Makna dan Fungsi Pesanggrahan

foto 8

Makna dan Fungsi Pesanggrahan – Pesanggrahan adalah sebuah lingkungan perluasan yang merupakan fasilitas pendukung keberadaan kraton. Nama pesanggrahan berasal dari kata Jawa Kuna sanggraha yang berarti berkumpul, perjamuan, dan perlindungan (Hadiyanta, 2015: 17). Kata sanggraha kemudian mendapatkan awalan pe – dan akhiran – an menjadikan maknanya sebagai tempat untuk berkumpul, melakukan perjamuan, dan tempat perlindungan (Mardiwarsito, 1986: 506, Prawiroatmojo, 1981: 166). Dengan demikian pesanggrahan adalah berkaitan erat sebagai tempat berkumpul, melakukan perjamuan dalam rangka pesiar bagi raja dan kerabat, bahkan juga untuk perlindungan.

Pesanggrahan sebagai tempat peristirahatan pada dasarnya berhubungan erat dengan keberadaan kraton, hal itu dikarenakan sebuah pesanggrahan dibuat untuk kepentingan raja beserta kerabatnya. Mengingat fungsinya yang berhubungan dengan ketenangan dan kenyamanan, maka pesanggrahan pada umumnya dilengkapi dengan taman, kolam, segaran, kebun, dan fasilitas religius yang dapat memenuhi persyaratan sebagai sebuah tempat peristirahatan. Fungsi lain yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai salah satu tempat untuk pertahanan. Hal itu dapat dilihat dari adanya tata rancang bangun struktur bangunan, tata ruang letak bangunan, fasilitas pelengkap pengamanan dan penjagaan, baik berupa tempat penjagaan maupun benteng tinggi. 

Baca juga : Peran akulturasi budaya dalam pembentukan identitas

Oleh karena itu tidak mengherankan jika Sultan Hamengku Buwono I membangun Kraton dengan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung keberlangsungan eksistensi kerajaan, diantaranya dengan membangun pesanggrahan (tempat pesiar), benteng keliling di dalam (cepuri) maupun diluar kedaton (baluwarti), jagang (parit dalam di sekeliling benteng), dan beberapa pemukiman abdi dalem.

Berbeda dengan bangunan kraton, pesanggrahan merupakan tempat yang dibangun untuk istirahat, rekreasi, beribadah, perlindungan, atau beraktivitas keluarga kerajaan. Lokasi bangunan pesanggrahan mempunyai ciri khas tersendiri. Misalnya, selalu dibangun berdekatan dengan sumber air atau ada kolam di sekitar area bangunan. Selain itu, terdapat gapura serta pagar keliling yang dibangun di sekitar pesanggarahan. Di sekeliling bangunan pun sering ditemukan taman atau kebun buah-buahan (Gupta, 2007: 65). Jadi, keberadaan pesanggrahan ini memiliki nilai penting dalam khasanah dan dinamika sejarah Kraton Yogyakarta. Bukan hanya sebagai sarana rekreasi, namun pesanggrahan turut memperkuat benteng pertahanan dan sarana kontemplasi dalam memperoleh inspirasi.

Denys Lombart berpendapat bahwa pendirian suatu pesanggrahan merupakan indikasi bahwa pada masa itu sudah ada kekhawatiran kekurangan binatang buruan (Lombard, 1983: 246). Pendirian pesanggrahan di sini dimaksudkan antara lain untuk mensuakakan binatang buruan. Dalam ha) ini tentunya tindakan tersebut cenderung dilakukan untuk kepentingan pribadi.  Pada kompleks pesanggrahan biasanya dijumpai unsur air yang diwujudkan dalam bentuk kolam ataupun danau buatan, tumbuh-tumbuhan, bangunan, serta tembok keliling. Masing-masing unsur tersebut dirancang untuk menunjang fungsi pesanggrahan (Dewi, 1985: 63).

Selain fungsi-fungsi tersebut, tampak pula adanya fungsi lain dari pesanggrahan. Sebagai contoh, bangunan urung-urung atau lorong bawah tanah serta bangunan Pulo Cemethi yang digunakan sebagai tempat pengawasan apabila musuh datang, serta adanya jenibatan angkat, menyirafkan adany a fungsi pertahanan pada bangunan pesanggrahan.

Di samping fungsi pertahanan, terdapat pula fungsi lain dalam sebuah pesanggrahan, yaitu fungsi religius. Hal ini dapat dilihat dari adanya tempat untuk beribadah maupun tempat untuk bersemedi pada beberapa pesanggrahan.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di (0812-3299-9470).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *