Ngidang

Ngidang merupakan tradisi makan khas daerah Palembang yang sudah dilakukan sejak zaman kesultanan di Palembang. Tradisi ini memiliki tujuan untuk mempererat tali silaturrahmi, gotong royong, dan sekaligus memuliakan tamu. Ngidang juga biasa disebut dengan idangan merupakan tradisi leluhur peninggalan kesultananPalembang Darussalam dari Sultan Mahmud Baddarudin, sehingga banyak sekali makna yang terkandung dalam tradisi ini.

Ngidang merupakan tata caraatau metode penyajian makan yang dilakukan diatas kain secara lesehan (bersila). Ngidang merupakan akulturasi dari budaya pendatang yakni Cina dan Arab yang dibuktikan dengan adanya Kampung Kapitan dan Kampung Arab. Dalam pelaksanaanya, ngidangdilakukan oleh maksimal 8 orang yang duduk bersila membentuk lingkaran diatas kain atau dalam bahasa Palembang disebut sepra. Diatas kain tersebut diletakkan terdiri dari nasi yang diletakkan diatas dulang, kemudian disandingkan juga dengan pulur dan lauk pauk serta air miunum yang disusun secara melingkar.

Dalam prosesnya, terdapat nama-nama yang digunakan untuk menyebut petugas yang menyajikan ngidang ini seperti, panggung yang digunakan sebagai sebutan orang yang memasak atau juru masak, sedangkan kegiatan masaknya disebut dengan manggung. Kemudian ngobeng merupakan sebutan bagi petugas yang melayani atau menyajikan makanan dari dapur sampai diatas sepra.

Dalam pelaksanaannya, tradiisi ini memiliki tata cara yang khas dan memuat nilai-nilai kebaikan didalamnya. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:

  1. Petugas akan membentangkan kain sebagai alas tempat ngidang. Kain yang digunakan memiliki motif tertentu dan berwarna. Hal ini dimaksudkan agar kain tersebut tidak mudah kotor jika terkena percikan dari kuah hidangan.
  2. Petugas ngobeng membawa nasi dalam wadah yang disebut dengan dulang. Pada masa kesultanan, pembuatannya menggunakan bahan kayu tembesu karena jenis ini termasik bahan yang dirasa kuat dan dapat bertahan cukup lama. Dulang pada masa kesultanan Palembang memiliki motif-motif tertentu yang disebut Motif ini merupakan pengaruh dari budaya Cina, hal ini karena pada masa kesultanan pengrajin dulang kebanyakan beretnis Tionghoa. Tiga warna yang digunakan dalam membuat dulang ini melambangkan sebuah makna seperti emas yang menggambarkan kejayaan, merah manggis berarti kejujuran dan hitam berarti alam lan. Artinya pada masa kesultanan, Palembang merupakan suatu wilayah yang kaya dan makmur berjaya, memiliki sifat yang baik dan jujur serta sebagai manusia harus percaya dengan adanya alam (alam hitam) agar dapat menghargai arwah nenek moyang atau leluhur. Selain itu, ketika membawa nasi menggunakan dulang terdapat tata carana sendiri, yakni nasi yang diangkat tidak boleh diangkat didepan dada, tapi diangkat kesamping sejajar dengan bahu. Hal ini dilakukan agar nasi tetap higienis dan tidak terpapar nafas yang membawanya. Kemudian nasi disajikan dibagian tengah, selepas itu petugas menyajikan pulur yang terdiri dari sambal, lalpan dan pencuci mulut.
  3. Setelah itu, petugas menyajikan lauk pauk. Lauk pauk yang digunakan biasaya berpa masakan daging, baik daging sapu, kambing, ataupun ayam.
  4. Setelah lauk pauk, petugas menyajikan air minum dan air cuci tangan yang ditata diatas sepra dan umumnya gelas yang dipakai pada zaman Kesultanan Palembang adalah gelas Arab yang dibawa pulng oleh jamaah haji. Namun ditahun 80-an umumnya masyarakat menggunakan gelas belimbing, disebut gelas belimbing karena bagian bawah gelas ini berbentuk seperti buah belimbing.

Untuk saat ini, tradisi ngidang ini mulai sulit untuk ditemui di wilayah Palembang. Sebenarnya masih ada, tetapi hanya bertahan di daerah-daerah perkampungan seperti kawasan Seberang Ulu.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.