Pembentukan Kawasan Destinasi Wisata Huta Bolon di Simanindo Sangkal Melalui Pendekatan Kearifan Lokal

Kearifan lokal merupakan ciri khas etika dan budaya dari suatu masyarakat atau kelompok yang sudah ada dari generasi terdahulu dan diturunkan ke generasi selanjutnya. Beberapa wujud kearifan lokal dalam bentuk etika terutama terhadap lingkungan (etika lingkungan) yaitu perbuatan yang dinilai baik terhadap lingkungan. Etika ini bersumber pada cara pandang seseorang atau sekelompok manusia tentang lingkungan.

Kearifan lokalĀ  dapat menumbuhkan pengaruh alam serta budaya lain yang dapat menjadi penggerak dalam menciptakan wujud kearifan lokal. Berkembangnya kearifan lokal ini tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor pendukung berupa nilai, kepercayaan dan aturan-aturan khusus yang dapat diklasifikasi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Wujud nyata (tangible)
    • Tekstual, yaitu aturan yang dituangkan dalam bentuk tertulis.
    • Bangunna/ arsitektual, contohnya terdapat dalam seni rumah adat suku batak toba, seperti : Rumah bolon, yang dapat dihuni 5-6 keluarga. Secara tipikal memiliki jenis atap melengkung dan tepian atap di depan. Untuk masuk kerumah kita harus menaiki tangga yang terletak di tengah rumah, dengan jumlah anak tangga ganjil, dan menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok melintang. Hal ini berarti pengunjung harus menghormati pemilik rumah.
    • Benda cagar budaya/ tradisional (karya seni), contohnya patung, ornament, senjata, alat musik, tarian dan tekstil.

Terdapat ornamen gorga yang khas pada Rumah bolon yang diukir diatas permukaan kayu yang berada di dinding, tiang, juga pada beberapa peralatan lainnya yang mencerminkan budaya suku Batak Toba yang usianya sudah cukup tua dan melatarbelakangi pola pikir masyarakat, juga memiliki makna akan tanda dari status social dari pemilik rumah. Adapun bentuk-bentuk tanda ornamennya adalah sebagai berikut:

    1. Ornamen gorga singa-singa. Bermakna kekuatan yang memiliki makna kekuatan yang bermanfaat sebagai pelindung untuk pemilik rumah atau kampung.
    2. Ornamen gorga ulu paung, berfungsi sebagai penangkal setan yang datang dari luar kampung dan memiliki makna berwibawa dan kekuatan
    3. Ornamen gorga sitompi, memiliki makna tentang kekompakan dan saling tolong menolong sesama masyarakat batak toba.
    4. Ornamen gorga desa naualu, menandai akan keadaan delapan sudut arah mata angin, yang dipercaya sebagai ilmu perbintangan (rasi) yang digunakan sebagai mediator peramalan.
    5. Ornamen gorga iran-iran, berarti sebuah pemanis atau penghias, memberikan nilai keindahan (estetik) yang biasanya terletak di bagian depan bangunan. Bermakna sebagai nasehat, agar setiap orangselalu bersikap manis, ramah, tidak berpura-pura dan mampu menyenangkan orang lain.
    6. Ornamen gorgga ipon-ipon, ipon-ipon adalah bentuk geometris yang memiliki makna simbol kemajuan. Dilambangkan juga sebuah hasrat akan kesuksesan bagi pribadi, keluarga dan masyarakat.
    7. Ornaemn gorga manuk, manuk disini berarti ayam yang biasanya dijadikan hewan peliharaan yang tempatnya berada di bawah rumah adat Batak Toba, makna gorga ini sebagai pengingat, contohnya seorang anak selalu ingat tentangberbagai nasehat dari orang tuanya ketika sedang merantau jauh dan melaksanakank semua nasehat yang didapat di perantauannya.
    8. Ornamen gorga sitagan, bermakna bahwa pentingnya sifat peduli dan saling tolong menolong terhadap sesama manusia.
    9. Ornamen gorga dalihan na tolu, melambangkan falsafah hidup orang batak dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia.
    10. Ornamen gorga gaja dompak, bermakna sebagai simbol kebenaran bagi orang batak. Artinya manusia harus mengetahui hukum yang benar ialah hukum yang diturunkan oleh Tuhan.
    11. Ornamne gorga simarogung-ogung, merupakan simbol kebahagiaan dan melambangkan kejayaan/kemakmuran bagi penghuni rumah.
    12. Ornamen gorga simataniari, menggambarkan pentingnya penerang bagi manusia yang mana penerang ini akan membawa kesuksesan/kemajuan. Karen amatahari diyakini selalu memberi penghidupan dan penerangan bagi seluruh makhluk yang hidup di alam.
    13. Ornamen gorga simeol-meol, bermakna pada saat menajlani kehidupan, manusia harus merasa senang namun tetap pada dasarnya yaitu mengutamakan kepentingan surgawi. Ornamen ini merupakan simbol kegembiraan akan hidup di duniawi.
    14. Ornamen gorga jenggar atau jorngom, berfunsi sebagai penjaga pintu untuk melawan segala ens setan.
  1. Tidak terwujud (intangible),, bentuk kearifan lokal yang hanya disampaikan secara verbal. Contoh nya adalah petuah, nyanyia, pantun, dan cerita yang mengandung nilai-nilai ajaran tradisional, antara lain:
    • Legenda batu gantung yang merupakan cerita rakyat yang berkembang di Danau Toba.
    • Legenda Sigale-gale yang menceritakan raj ayang terkenal di Samosir

 

Selain hal-hal diatas, daya tarikĀ  wisat ahuta bolo adalah adanya Museum Huta yang kaya dengan arsitektur rumah ada tradisional, yang disebut sebagai Rumah Bolon yang sudah berusia ratusan tahun. Selain itu, pengunjung dapat melihat dan menikmati makanan khas batak san tinggal di homestay untuk belajar nilai-nilai tradisional masyarakat Batak secara langsung melalui masyarakat sekitar. Terdapat juga olahan produk lokal, juga ulos yang dihasilkan di Simanindo Sangkal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *