mostbet az casinolackyjetmostbet casinopin up azerbaycanpin up casino game

Legomoro

Legomoro merupakan makanan yang hanya akan dibuat ketika seseorang akan datang.  Biasanya, makanan ini dibuat untuk dijadikan buah tangan ketika seseorang akan bersilaturrahmi dengan perasaan lega. Sehingga legomoro akan selalu nampak pada acara pertemuan antara dua keluarga atau lebih. Legomoro sendiri berasal dari kata “lega” yang artinya ikhlas dan “mara” yang artinya datang. Jadi legamara bisa diartikan datang dengan  ikhlas. Legomoro sendiri masuk ke dalam jajaran makanan tradisional, yang mana dulunya hanya disajikan pada saat prosesi lamaran saja.

Secara historis, legomoro merupakan makanan khas dari kotagede dan tidak ada lagi makanan yang mirip dengan legomoro ini, baik dari bentuk maupun teknik membungkusnya.  Tetapi dari bahan yang digunakan, ada beberapa makanan khas daerah yang mempunyai kemiripan dengan legomoro. Adapun bahan utama dari pembuatan legomoro yaitu menggunakan ketan dan abon dengan kemungkinan penamaan yang berbeda antar daerah, seperti; lemper, semar mendem, jadah manten, dll.

Dahulu, legomoro hanya ada ketika prosesi lamaran. Seiring berkembangnya zaman, kini legomoro dapat mudah di temukan di toko roti, supermarket, ataupun pasar tradisional. Biarpun sudah terjual bebas, tapi legomoro ini masih masuk kedalam makanan khas untuk prosesi lamaran, khususnya di daerah Kotagede. Legomoro dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin wanita. Ini menjadi simbol, bahwa calon pengantin pria telah mantap untuk meminang dan berkunjung agar  mendapatkan jawaban dari calon pengantin wanita. Adapun calon pengantin wanita menerima legomoro tersebut sebagai simbol bahwa dia ikhlas menerima pinangan dari calon pengantin pria. Secara simbolis, legomoro berarti calon pengantin pria yang datang dengan penuh harapan untuk pinangannya diterima oleh calon pengantin wanita. Dan secara politis, calon pengantin wanita memberikan jawabannya kepada calon pengantin pria apakah diterima atau ditolak lamarannya.

Tradisi membawa legomoro tidak hanya sebagai simbolik, tetapi juga mempunyai makna filosofis, diantaranya:

  • Dari bahan yang dipakai. Bahan dasar yang dipakai untuk pembuatan legomoro ini adalah beras ketan, yang mana dalam bahasa jawa berarti, “ngraketake ikatan” yang dalam bahasa indonesia berarti merekatkan hubungan. Diharapkan bisa merekatkan manusia dari berbagai suku, budaya, agama, ataupun strata ekonomi.
  • Jumlah dan jenis bumbu yang dipakai. Dalam pembuatan legomoro ini, terdapat sebelas bahan yang dipakai. Dalam bahasa jawa disebut dengan istilah “sewelas” yang berarti “welas asih” yang bermakna mengharapkan belas asih dari sang pencipta untuk acara yang di gelar sehingga selamat di dunia dan akhirat.
  • Jumlah setiap bumbu yang dipakai. Jumlah bumbu yang dipakai dalam pembuatan legomoro ini berjumlah tujuh potong. Dalam bahasa jawa, tujuh adalah “pitu” yang berarti “pitulungan” bermakna pertolongan, bahwa manusia membutuhkan pertolongan Sang Pencipta dalam setiap langkah hidupnya.
  • Bungkus yang berasal dari daun pisang. Dalam membungkus legomoro, menggunakan dua lembar daun pisang, dikarenakan ketika hanya memakai satu lembar ditakutkan mudah sobek. Penggunaan dua lembar ini juga merepresentasikan bahwa setiap langkah kehidupan harus dilandasi iman dan takwa. Selanjutnya, posisi penempatan daun pisang ini menyilang, agar tidak mudah robek. Ini dilakukan untuk saling melengkapi, membantu, dan menutupi kekurangannya sehingga menjadi kuat. Selanjutnya yaitu peletakan daun pisang bagian bawah yang menghadap atas (telentang) yang berarti meminta pertolongan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan daun bagian atas yang menghadap bawah (tengkurap) yang berarti Tuhan akan memberikan pertolongan.
  • Bentuk legomoro yang menyerupai segitiga prisma, mengandung makna Ketuhanan. Yang berarti bertemunya kedua calon pengantin ini tidak luput dari campur tangan Tuhan didalamnya.
  • Ikatan legomoro. Ikatan pertama menyimbolkan hubungan antara perempuan dan laki-laki saling terikat dalam hubungan pernikahan.

Legomoro ini dapat diguanakan untuk menyatakan jati diri, karena ketika seseorang akan melamar dan membawa legomoro, maka orang tersebut akan di anggap orang yang tahu adat istiadat, mencerminkan sifat, wata, dan kepribadian masyarakat jawa karena mau mengikuti adat nenek moyangnya. Legowo juga berfungsi sebagai perantara komunikasi bahwa calon pengantin pria berniat untuk melamar calon pengantin wanita. Selain itu, ini juga berfungsi sebagai sarana untuk berkumpul antar dua keluarga untuk mengikat dua keluarga di satu acara pernikahan.

Di Kotagede sangat terkenal dengan pusat makanan tradisional legomoro. Masyarakat masih mempercayai bahwa legomoro bisa dipertahankan sebagai simbol pernikahan. Sampai sekarang ada empat produsen yang bertahan di Kotagede ini, yaitu:

  1. Bapak Nur Setiawan, beralamat di pandean KG III 626 29/07 Kotagede, Yogyakarta.
  2. Ibu Sumiyati, beralamat di Kembang Basen RW 04 Kelurahan Purbayan, Kotagede.
  3. Ibu Ani Andriyani, beralamat di Jl. Watu Gilang No.15 RT 34 RW 08, Tempel, Purbayan, Kotagede Yogyakarta.
  4. Ibu Sarjimah, beralamatkan di Selokraman 1052/KGIII, RT 49/11, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta.

Membuat makanan tradisional tidaklah mudah, mengingat hampir semua makanan tradisional tidak memiliki standar baku, seperti potongan, ukuran, teknik pembuatan dll. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempelajari pengetahuan dan ketrampilan dalam membuat masakan tradisional. Oleh karena itu, wajib di perhatikan oleh pemerintah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.