Makna Tradisi Nyebuh dalam Budaya Madura di Desa Sungai Jawi Kota Pontianak

Indonesia mempunyai banyak sekali tradisi atau budaya di dalamnya. Tradisi bukan saja berfungsi sebagai ritual, namun juga sebagai media pembelajaran di level daerah untuk menjadikan masyarakat lebih bermoral, religius dan humanis. Nilai-nilai ini juga dapat kita temukan dalam kebudayaan Nyebuh. Nyebuh merupakan tradisi ritual berbentuk selamatan yang diperingati keseribu harinya orang yang meninggal, sebab roh akan berpamitan dan pergi selama-lamanya ke alam lain.

Berbicara adat, bagi Masyarakat Madura, selamatan kematian tidak hanya berlangsung selama 7 hari. Namun terus berkelanjutan pada selamatan berikutnya, yakni 40 hari (pa’polo), 100 (Nyatos), 1 tahun (haul) hingga puncaknya 1000 hari (nyebuh). Nyebuh sendiri berasal dari kata seebuh yang berarti ‘seribu’. Tradisi nyebuh atau selamatan seribu hari kematian mempunyai tujuan bahwasanya tanggung jawab seorang keluarga yang berduka sudah pada tahap puncaknya. Hal ini dipertegas oleh pendapat lain bahwa 1000 hari kematian seseorang sudah pada tahap akhir dalam selamatan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan setiap tanggal kematian orang tersebut, sanak saudara ataupun keluarga yang ditinggal juga mesti melakukan selamatan.

Tradisi selamatan awalnya diadakan untuk berterimakasih kepada para dewa dan leluhur atas nikmat yang diberikan. Tradisi ini dilakukan dengan menyiapkan berbagai jenis makanan untuk dijadikan sesajen. Setelah Islam masuk, selamatan diartikan sebagai suatu acara yang diadakan sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT.selamatan ini dilakukan dengan kehadiran beberapa anggota masyarakat yang didepannya disajikan berbagai jenis makanan dan dilakukanpembacaan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT oleh tokoh terkemuka dalam masyarakat tersebut. tradisi ini biasa di sebut dengan “tahlilan.”

Bagi masyarakat Madura, tradisi Nyebuh ini acara besar, sehingga banyak mengundang masyarakat. Sekarang tradisi ini telah mengakar sebagai ritual keislaman yang mana masyarakat satu dan yang lain saling melengkapi. Hal ini karena dalam tradisi Nyebuh terdapat ritual keislaman yang selalu dilakukan oleh masyarakat, seperti khataman Al-quran, dzikir,shalawat dan diakhiri dengan doa yang dihadiahkan kepada almarhum atau orang  yang telah meninggal. Namun dalam hal ini terdapat nagian ritual yang masih disangsikan seperti membakar dupa dan kemenyan. Hal ini menunjukkan adanya kenyataan dari konversi agama masyarakat nusantara yang telah berlangsung seratus tahun sebelumnya.

Prosesi Nyebuh dihadiri oleh beberapa orang yang dianggap cukup untuk mendoakan almarhum, mengingat ada prosesi khataman al-quran dalam satu waktu berarti minimal terdapat 30 orang yang hadir untuk mendoakan agar satu orang terbagi membaca satu juz. Acara ini diawali oleh tuan rumah mengeluarkan tumpng (Bejemuk), serta pernak-pernik perlengkapan tradisi, seperti kocot (cucur), kue apem, satu ekor ayam panggang dan perlengkapan orang yang meninggal yang di taruh dalam sebuah nampan besar. Kalau yang meninggal laki-laki, isi nampannya berupa sarung, peci, sajadah, naju, celana, tikar, bantal, sandal, gelas, piring, kopi dan semangkuk beras. Jika perempuan yang meninggal isi nampannya berupa, baju, mukena, sandal, sajadah, payung, tikar, bantal dan semangkuk beras.  Setelah itu, sebagian orang Madura akan mendoakan dengan kalimat “Oh iye, manter terk’ah kopurreb” yang berarti “semoga kuburannya terang karena amalan-amalan baik yang dilakukan selama masih hidup.” Kemudian, isi nampan memiliki makna sebagai bekal orang yang meninggal dan disedekahkan kepada orang yang membacakan doa bagi almarhum atau disedekahkan kepada orang yang membacakan doa bagi alamarhum atau disedekahkan ke pondok pesantren. Masyarakat Madura percaya, ketika kita menyedekahkan semua perlengkapan tadi dan digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dalam hal kebaikan maka akan menjadi sebuah amal jariyah untuk orang yang sudah meninggal.

Ketika menyelenggarakan tradisi Nyebuh keluarga almarhum akan menyajikan hidangan yang cukup beragam, tergantung dengan kemampuan ekonomi keluarga yang meninggal. Tujuan dari pemberian hidangan pada selamatan ini adalah untuk menjamu tamu atau menghormati tamu yang hadir. Selain itu, setelah acara selesai tuan rumah juga memberikan berkat untuk dibawa pulang sebagai sedekah tuan rumah. Orang Madura meyakini bahwasanya doa yang dibacakan dan sedekah yang diberikan akan sampai kepada almarhum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *