Nande-nande Perengge-rengge: Pencari Nafkah, Kesetaraan Gender dan Role Model di Ruang Publik Kota Medan

Pencari Nafkah dan Role Model di Ruang Publik Kota Medan – Kota Medan merupakan kota plural yang terdiri dari beragam etnik yakni etnik Melayu, Karo, Tionghoa, India, Mandailing, Toba, Simalungun, Aceh, Jawa dan Minangkabau. Nande-nande Perengge-rengge dalam penelitian ini adalah perempuan Karo yang bekerja sebagai pedagang eceran sayur-mayur di Pasar Raya Medan Metropolitan Trade Centre (MMTC) di Kota Medan. Mereka bekerja menjajaki dagangan sayur-mayur biasanya kol, wortel, sawi, tomat, cabe, bawang dan lain-lain dari dini hari sampai larut malam. Modal kerja keras, kemauan tinggi, dan mengandalkan modal ekonomi dan sosial terbatas, Pendidikan dan pengalaman yang kurang memadai mereka mampu membangun usahanya mulai dari bawah sampai keberhasilan ditangan mereka. Mereka bukan perempuan biasa yang hanya bisa berpangku tangan mengharap uang dari suaminya, bukan hanya mengurusi urusan domestik dapur, sumur, Kasur (3R) melainkan mereka bekerja keras siang dan malam di ruang publik demi pemenuhan kebutuhan keluarga: sandang, papan, pangan dan pendidikan anak-anak mereka melainkan memposisikan kembali posisi perempuan yang terisolir “ketidakadilan gender” dalam kungkungan budaya Karo yang patrineal. Keberhasilan Nande-nande Perengge-rengge di ruang publik membuktikan bahwa posisi perempuan setara dengan laki-laki (bahkan lebih tinggi) secara sosial dan ekonomi dimata masyarakat yang semakin modern. Pencari Nafkah dan Role Model di Ruang Publik Kota Medan – Menurut Tarigan peran perempuan Karo memiliki situasi yang paradoksal. Disatu sisi dalam adat Karo hanya sebagai pelengkap saja, perempuan karo tidak dapat berperan sebagai pengambil keputusan/juru bicara, namun disisi lain peran ekonomi keluarga, perempuan menjadi ujung tombak ekonomi keluarga Batak Karo. Steedly dalam Klenke menyebutkan posisi perempuan berada pada ketidaktentuan posisi bagi otonomi perempuan baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Pandangan konservatif memandang peran perempuan Karo dari dulu sampai sekarang tugasnya hanya memasak. Peran perempuan hanya berada di ruang domestik saja padahal kajian historis terutama pada era kolonial sampai kemerdekaan perempuan sangat berperan dalam ruang publik tidak di ruang domestik saja. Era kolonial, para misionaris menyebutkan bahwa selama mereka tinggal di Tanah Karo mereka tidak berhasil merekrut satupun perempuan Karo sebagai pembantu rumah tangga, perempuan Karo lebih mimilih berkerja menjadi penjahit atau perawat di sekolah misi untuk mendapatkan uang. Baca juga : Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal: Studi Kasus Tradisi Ngaturi di Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri Untuk informasi lebih lanjut mengenai kajian kami, anda dapat menghubungi Admin kami di nomor (0812-3299-9470) Top of Form .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *