Museum Samanhudi, Pahlawan Dari Kaum Pedagang

Di Solo, lahir seorang pahlawan dari golongan pedagang, yakni Haji Samanhudi. Untuk mengetahui kisah dan jejaknya, pengunjung bisa mendatangi Museum Samanhudi, kuburan Samanhudi, dan rumah Samanhudi yang diberi oleh Presiden Soekarno. Beberapa titik lokasi tersebut menjadi lorong waktu memahami sosok H. Samanhudi (1868-1956), tokoh pergerakan yang mengguncang jagad nasional.

Ditinjau dari segi pendidikan, ia tidak “secerdas” Sukarno maupun Tan Malaka. Samanhudi mengeyam sekolah volks school (sekolah rakyat) selama 6 tahun. Lantas, menginjakkan kaki di Madiun untuk masuk HIS (Hollansch Indische School). Pelajaran sekolah dan buaian para guru Eropa tak membuatnya betah berlama-lama di ruang kelas. Memilih meninggalkan bangku sekolah di saat umur 13 tahun dan menceburkan diri dalam usaha batik milik orang tuanya. Artinya, ide nasionalismenya tidak disuburkan di sepetak kamar, namun di lapangan politik-ekonomi batik.

Dalam buku biografi Samanhudi yang ditulis Muljono dan Sutrisno (1983) menjelaskan, pria yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun 1961 itu mengajak para pengusaha mengobarkan perlawanan dengan mendirikan Rekso Rumekso (1908), Sarekat Dagang Islam (1911) yang kemudian bersalin nama menjadi Sarekat Islam (1912). Samanhudi yang juga bakul batik ini rela perusahaannya gulung tikar demi menggapai cita-cita bangsa. Semula, perusahaannya berkembang hingga membuka cabang di Tulungagung, Bandung, Purwokerto, Surabaya, Banyuwangi, Ponorogo, dan Batavia. Saking sibuknya berorganisasi, dia harus ikhlas menelan pil pahit, yakni ditinggal pergi istri pertamanya bersama 8 anaknya. Usaha Samanhudi memerangi kolonialisme dan feodalisme bermuara pada kemantapan hati untuk rela berpisah dengan keluarga.

Sukar diragukan laku getir lelaki yang bernama kecil Sudarno Nadi itu takkala melawan arogansi Belanda dan Tionghoa tidak memakai pedang, melainkan gagasan dan nyali. Ia berhasil menumbuhkan nasionalisme di bidang ekonomi. Era kolonial, pribumi hanyalah sebagai buruh yang dipekerjakan di perusahaan perkebunan milik Eropa dan Tionghoa. Samanhudi gigih mengajak pedagang pribumi menciptakan kemandirian ekonomi dan bertahan dari kompetisi bisnis yang tak sehat. Melalui SDI, tokoh pergerakan ini mengenalkan pentingnya AD/ART supaya arah organisasi di masa depan jelas. AD/ART organisasi yang dinakhodai Samanhudi meliputi: agama Islam sebagai dasar perjuangan, asas kerakyatan menjadi dasar himpunan organisasi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat yang berkumbang dalam kemelaratan akibat cengkeraman feodalisme dan kolonialisme.

Dengan merangkul pengusaha batik untuk unjuk kekuatan dalam kancah politik nasional, Samanhudi merapatkan barisan perlawanan bersama kelompok lain sekaligus meruntuhkan mitos pribumi pemalas. Kesadaran berpolitik kaum juragan detik itu ditanamkan sebaik mungkin oleh Samanhudi. Tak ayal, Belanda ketar-ketir sebab bakal mengganggu keamanan dan ketertiban umum. Begitulah potret perjuangan Samanhudi yang melampui zamannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *