Napak Tilas Serat Centhini

Museum Radya Pustaka dan Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran menyimpan naskah Serat Centhini. Mahakarya ini disusun secara keroyokan mulai tahun 1814-1823. Kerja kebudayaan tersebut menelan ongkos 10.000 ringgit emas lebih. Amangkunegara III yang kelak ditemploki gelar Sinuwun Sugih ini menghimpun para sastrawan keraton untuk menggarap sebuah kodifikasi sistem pengetahuan mengenai Jawa. Memahami budaya asli dan manusia Jawa terancam oleh kekuasaan dan kebudayaan asing, para pujangga pun sendika dawuh dan segera bergerak.

Barisan penulis diisi oleh Kyai Ngabehi Ranggasutrasna yang menguasai seluk-beluk bahasa dan sastra Jawa. Disusul Kyai Ngabehi Yasadipura II yang punya keahlian di bidang kebudayaan Jawa. Dan terakhir, Kyai Ngabehi Sastradipura yang fasih mengupas agama Islam dan bahasa Arab. Agar dapat bekerja maksimal dan tidak saling bertabrakan, maka rute perjalanan memulung data lisan dipisah. Tokoh yang disebutkan pertama tadi diperintahkan menyusuri separo badan pulau Jawa bagian timur, mulai kota kerajaan Surakarta hingga tlatah Banyuwangi. Langkah berderap dari Jawa Tengah sebelah utara dan pulangnya melewati Jawa Timur bagian selatan.

Kemudian, Yasadipura II ditugasi mengitari sebagian pulau Jawa sisi barat, dari Kota Solo sampai Anyer. Melenggang dari Jawa Tengah sebelah utara dan balik melalui Jawa Barat bagian selatan. Sastradipura diminta naik haji ke Mekah dan bermukim di sana beberapa lama demi memperdalam pengetahuan agama Islam. Begitu pulang ke Jawa, tokoh tersebut bersalin nama menjadi Kyai Haji Muhammad Ilhar. Selama kluyuran di lapangan, mereka mencatat dan mengingat-ingat apa yang dijumpainya.

Centhini dengan gamblang menyebut Pacitan, Panaraga, Kediri, Trenggalek, Banyuwangi, Lumajang, Pasuruan, Banten, Bogor, Majalengka, Cilacap, Demak, Wonosobo, Prambanan, Gunung Kidul, Mataram, dan kawasan lainnya di sekujur Pulau Jawa. Semakin asyik manakala daerah yang diceritakan pujangga bukan melulu pemukiman penduduk. Namun juga perbukitan, lembah, hutan, ngarai dekat sungai, laut, dan pesisir pantai. Ada pula Gunung Sindara, Tidar, Merapi, Lawu, Semeru, Tengger, Salak, Padhangean, Kalak, Dalepih, Dalem, Mangora, dan Jakatua.

Sederetan wilayah yang disebutkan para pujangga menjadi simpul-simpul perekat kebudayaan Jawa. Rute blusukan tak kudu sama persis dengan rute di dalam Centhini. Jalurnya dipangkas supaya menghemat ongkos, waktu, dan jarak. Napak tilas bersifat tematik mengikuti kebutuhan yang paling mendesak. Dengan begitu, kegiatan untuk melek sejarah ini dapat berkesinambungan.

Ambillah contoh, napak tilas kuliner guna merekonstruksi dan melacak sejarah aneka makanan di permulaan abad XIX. Keragaman makanan yang tertuang dalam Centhini ialah warisan budaya yang kini banyak yang hilang, sulit ditemui lagi di meja makan. Kemudian, tahun berikutnya digelar acara blusukan bertema keris, adat-istiadat, norma, arsitektur, pertanian, ilmu sulap, kesenian, seksiologi, filsafat, sastra, karawitan, tari, primbon, horoskop, kuliner, jamu, hingga bangunan bersejarah di Jawa.

Yang jelas, tujuan napak tilas bukan ajang nostalgia atau menghidupkan paham etnosetrisme. Melainkan, menggugah kesadaran masyarakat lintas daerah melestarikan kebudayaan lokal dan mengokohkan jatidiri manusia Indonesia di tengah ancaman gelombang modernisasi yang merontokkan satu per satu elemen budaya lokal.

Bagaimanapun, mendayagunakan naskah tua karya anak negeri dengan kegiatan napak tilas pada dasarnya sama dengan merawat ingatan kolektif bangsa. Selain babon ilmu pengetahuan Jawa, serat kuno ini merupakan bukti kerja konkrit leluhur menyelamatkan kekayaan budaya lokal agar tidak tenggelam. Di samping bentuk penghormatan kepada leluhur atas kerja kebudayaan tersebut, blusukan adalah cara kita menguatkan identitas budaya. Ayo, blusukan Centhini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *