Mengenal “Calengsai” Aset Budaya Banyumas

Calengsai merupakan akronim dari Calung, lengger dan barongsai. Calengsai merupakan salah satu kesenian tradisional di Banyumas yang tercipta karena adanya kolaborasi antarmasyarakat dan antarbudaya masyarakat Banyumas dan Tionghoa.

Penyatuan calung dan lengger ini bertujuan untuk mengembangkan perekonomian di Purwokerto, khususnya pengembangan kesenian, salah satunya adalah kesenian barongsai. Kesenian Barongsai adalah salah satu kesenian yang pada awalnya sama dengan kesenian calung dan lengger, memiliki fungsi ritual yang biasanya dipentaskan pada perayaan-perayaan keagamaan, misalnya imlek, cap gomeh dan lain-lain.

Awalna pertunjukan barongsai ini hanya terbatas pada rumah ibadah mereka saja, yaitu klenteng untuk memperingati perayaan-perayaan keagamaan yang mereka miliki. Yang kemudia mereka membentuk grup kesenian barongsai dengan anggota yang hanya terdiri dari umat yang beribadah di kelenteng saja. Seiring berkembangnya waktu, pertunjukan barongsai pun mengalami pergeseran yang semula lebih pada fungsi ritual, menjadi fungsi hiburan jika dikaitkan dengan faktor ekonomi, sosial masyarakat dan politik.

Untuk mempertahakan kesenian ini, maka dibutuhkan regenerasi. Sekarang regenerasi bukanlah hal yang mudah, karena membutuhkan waktu yang panjang serta tidak banyak remaja saat ini yang menganggap bahwa seni rtradisional merupakan seni kuno yang tidak menarik.

Menyikapi hal diatas, maka seni pertunjukan tradisional harus dilakukan inovasi agar menarik dan bernilai jual. Inovasi tersebut harus bisa dibuat dengan yang bisa beradaptasi dengan masa kini yang dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Calangsai diharapkan menjadi jawaban terhadap kurangnya minat terhadap seni tradisional ini. ini juga merupakan tidakan, ide, atau produk untuk mengganti sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru.

Agar suatu kesenian tradisional bisa tetap bertahan di era modernisasi saat ini maka dibutuhkan negosiasi budaya. Negosiasi budaya ini dilakukan kembali dengan tujuan sebagai usah apemertahanan, sebagai upaya mempromosikan kesenian calengsai maka dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Calengsai tercipta atas pengaruh kekuasaan yang ada saat itu, pada awalnya calengsai hanya salah satu kesenian tradisional berubah menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai jual tingggi sebagai salah satu identitas masyarakat Banyumas.

Untuk dapat mejadi salah satu komoditas yang bernilai jual, calengsai melakukan beberapa penyesuaian pada segi kostum, aksesoris, alat pengiring dan lagu dalam beberapa penampilan. Hal ini dilakukan karena calengsai memasuki era globalisasi dengan masyarakat modern didalamnya. Dengan memasuki ranah yang berbeda, berbeda pula selera pasar dan tuntutan penonton terhadap kesenian. Jika tidak dilakukan penyesuaian, maka dipastikan calengsai akan mengalami mati suri atau akan mati selamanya. Negosiasi budaya inilah yang kemudian dapat menciptakan calengsai menjadi satu komoditas yang bernilai jual tinggi. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor prnunjang percepatan perkembangan pariwisata di Banyumas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *