Mengenal Nilai Budaya Pangan di Kampung Adat Cireundeu

Kampung Adat Cirendeu merupakan salah satu kampung adat yang masih menjaga nilai-nilai peninggalan leluhurnya, salah satunya adalah budaya dalam mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok keseharianya. Kebudayaan tersebut memiliki nilai tersendiri yang membentuk ciri khas budaya Kampung Adat Cirendeu dibandingkan dengan kampung-kampung adat lainya di Indonesia.  Kampung Adat Cireundeu sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Jawa Barat terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.  Masyarakat Kampung Adat Cireundeu sebagian besar masih konsisten memeluk kepercayaan dari leluhur yaitu kepercayaan Sunda Wiwitan serta terus melestarikan budaya dan adat istiadat hingga saat ini.

Salah satu daya tarik dari Kampung Adat Cireundeu sebagai salah destinasi wisata di Kota Cimahi yaitu pada singkong yang menjadi makanan pokok sehari-hari masyarakat adat. Hal itu menjadikan keunikan dari masyarakat Kampung Adat Cireundeu, dimulai dari mengkonsumsi  singkong,  tatacara  ataupun  ritual  yang  dilakukan  mulai  dari  menanam, panen  singkong  hingga  menjadi  beras  singkong  (rasi).  Selain  berwisata,  wisatawan  akan diberikan  edukasi  mengenai  kesenian  adat,  alat  musik,  ritual-ritual  dan  pengetahuan mengenai makanan pokok dari singkong yang bertujuan untuk mengubah konsep pemikiran wisatawan bahwa sumber pangan tidak hanya nasi yang berasal dari padi.

Singkong  menjadi  komoditas  utama  bagi  masyarakat  Kampung  Adat  Cireundeu karena  menjadi  makanan  pokok  dan  sebagian  besar  masyarakat  mata  pencahariannya sebagai  petani  singkong.  Alasan  singkong  yang  menjadi  bahan  makanan  pokok  Kampung Adat Cireundeu adalah karena dari letak geografisnya yaitu perbukitan yang cocok untuk dirtanami singkong. Berawal dari sebuah bentuk perlawanan terhadap penjajah Belanda, dimana  hasil  panen  masyarakat  diambil  paksa.  Untuk  memperjuangkan  kemerdekaan, maka  dibutuhkan  sumber  tenaga  berupa  pangan.  Maka  dari  itu  para  leluhur  melakukan peralihan  pangan  dari  nasi  menjadi  singkong.  Singkong  dijadikan  makanan  pokok  bagi masyarakatKampung Adat Cireundeu dimulai sejak tahun 1918.

Baca Juga : Staycation Berkedok Healing

Nilai budaya masyarakat Kampung Adat Cireundeu menjadikan daya tarik sendiri bagi  wisatawan  yaitu  pada  produk  singkongnya,  dapat  dilihat  dari  segi  asal  usulnya  dan proses pembuatan singkong tersebut sehingga menjadi rasi, maka dari itu dilarang untuk tidak menghabiskan makanan yang sedang dikomsumsi atau yang sudah disediakan. Hal itu dikarenakan sebagai bentuk menghargai prosesnya pembuatan makanan. Ditengah hingar bingarnya  adat  istiadat  atau  kebiasaan  yang  sudah  modern  dan digitalisasi ini, suatu nilai budaya menjadi salah satu faktor penting dalam rangka menjaga nilai-nilai tradisi lelehur ataupun warisan nenek moyang yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Kampung Adat Cireundeu memiliki potensi yang besar bila dijakan sebagai daya tarik wisata, salah satunya pada kebiasaan masyarakat kampung adat pada makanan pokok yang dikonsumsi berupa singkong yang diolah menjadi rasi (beras singkong). Dimulai darilahan perhutanan yang dibagi sesuai fungsinya masing-masing, prosesi atau ritual menanam singkong hingga panen, hingga proses pengolahan menjadi rasi. Hal ini merupakan salah satu keunikan yang dijadikan tujuan wisata wisatawan. Baik wisatawan nasional hingga wisatawan internasional.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *