Konsep Peristiwa

Konsep Peristiwa РSelain ruang dan manusia, peristiwa adalah unsur lain dalam sejarah. Setiap peristiwa selalu mengalir dan terjadi dalam lokalitas tertentu. Menurut KBBI peristiwa adalah kejadian atau kejadian yang luar biasa. Sejarah sebagai peristiwa berarti bahwa sejarah merupakan realitas atau peristiwa yang terjadi di masa lalu. Sejarah sebagai peristiwa selalu berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik sosial, ekonomi, budaya, maupun politik. Kuntowijoyo (2001) menyebutkan bahwa sejarah sebagai peristiwa memiliki tiga ciri utama, yaitu unik, penting, dan abadi. Peristiwa sejarah disebut unik karena hanya terjadi satu kali dan tidak akan terulang kembali dalam bentuk yang sama persis, terjadi dalam waktu tertentu dan tempat tertentu.  Sebuah peristiwa dapat dikatakan sebagai peristiwa sejarah bila peristiwa tersebut memiliki posisi penting dalam masyarakat luas. Peristiwa tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap kondisi masyarakat pada saat peritiwa itu terjadi dan masa-masa selanjutnya. Peristiwa sejarah juga menjadi peristiwa yang abadi karena tidak berubah dan akan dikenang sepanjang masa.

Pada dasarnya peristiwa yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi tidak dapat dibatasi secara administratif. Setiap peristiwa terjadi dalam konteks dan ruang tertentu. Biasanya setiap peristiwa yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa sebelumnya yang terjadi di lokasi tersebut tetapi juga dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di lokasi lain. Peristiwa yang terjadi dalam suatu lokasi tertentu bukanlah sesuatu yang terisolasi dari peristiwa yang lebih luas. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di tingkat lokal dipengaruhi oleh dimensi-dimensi luar, namun peristiwa yang diteliti tetap lebih menekankan pada upaya mendeskripsikan realitas yang ada. Keterkaitan peristiwa di suatu lokal tertentu dengan di tempat lain juga diwarnai oleh berbagai episode peristiwa sejarah yang mendahuluinya (Hariyono, 2017).

Sejarah lokal sebelumnya kurang menarik minat dari berbagai pihak, mungkin karena berkaitan dengan semangat persatuan kesatuan Indonesia utamanya setelah Indonesia mencapai kemerdekaan. Kajian mengenai peristiwa-peristiwa lokal semestinya disikapi dengan bijaksana sebagai suatu kajian sejarah dan tidak dimaksudkan untuk menonjolkan dinamika kelokalan saja. Justru dengan diangkatnya peristiwa-peristiwa di tingkat lokal akan mengungkapkan bagian-bagian dari sejarah bangsa Indonesia menjadi lebih lengkap dan utuh. Pengabaian terhadap peristiwa-peristiwa lokal justru dapat merugikan bangsa Indonesia sendiri karena adanya realita dinamika sosial yang beragam dalam masyarakat.

Penulisan sejarah atau peristiwa-peristiwa di tingkat lokal belum berkembang secara maksimal. Beberapa kesulitan dalam pengungkapkan peristiwa ini adalah minimnya sumber-sumber sejarah yang tersedia terutama pada sumber tertulis. Sumber-sumber yang dapat digunakan adalah sumber lisan baik berupa sejarah lisan maupun tradisi lisan. Untuk mengungkapkan realitas masa lalu di tingkat lokal perlu dilakukan dengan mengumpulkan berbagai cerita lisan yang berkembang di masyaraakat maupun dengan melakukan wawancara dengan para saksi sejarah (Winarti, 2013).

Peristiwa-peristiwa lokal sangat penting untuk dikaji. Pertama untuk mempertimbangkan kembali generalisasi-generalisasi yang sering dijumpai dalam narasi sejarah nasional. Kedua, kajian peristiwa lokal dapat meningkatkan wawasan/pengetahuan mengenai kesejarahan dari masing-masing kelompok sehingga memperluas pandangan tentang “dunia” Indonesia. Ketiga, kajian peristiwa lokal membantu sejarawan profesional membuat analisis-analisis kritis. Keempat, kajian peristiwa lokal dapat menjadi sumber bahan atau data dalam penelitian sejarah (Winarti, 2013:6). Pentingnya sebuah peristiwa ditentukan oleh realitas lokal itu sendiri terkait perkembangan pada masyarakat setempat.

Kota Yogyakarta yang sejak awal berdirinya telah menjadi pusat kekuasaan, memiliki banyak peristiwa yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada jalannya sejarah bangsa Indonesia. Kota Yogyakarta memiliki sejarah yang panjang yang terdiri dari rangkaian peristiwa-peristiwa sejarah di masa lalu. Sejak berdiri pada tahun 1755 berbagai peristiwa terjadi, yang tidak hanya berdampak pada Yogyakarta namun juga banyak peristiwa di Yogyakarta yang berdampak secara nasional. Peristiwa-peristiwa di tingkat lokal yang terjadi ada yang bernuansa politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Dalam laporan akhir kajian monumen tetenger dan penanda sejarah di kota Yogyakarta (2022) disebutkan mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di Kota Yogyakarta, beberapa di antaranya adalah berdirinya Kadipaten Pakualaman tahun 1813, pecahnya perang Diponegoro tahun 1825-1830, Kongres I Boedi Oetomo pada tahun 1908, berdirinya Muhammadiyah tahun 1912, berdirinya Taman Siswo tahun 1922, dilangsungkannya Konggres Wanita I se-Indonesia pada tahun 1928, dan dipindahkannya pusat pemerintahan RI dari Jakarta ke Yogyakarta pada awal kemerdekaan.

Ada cukup banyak peristiwa tokoh besar dan peristiwa besar di Yogyakarta yang telah diketahui oleh masyarakat luas. Beberapa tulisan misalnya tentang perjuangan Panglima Besar Soedirman, kiprah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, peran Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah, atau pun peran Ki Hajar Dewantara dalam memajukan pendidikan bangsa Indonesia melalui Sekolah Taman Siswa merupakan tokoh dan peristiwa yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas. Para tokoh besar ini telah mendapatkan gelar pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia. Tindakan para tokoh tadi dianggap heroik, dan tindakan mereka merupakan perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya atau berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Selain peristiwa dengan tokoh besar tadi, ternyata cukup banyak peristiwa penting dengan tokoh yang kurang dikenal luas, meskipun peristiwa dan tokoh ini juga memberikan pengaruh atau dampak yang besar bagi masyarakat. Keberadaan dan peran pasukan hantu maut adalah contohnya. Demikian juga dengan tokoh yang berada di balik kehadiran pasukan tersebut. Pasukan hantu maut terbentuk atas inisiatif dari GBPH Pujokusumo yang merupakan putera dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada 9 Januari 1949. Pasukan ini merupakan gabungan dari berbagai satuan laskar yaitu laskar Samber Gelap dari Kampung Pujokusuman, Pasukan Banteng Mataram dari Kampung Brontokusuman, dan Pasukan Pemuda Kampung Prawirotaman (Emy Wuryani, 2022). Basuki Widodo menjadi komandan staf Pasukan Hantu Maut, Toeloes Moeljohartono sebagai komandan, serta Gatot Suharno, Suparno Leong, dan Sugito bertindak sebagai komandan regu. Pasukan Hantu Maut ini memiliki peranan penting selama periode Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta dengan banyak melakukan serangan-serangan gerilya pada malam hari.

Baca juga : Situs Liayangan, Salah Satu Potensi Desa Wisata Purbosari Kabupaten Temanggung

Peristiwa-peristiwa lokal sangat penting dalam menumbuhkan memori kolektif masyarakat, kebersamaan, dan rasa saling menjaga karena terikat dalam suatu riwayat hidup yang sama. Memori kolektif ini menjadi penting karena mengacu pada kumpulan pengetahuan memori dan informasi bersama dari suatu kelompok sosial (masyarakat) yang secara signifikan terkait dengan identitas suatu kelompok.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 0812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *