KRT Jayadipura

KRT Jayadipura dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1878, dengan nama masa kecil Raden Mas (RM) Kobar. Dia adalah putra kedua dari pasagan Raden Tumenggung (RT) Jayadipura yang pada waktu itu menjabat sebagai Bupati Bantul dengan isteri keduanya Nyai Riya Segondo cucu Sri Sultan Hamengku Buwana II. Memasuki usia dewasa RM Kobar mengabdikan dirinya menjadi abdi dalem di Kraton Yogyakarta. Dia menjadi abdi dalem Kadipaten, dan kemudian namanya diganti menjadi RM Prawiranadi.

Berkat kedisiplinan, kecerdasan, kecakapan dan keterampilannya, kedudukan RM Prawiranadi dinaikan menjadi Wedana sehingga namanya menjadi Raden Wedana (RW) Prawiranadi. Kariernya terus menanjak hingga kemudian dia diangkat menjadi Bupati Anom dan dianugerahi gelar baru dengan nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jayadipura. Selain mendapatkan gelar tersebut, KRT Jayadipura juga termasuk salah seorang abdi dalem kinasih sehingga diangkat menjadi menantu Sultan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila pada tahun 1917 dia diberi hadiah tanah dan Dalem Dipawinatan (sekarang Dalem Jayadipuran).

KRT Jayadipura juga mempersilahkan kediamannya digunakan untuk kegiatan perjuangan pada masa pergerakan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Dalem Jayadipuran sering digunakan untuk kepentingan kongres-kongres perjuangan seperti Kongres Jong Java antara 1919, 1923, 1924, dan 1928. Kongres Jong Islamieten Bond 1927. Namun, diantara kongres-kongres tersebut terdapat sebuah kongres yang menjadi cikal-bakal Hari Ibu di Indonesia, yaitu Kongres Perempuan I pada tahun 1928.

Baca juga : Ibu Ruswo: Pengorbanan dan Peran Penting dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

Perlu dimengerti bahwa sejak berusia muda Jayadipura di samping sebagai abdi dalem juga aktif berkecimpung dalam kesenian Jawa, khususnya Yogyakarta. KRT Jayadipura mulai berkecimpung dalam dunia seni sejak berumur belasan tahun. Berkat bakat, kecerdasan, ketrampilan dan ketekunan yang dimilikinya dia menjadi terkenal sebagai seniman serba bisa. Sebagai seniman yang mumpuni, tidak hanya menguasai satu bidang kesenian saja akan tetapi juga dalam seni-seni yang lainnya. Termasuk ahli dan menguasai seni tari, karawitan, seni ukir, seni sungging, seni patung, seni lukis, seni pendalagan, seni pahat dan ahli topeng serta ahli bangunan (arsitek). (Darto Harnoko, dkk. 2014: 51-55)

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 0812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *