Setiap kebudayaan memiliki serangkaian konsep abstrak yang luas ruang lingkupnya. Konsep ini hidup dalam alam pikiran sebagian masyarakat, mengenai apa yang dianggap penting dan bernilai dalam hidupnya. Nilai tersebut berfungsi sebagai pedoman orientasi bagi segala tindakan manusia. Menurut Koentjaraningrat (1974:32), sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat. Pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu. Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang digambarkan (Santosa, 2000).
Sejak abad ke-18 M, sejalan dengan pendudukan Belanda di berbagai daerah di pesisir utara Jawa, unsur-unsur budaya kolonial lambat laun memasuki budaya setempat, terjadi jaringan sistem nilai budaya yang berpengaruh pada karya budaya di daerah pedalaman. Banyak peninggalan lingkungan buatan atau bangunan, karya nenek moyang suku bangsa Jawa atau suku bangsa lain yang dibuat pada masa lalu ternyata mempunyai nilai arsitektural sangat tinggi. Satu atau beberapa bangunan diharapkan lebih luas daripada sekedar sebuah karya keteknikan, tetapi yang melewati suatu proses olah rasa, karsa, dan cipta untuk memenuhi kebutuhan fisiologi, safety, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Pemikiran bahwa karya bangunan mengandung nilai budaya muncul setelah arsitektur-interior berkembang menjadi ilmu pengetahuan, baik sebagai ilmu teknologi ataupun seni, yang memunculkan keprofesionalan dan memunculkan gejala pemekaran arsitektur-interior dalam berbagai makna, manfaat dan kepentingan. Sebagai sebuah manfaat, bangunan masa lalu lebih menekankan ketepatgunaan (efektivitas), sedangkan masa kini lebih menekankan pendayagunaan (efisiensi).
Bangunan sebagai sebuah kepentingan, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rasional ataupun irasional. Bangunan adalah fenomena sensoris yang mengandung nilai budaya implisit. Pemaknaannya tidak lepas dari wujud simbolnya, meskipun secara teoritik terpisah. Bangunan menjadi sarana ekspresi budaya yang dititipi pesan-pesan tertentu dan dapat menginterpretasikan budaya dari suatu periode atau suatu bangsa, hingga akhirnya menjadi simbol yang dilestarikan dari generasi ke generasi. Bangunan tersebut salah satunya adalah Museum Sonobudoyo. Museum ini merupakan museum pertama yang didirikan di Yogyakarta, menempati bangunan bekas kantor schauten di atas tanah hadiah Sultan Hamengku Buwono VIII. Pendirian bangunan museum dimulai dengan pembangunan pendhapa kecil, ditandai dengan candra sengkala “Buta Ngrasa Esthining Lata” yang bermakna tahun 1865 Jawa atau tahun 1934 Masehi. Keputusan pendirian museum ini merupakan hasil kongres Java Instituut di Surakarta tahun 1931. Kegiatan organisasi Java Instituut antara lain mengumpulkan barang-barang kerajinan dan benda-benda seni dari kebudayaan Jawa, Bali dan Lombok.
Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.
Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata,
Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

No responses yet