Pembangunan Yogyakarta dirancang oleh Sultan Hamengku Buwana I

Pembangunan Yogyakarta dirancang oleh Sultan Hamengku Buwana I dengan landasan filosofi yang sangat tinggi. Sultan Hamengku Buwana I menata Kota Yogyakarta membentang arah utara-selatan dengan membangun Keraton Yogyakarta sebagai titik pusatnya. Sultan juga mendirikan Tugu Golong-gilig (Pal Putih) di sisi utara keraton, dan Panggung Krapyak di sisi selatannya. Dari ketiga titik tersebut apabila ditarik suatu garis lurus akan membentuk sumbu imajiner yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta. Kawasan Sumbu Filosofi terdapat Satuan Ruang Strategis Kasultanan pada Tanah Keprabon yang di dalamnya tumbuh dan berkembang obyek kebudayaan masyarakat, sehingga perlu dikelola dengan baik. Kawasan Sumbu Filosofi merupakan salah satu penanda keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi bagian penting dalam membentuk karakter Daerah Istimewa Yogyakarta yang membedakan dengan provinsi lainnya.

Penetapan Yogyakarta sebagai warisan dunia bertujuan untuk melestarikan nilai luhur yang dapat diwariskan kepada masyarakat Yogyakarta, bangsa Indonesia dan dunia. Yogyakarta memenuhi kriteria Warisan Budaya Dunia (World Heritage) yang ditetapkan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Yogyakarta memiliki kekhasan serta keistimewaan dalam penataan kota yang didasari sumbu filosofi Keraton Yogyakarta, yakni Tugu Golong Gilig/Pal Putih – Keraton – Panggung Krapyak. Nilai filosofis dari Panggung Krapyak ke utara melambangkan perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga mati, menikah dan melahirkan anak. Sedangkan dari Tugu Golong Gilig ke selatan memiliki lambang perjalanan manusia untuk menghadap kepada Tuhan YME. Saat ini Kota Yogyakarta telah masuk pada daftar Tentative List di UNESCO. Nilai-nilai yang menjadi kriteria Outstanding Universal Value diantaranya adalah :

  1. Merupakan mahakarya serta kreativitas manusia yang mencerminkan perencanaan pusat kota dengan menggambarkan siklus hidup manusia, mulai dari awal kehidupan sampai dengan kembali ke Tuhan;
  2. Perencanaan pusat kota yang dirancang berdasarkan filosofi Jawa yang merupakan produk dari interaksi budaya yang panjang antara budaya asli dan peradaban lainnya terutama Hindu dan Islam;
  3. Komponen utama dari Yogyakarta sebagai Kota Sejarah secara nyata adalah dengan mewujudkan kosmologi Jawa dan kepercayaan tradisional mengenai sifat-sifat kehidupan manusia, diantaranya sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula Gusti dan hamemayuhayuning bawana.
    Baca juga : Fenomena Bali Overtourism ancaman atau keuntungan

Kami selaku konsultasi pariwisata mengucapkan terimakasih kepda instansi tekait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi para pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungu admin kami di (0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *