Makna Datun Kendau pada Masyarakat Kenyah di Desa Budaya Pampang

Dayak kenyah merupakan Suku Dayak yang termasuk ke dalam rumpun Apo kayan, selain mereka juga terdapat Dayak Kayan dan Dayak Bahau. Salah satu tradisi Dayak kyah yang merupakan warisan secara turun-temurun adalah Datun Kendau. Pada tahun 1986 Di Long Segar Kalimantan Timur, datun kendau dibawakan bernyanyi dengan bersahut-sahutan. Para penari berjalan kecil sambil menari, hingga membentuk sebuah lingkaran. Namun saat ini, pada masyarakat Kenyah, Datun kendau sudah mengalami banyak perubahan, yang lebih cenderung menambahkan Sampe, dan perubahan sahutan. Para penari berjalan kecil sambil menari, hingga membentuk sebuah lingkaran. Namun saat ini, pada masyarakat Kenyah di Desa Budaya Pampang, datun kendau telah bnyak mengalami perubahan Sampe, dan perubahan lirik lagunya ke bahasa Kenyah yang umum digunakan di Desa Pampang. Perubahn yang terjadi menyebabkan hilangnya vokal bersahut-sahutan pada datun kendau yang merupakan ciri khas kesenian ini.

Perubahan makna dan nilai-nilai dalam datun kendau merupakan suatu proses dalam memenuhi kebutuhan ekonimi, kebutuhan yang terjadi di luar diri manusia akan terus berubah dan bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Faktor penyebab pergeseran makna dan nilai merupakan bentuk adaptasi untuk berubah dari keadaan sebelumnya. Terciptanya realitas makna datun kendau pada masyarakat kenyah melaui jejak-jejak seperti lingkungan, status sosial dan kebutuhan ekonomi. Sumber-sumber jejak terciptanya realitas tersebut melalui ide atau gagasan sebagai berikut:

  1. Suatu cara beradaptasi dengan pariwisata dan minat generasi muda

Perubahan makna dari datun kendau ini dapat dilihat dari pergeseran makna sebelum ditetapkannya Desa Pampang sebagai destinasi wisata. Dengan ditetapkannya sebagai destinasi wisata merupakan hal baru bagi masyarakat. Hal tersebut harus selalu didukung oleh proses penciptaan kembali tradisi-tradisi Kenyah. Penciptaan atau konstruksi kembali tradisi kenyah harus disesuaikan dengan selera generasi muda. Adaptasi ini pasti ada sisi negatif dan positifnya. Dampak negatif yakni tradisi-tradisi yang diciptakan kembali tidak sepenuhnya diikuti atau dihayati oleh masyarakat, hal ini trjadi karena masyarakat menganggap bahwa tradisi yang ditampilkan merupakan formalitas pertunjukan yang dapat menguntungkan mereka. Disamping itu, keaslian dari tradisi tersebut menjadi tidak terlestarikan karena harus beradaptasi dengan minat pelaku kesenian muda. Dampak positifnya kesenian-kesenian dapat terlestarikan dan merupakan suatu tradisi yang diminati oleh generasi muda. Hal ini akan terjadi ketika tradisi yang sudah disesuaikan dengan selera generasi muda yang kemudian dapat menguntungkan bagi pelaku kesenian.

  1. Komunikasi yang terputus antara generasi muda

Faktor penghambat pelestarian budaya Kenyah di Desa Pampang ada pada masyarakat itu sendiri, seperti kurangnya keterlibatan generasi muda, sehingga terjadi degradasi budaya Kenyah, transger pengetahuan tentang kekayaan dan keunikan nilai dan bentuk budaya Dayak Kenyah dari generasi yang lebih tua ke yang muda tidak lancar. Bergesernya makna dan nilai-nilai dalam datun kendau pada masyarakat Kenyah, disebabkan juga karena adanya komunikasi yang terputus dengan generasi tua. Hal itu terjadi karena generasi tua dalam memberikan pengetahuan tentang tradisi tidak sepenuhnya kepada generasi muda. Hal ini bisa karena kesibukan generasi tua lantaran pekerjaan baik berladang, berkebun bahkan sibuk dalam menyiapkan jualan kepada wisatawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *