Nganggung Sepintu Sedulang

Nganggung sepintu sedulang merupakan tradisi makan bersama, yang biasa dilakukan masyarakat pada saat memperingati hari besar Agama Islam seperti Isro Miroj, Muharram dan sebagainya. Nganggung Sepintu sedulang mempunyai ciri khas yakni masyarakat yang membawa makanan ke masjid dengan menggunakan dulang dengan tutup yang disebut “tudung saji” dengan dominasi warna merah dan hijau. Makanan yang dibawa tersebut biasanya akan dihidangkan pada masyarakat setempat yang hadir dari berbagai kalangan termasuk wisatawan.

Tradisi Nganggung dapat dikatakan salah satu identitas Bangka, sesuai dengan slogan sepintu Sedulang, yang mencerminkan sifat kegotongroyongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Aktifitas gotong royong pada tradisi Nganggung terlihat dari masyarakat yang berbondong-bondong membawa makanan dari rumah masing-masing ke Masjid. Makanan yang mereka bawa akan dihidangkan secara sukarela sebagai bentuk syukur kepada Allah swt dan memperkuat tali silaturrahmi.

Makna simbolik pada tradisi ini adalah:

  1. Nganggung sepintu dulang, makan bersama yang biasanya dilakukan masyarakat pada saat memperingati hari besar islam, bermakna sebagai ungkpaan syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunianya yang telah diberikan.
  2. Tudung saji, penutup makanan berbentuk setengah lingkaran berwaena-warni bermakna bahwa tudung saji melindungi makanan dalam dulang sehingga terjaga kebersihannya saat dikonsumsi, selain itu agar makanan maupun orang yang membawa makanan tersebut terlepas dari marabahaya dan mendapat perlindungan dari Allah SWT.
  3. Warna tudung saji, biasanya ada tiga warna dominan yakni merah, kuning dan hijau. Warna merah berarti memberikan keberanian, kekuatan, dinamis dan kritis serta pantang menyerah, warna kuning mengandung makna keagungan, ketenangan dan memberikan kehangatan dan optimisme, warna hijau mencerminkan sikap keramahan, kesurupan, kekeluargaan dan persahabatan. Selain itu, dapat diartikan sebagai gradasi nada dalam spektrum cahaya.
  4. Bahan pembuatan tudung saji, berbahan dasar tanaman pandan berduri atau daun mengkuang yang dianyam yang menyimbolkan bentuk penghormatan terhadap nenek moyang yang telah secara turun temurun mewariskan budaya tersebut.
  5. Dulang, biasa juga disebut nampan yang berbentuk bulat berbahan kuningan atau besi dengan motif hiasan bunga. Ini bermakna masyarakat Bangka adalah masyarakat yang dinamis dan fleksibel yang mampu mengikuti perkembangan zaman namun tidak meninggalkan nilai-nilai budaya daerahnya.
  6. Makan berhadap-hadapan da ragam jenis makanan, bermakna tidak membedakan status sosial. Makanan yang disajikan juga memiliki makna susah senang ditanggung bersama-sama.

Selain itu, terdapat nilai persatuan dan kesatuan umat islam /silaturahmi, tidak membedakan status sosial. Hal ini tergambarkan dari bagaimana masyarakat Bangka dalam melaksanakan tradisi tanpa memandang status sosial antara si kaya dan si miskin, masyarakat biasa atau pejabat, ras, suku dan sebagainya. Nilai masyarakat yang selalu bersyukur atas nikmat dan perlindungan dari Allah SWT dan kepedulisn sosial. Nilai semangat dan pantang menyerah yang tergambar pada kegigihan masyarakatnya dalam mempersiapkan kegiatan tradisi nganggung yang tergolong acara besar, dalam mengkoordinir acara hingga pada akhirnya selalu optimis acara akan berlangsung dengan lancar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *