Makna Filosofis pada Busana Pengantin Wanita Tradisional Suku Rejang

Sebagai negara yang kaya akan suku dan bangsa, setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki kekhassan sendiri. Baik sandang, papan, maupun pangannya. Pastinya setiap masing-masing daerah memiliki makna tersendiri. Untuk di Kepahiang sendiri terdapat busana pengantin wanita tradisional khas yang berasal dari suku Rejang.

Suku Rejang atau biasa disebut Tun Jang merupakan salah satu suku tertua di Pulau Sumatra yang menduduki sebagian besar wilayah Bengkulu. Suku ini memiliki banyak kebudayaan yang dibalut dengan prosesi tradisi untuk memuliakan adat istiadatnya. Salah satu prosesi tradisi yang ada di suku Rejang adalah bimbang balai atau bimbang kejei. Bimbang balai merupakan salah satu jenis upacara perkawinan atau pernikahan yang diselenggarakan di balai adat (balai panjang) lengkap dengan sesajen yang dipersiapkan oleh tuan rumah. Dalam acara ini, pengantin wanita memakai busana yang masing-masing item nya memiliki makna filosofis, diantaranya sebagai berikut:

  1. Baju kurung tabur (kurung nyawe), bermakna keindahan, selain itu bermakna juga bahwa seorang wanita suku Rejang harus memiliki hati yang lapang dan jiwa yang luas.
  2. Kain songket, bermakna seorang wanita harus memiliki kebijaksanaan. Kain songket yang digunakan bermotif mato ponoi yang bermakna harapan agar dalam kehidupannya nanti berhasil. Kain songket sendiri memiliki makna kebijaksanaan seorang wanita dalam suatu tindakan dan langkah.
  3. Sunting tapung/beringin, bermakna bagaimana tanggung jawab seorang wanita dalam kehidupan berumah tangga dapat berbau harum seperti bunga.
  4. Tusuk burung-burung, bermakna bahwa seorang wanita sekarang sudah mendapat tempat menetap. Dimana burung-burung melambangkan seorang wanita ibarat burung yang tidak ada tempat hinggap selama muda, kemudian mendapatkan ranting sebagai tempat hinggap dari pagi sampai petang.
  5. Pita-pita, bermakna harapan mempelai agar bisa hidup rukun dan damai, mampu menghadapi masa depan serta mampu mencapai tujuan hidup berumah tangga yang baik dan cerah kedepannya.
  6. Kalung bandoak, bermakna kehidupan suami istri setelah berumah tangga perlu adanya uang.
  7. Ke’is(keris), bermakna senjata dalam menjaga diri.
  8. Selop, bermakna harus menjaga serta merahasiakan kehidupan berumah tangganya, di buktikan dengan bagian depan selop yang dibuat tertutup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *