Nilai-Nilai Multikulturalisme dalam Tradisi Ruwat Desa

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai keanekaragaman budaya yang membentang dari sabang hingga Merauke yang membuat Indonesia memiliki banyak perbedaan seperti budaya, adat istiadat, agama, bahasa, agama, ras, dan suku. Keanekaragaman budaya merupakan anugerah dari Tuhan yang merupakan nilai tambah bagi Indonesia, namun dengan adanya keanekareagaman ini juga membuat ancaman bagi Indonesia, karena dengan banyaknya perbedaan yang ada akan mempermudah timbulnya konflik antar sesama. Oleh karena itu, agar keutuhan negara ini tetap terjaga perlu ditanamkan nilai-nilai multikulturalisme. Multikulturalisme merupakan gagasan, cara pandang, kebijakan, dan tindakan oleh masyarakat pada suatu negara yang majemuk dari berbagai aspek (suku, agama, ras, dan budaya) namun memiliki cita-cita yang sama dan mempunyai kebanggaan untuk mempertahankan itu. Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki budaya yang menggambarkan ciri khas daerah tersebut, setiap daerah pasti mempunyai tradisi–tradisi yang unik. Tradisi merupakan bagian dari kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan, karena tradisi tidak akan pernah lepas dari budaya masyarakat yang telah melekat dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Keragaman budaya dan tradisi di Indonesia mencerminkan bahwa Indonesia ini kaya akan budaya

Salah satu tradisi yang ada yaitu Ruwat Desa, Ruwatan merupakan tradisi upacara adat yang masih digunakan sejak dulu hingga sekarang. Dalam bahasa Jawa, ruwat artinya membuang sial atau menyelamatkan dari gangguan. Jadi Ruwat Desa ini dilakukan untuk membersihkan desa dari segala malapetaka yang menimpa, dan dengan diselenggarakannya Ruwat Desa ini diharapkan mampu mengubah desa menjadi lebih baik, semua masyarakat diberi kesehatan dan keselamatan, serta dalam mencari rezeki dapat berjalan dengan lancar. Pelaksanaan Ruwat Desa ini dilakukan pada bulan Suro di mana semua masyarakat mengumpulkan semua hasil buminya. Pengumpulan hasil bumi ini sebagai ucapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan. Masyarakat Jawa bisa dibilang hingga saat ini nampaknya masih termasuk ke dalam golongan masyarakat yang berpegang erat terhadap tradisi. Hampir setiap menjalankan kehidupan sehari-hari, para masyarakat Jawa selalu berpegang pada tradisi yang ditinggalkan oleh para leluhurnya.

Makna Simbolik Tradisi Ruwat Desa

  1. Bulan Suro: bermakna agar terhindar dari hal yang tidak baik, karena bulan suro adalah bulan yang terbaik untuk pagar desa, pagar dusun, rumah, pekarangan dan sebagainya. Karena bagi orang kejawen bulan suro sangat istimewa, sehingga diadakanlah Ruwat Desa ini pada bulan Suro.
  2. Ngarak jolen: diarak dan dikemas seperti meja, terdiri dari oburampen jajan pasar dan hasil bumi masyarakat Pronojiwo (jajan, kue tradisional, dan buah-buahan) yang diarak sampe punden, hal itu bermakna ucapan atau bentuk rasa terima kasih kepada ibu pertiwi yang telah memberikan semuanya (hasil bumi yang melimpah) di tanah Pronojiwo.
  3. Gunungan: gunungan ini dibuat dari susunan hasil bumi masyarakat Pronjiwo, ini melambangkan kebersamaan dan perasaan senasib sepenangunggan antar sesama warga. Selain itu juga melambangkan peromohonan agar diberikan kemakmuran dan keselamatan.
  4. Kepala sapi: kepala sapi ini bukan bertujuan sebagai tumbal, tetapi untuk tindih (paugeraning Desa ronojiwo). Sebenarnya sapi itu disembelih di Balai Desa. Karena darah yang menetes ke bumi, dan bumi adalah ibu pertiwi yang memberi sirnaning bumi (hilang amblas ditelan bumi) di Pronojiwo, melambangkan rasa terima kasih atas tetesan darah tersebut. Dalam proses penguburan tersebut, kepala sapi dikubur menghadap ke timur, karena “wetan itu wiwitan nang urip iso nang wetan, pungkasane wong urip ono nang kulon” yang artinya awalnya kita hidup dari timur, dan mati dari barat, karena barat itu sebagai pungkasan akhir. Seperti matahari yang terbit dari timur dan terbenam di barat. Sebenarnya hewan yang digunakan untuk tindih Pronojiwo ini tidak harus sapi, asalkan itu “Rajakaya” (sapi, kerbau, dan kambing) maka diperbolehkan.
  5. Piranti: Gedhang ayu suro ayu pinangan lan sak panunggalane.
  6. Sesajen: terdiri dari kembang telon (kenanga, kantil, dan mawar) “telu-telu ning tunggal, siji nyawuri kenyang nang kuoso, nurunan nang awae dewe, telunan leluhur”. Selain itu, terdapat kinangan, karena orang yang membabat alas (Mbah Lanjar Walek) itu perempuan, sehingga kinangan juga ada, parem, kopi, gedhang ayu, kelapa, satroso (garam, terasi, asem, lombok), Badhek (arak), serta dupa, dan kemenyan. Dupa dan kemenyan ini digunakan untuk memudahkan komunikasi dengan makhluk halus atau tidak kasat mata. Kembang telon, kenanga, kantil, mawar, dan kinangan. Parem, kopi, gehang ayu, kelapa, satroso, badhek. Sesajen yang dipersembahkan untuk roh gaib ini sesungguhnya mencerminkan kesadaran manusia kepada lingkungan hidupnya. Agar manusia tidak semena-mena terhadap lingkungan di sekitarnya, karena mereka akan beranggapan bahwa setiap lingkungan itu dijaga oleh roh para leluhur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *