 1981 dan tahun 1996.
  4. Patung R.J. katamsi, berlokasi di Jl. Prof. Amri Yahya No. 1. Tetenger ini berbentuk patung dengan klasifikasi sebagai monumen. R.J Katamsi namanya dikenal sebagai salah satu tokoh seni rupa dalam periode seni rupa modern Indonesia yang turut mendirikan dan sekaligus direktur pertama Akademi Seni Rupa Indonesia (ISI Yogyakarta). Katamsi juga tercatat sebagai pencipta lambang UGM serta mengilhami pembuatan logo SMAN 3 Yogyakarta. Patung ini dibuat ileh Akademi Seni Rupa Indonesia pada tahun 1970,kemudian dipindahkan ke komplek ISI Yogyakarta di Sewon, Bantul pada tahun 2004. Pada tahun 2017 dibangun kembali patung Katamsi oleh Artjog bersama Wahyu Santosa.
  5. SMAN 1 Yogyakarta, berlokasi di Jl. HOS Cokroaminoto, No. 10, Pakuncen, Wirobrajan. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai landamark. Perjalanan SMAN 1 Yogyakarta tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada tahun 1957. SMA 1/A dan SMA 2/A dilikuidasi menjadi SMA Teladan dengan SK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan No. 128079/s tanggal 16 Desember 1957. Perubahan ini yang menandai ditempatinya gedung baru di jalan Pakuncen (Jalan HOS Cokroaminoto 10), yang hingga saat ini digunakan SMAN 1 Yogykarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *