Pantangan Dalam Saparan Joyokusumo

ikrar

Menurut kepercayaan masyarakat pendukungnya yaitu warga masyarakat Dusun Sengir dan dusun Papak apabila tidak menyelenggarakan Saparan Joyokusumo, menyebabkan terjadi hal-hal atau peristiwa diluar kemampuan manusia seperti banyak orang gila, terjadi wabah penyakit, pertengkaran antar tetangga,  dan  panen  yang  kurang  baik.  Oleh  karena  itu  masyarakat pendukungnya mempunyai kepercayaan bahwa Saparan Joyokusumo tersebut harus  tetap  dilaksanakan,  sebab  apabila  upacara  adat  tersebut  tidak dilaksanakan dikhawatirkan akan terjadi lagi hal-hal yang diluar kemampuan manusia.

Selain itu warga masyarakat pendukung Saparan Joyokusumo tidak berani merubah atau mengganti hari pelaksanaan upacara yang jatuh setiap bulan Sapar di hari Kamis Wage atau Senin Wage, karena mereka percaya apabila hari pelaksanaan dirubah atau diganti maka akan terjadi hal-hal yang kurang baik bagi warga masyarakat pendukungya. Kecuali itu mereka juga tidak berani mengganti atau mengurangi macam-macam sesaji yang telah diwariskan oleh para pendahulunya, karena apabila mengganti atau mengurangi sesaji menurut kepercayaan mereka, akan terjadi hal-hal yang kurang baik bagi kehidupannya.

Petugas yang memasak harus dari kaum laki-laki atau bapak-bapak, karena dianggap lebih suci. Selain itu ada pantangan dalam pelaksanaan Saparan Joyokusumo,  masakan  yang  dimasak  para  bapak-bapak  tersebut  tidak  oleh dicicipi, karena masakan tersebut dipakai/dipersembahkan untuk sesaji upacara sehingga harus dipastikan bersih dan suci, kalau sampai dicicipi diaggap nyisani atau makanan sisa.

Baca juga: Prosesi Saparan Joyokusumo

Saparan Jayakusumo, setiap tahun dengan sesaji kambing dan para wanita tidak boleh ikut dalam kegiatan tersebut, termasuk memasak daging kambing sesaji. Petugas yang memasak sesaji harus kaum laki-laki (bapak-bapak), termasuk dalam membuat ubarampe harus laki-laki. Diceritakan oleh Bapak Darto Suyono, bahwa pada waktu dahulu ketika pagi hari sedang ada Saparan Joyokusumo bapak-bapak sedang memasak daging kambing sesaji, ada seorang wanita yang sedang dhangir (membersihkan rumput tanaman) di kebun sebelah atas makam Pangeran Joyokusumo berteriak-teriak kepada bapak-bapak yang sedang masak tersebut, ketika ia pulang sampai di rumahnya tiba-tiba wanita itu seperti orang setres kemudian menjadi gila, dan selang beberapa waktu, lama- kelamaan akhirnya meninggal dunia. Sejak peristiwa itu ketika ada bapak-bapak yang sedang menyiapkan uborampe Saparan Joyokusumo, tidak ada wanita yang berani mendekat. Para kaum wanita (ibu-ibu) menyerahkan sepenuhnya kepada bapak-bapak untuk memasak sesaji yang berupa kambing tersebut di komplek makam Pangeran Joyokusumo.

Dengan menghidari segala bentuk pantangan tersebut maka masyarakat pendukungnya percaya  bahwa Saparan Joyokusumo akan berjalan lancar dan warga  masyarakat  pendukungnya yaitu warga masyarakat Dusun Sengir dan Dusun Papak khususnya dan warga masyarakat Kalurahan Kalirejo pada umumnya akan terhindar dari malapetaka dan mendapat berkah.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *