Penanda Sejarah di Kota Yogyakarta Kemantren Gondokusuman

Kota Yogyakarta lahir dari rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau. Hal itu menjadikan kota Yogyakarta memiliki banyak kisah-kisah sejarah baik mengenai asal-usul nama tempat maupun kisah perjuangan kemerdekaan. Di kawasan Kota Yogyakarta sendiri terdapat jejak peninggalan sejarah masa klasik (Mataram Kuna), Mataram Islam, Kolonial, Pergerakan nasional, dan revolusi. Yang tidak hanya menyajikan cerita sejarahnya saja, melainkan terdapat pula bangunan, tempat, bahkan kawasan yang menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa tersebut. monumen atau tetenger dibangun untuk menjadikan penanda bahwa di lokasi tersebut pernah berlangsung sebuah peristiwa penting yang berpengarung bagi Kota Yogyakarta. Adapun maksud dan tujuan dari penulisan kajian ini adalah sebagai berikut:

  1. Menginventarisasi monumen dan tetenger penanda bersejarah di Kota Yogyakarta.
  2. Mendokumentasikan monumen dan tetenger penanda sejarah yang ada di Kota Yogyakarta.
  3. Menggali latar belakang sejarah didirikannya setiap monumen dan tetenger penanda sejarah tersebut.

Adapun monumen/ tetenger yang berada di kawasan Kemantren Gondokusuman antara lain sebagai berikut:

  1. Asrama Kompi Kotabaru, beralamatkan di Jalan Atmosukarto No.9 Kotabaru. Tetenger ini berbentuk bangunan dengan klasifikasi Monumen. Pada zaman Belanda, digunakan untuk gudang senjata dan markas tentara. Pada zaman Jepang digunakan untuk Kidobutai sehingga kawasan ini menjadi sasaran utama dalam pertempuran Kotabaru. Sejumlah 21 pahlawan gugur saat melucu5i persenjataan tentara Jepang, yang dikenal dengan peristiwa Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945.
  2. Babon ANIEM Kotabaru, berlokasi di jalan Faridan M. Noto, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi monumen. Bangunan ini merupakan salah satu tonggak pembangunan listrik pertama di Kota Yogyakarta yang terletak di selatan Gedung Jiwasraya. Pembangunan Babon ANIEM dimulai pada tahun 1918 dan saat ini hanya tersisa 3 buah yang ada di Yogyakarta, yaitu ; Babon ANIEM Kotabaru, Babon ANIEM depan parkiran Abu Bakar Ali, dan Babon ANIEM Kotagede.
  3. Balai Yasa PT. KAI Yogyakarta, berlokasi di Jl. Kusbini, Demangan, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai Bangunan ini didirikan oleh Nederland Indische Spoorweg Maatschapij (NISM) pada 1914 dengan nama Centraal Werkplaats Pengok. Bangunan ini didirikan untuk merawat dan memperbaiki lokomotif usai mengangkut hasil bumi. Selain itu, tempat ini juga memiliki tugas pokok yaitu memperbaiki perbaikan besar (over haul) lokomotif, gerbong, dan kereta. Pada 28 September 1945 bangunan ini berganti nama menjadi Balai Karya dan pada 1959 nama Balai Karya berubah lagi menjadi Balai Yasa Traksi yang bertugas melaksanakan overhaul untuk lokomotif diesel hidrolik (DH) maupun diesel elektrik (DE) sampai sekarang.
  4. Gedung Jiwasraya Kotabaru, berlokasi di Jl. Faridan M. Noto No. 9, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Landmaark. Pada awlanya, bangunan ini digunakan untuk rumah dinas pemerintah Belanda. Mulai dibangun pada 1859 dan 06 oktober 1945. Bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat perundingan penyerahan senjata antara pejuang RI yang diwakili Mohammad Saleh (KNI), RP. Soedarsono, dan Bardosono dengan pihak tentara Jepang yang dipimpin oleh Mayor Otsuka.
  5. Gereja Katolik Santo Antonius Kotabaru, berlokasi di Jl. Abu Bakar Ali No. 1, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Gereja ini dirintis oleh Romo F. Strater. Sebelum merintis, Romo dan Novisat Kolsani merintis pembangunan gereja yang dimulai pada 18 Agustus 1922 dan pembangunan selesai pada 1926. Pada masa kedudukan Jepang, gereja ini menjadi gudang dan kemudian tidak berfungsi lagi sebagai gereja. Setelah Jepang mengalami kekalahan pada Perang Dunia II tahun 1945, Kolsani dan Gereja Santi Antonius Kotabaru berfungsi kembali menjadi gereja seperti semula.
  6. Gereja HKBP Kotabaru, Jl. I Dewa Nyoman Oka No. 22, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Landmark. Gereja HKBP ditandai dengan dibaptisya Jacobus Tampubolon dan Simon Siregar oleh misionari Van Asselt di Sipirok, Tapanuli Selatan pada tanggal 7 Oktober 1861. Gereja dibangun pada tahun 1923. Awalnya merupakan bangunan Gereformeede Kerk Djogja. Bangunan gereja kemudian difungsikan sebagai tempat dansa dan musik orang-orang Belanda. Pada masa kedudukan Jepang bangunan ini dipakai sebagai rumah tahanan wanita Belanda.
  7. Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, yang berlokasi di Jl. Suroto, No. 11, Kotabaru, Kec. Gondokusuman. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Landmark. Bangunan ini dikenal sebagai Pos Teakhir Rute Gerilya Pangsar Jenderal Soedirman setelah 7 bulan melakukan Gerilnya sejak Belanda melakukan Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948. Sebelumnya bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal Oerip Soemoharjo (Penggagas dan pendiri Akademi Militer di Kota Yogyakarta). Kemudian sebelum menjadi kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta sejak 2018, bangunan ini sempat menjadi Kantor Transmigrasi.
  8. Masjid Syuhada, yang berlokasi di Jl. I Dewa Nyoman Oka No. 13, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Pembangunan Masjid Syuhada dimulai dengan pembentukan panitia pada 14 Oktober 1949. Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 23 September 1950 dan peresmian penggunaan pada tanggal 20 September 1952. Tanggal 20 September 1952 dijadikan tanggal kelahiran masjid ini. adapun tanah yang digunakan dalam pembangunan masjid ini merupakan pemberian dari Sultan HB IX, yang terletak di sebelah timur Kali Code.
  9. Monumen Sanapati, berlokasi di Jl. Abu Bakar Ali, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk struktur dan berklasifikasi monumen.monumen ini dibuat oleh Kasman KS. Monumen ini di dirikan sebagai tanda peringatan 50 Tahun terbentuknya persanadian Indonesia di Yogyakarta yang diresmikan pada 04 April 1996 oleh Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia, Moerdiono. Monumen ini berbentuk patung tugu lancip dengan ujung mirip piramida. Bentuk monumen ini melambangkan 3 pilar persandian Indonesia, yaitu: Software, Hardware, dan Mainware.
  10. Monumen Serbuan Kotabaru, yang berlokasi di Jl. Atmosukarto No. 9, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Monumen ini berbentuk struktur dan berklasifikasi sebagai monumen. Monumen ini terletak di kompleks Asrama Kompi Kotabaru Korem 040 Pamungkas. Monumen ini memiliki bentuk persegi dengan dasar wana hitam. Dari keempat sisi, tiga diantaranya memiliki keterangan. Pada sisi depan terdapat keterangan yang berisi tulisan prasasti pendirian dan peresmian monumen. Prasasti tersebut berbunyi, “Tetenger ini didirikan untuk memperingati puncak pengambil alihan kekuasaan dari pihak Jepang di Yogyakarta dengan serbuan bersenjata dan Pertumpahan darah yang dikenal sebagai pertempuran Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945”.
  11. Monumen Tentara Keamanan Rakyat, yang berlokasi di Jl. Jend. Soedirman No. 75, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk relief patung yang berklasifikasi sebagai monumen. Bangunan ini berupa tembok peringatan dengan relief yang menggambarkan perjuangan Tentara Keamanan Rakyat. Di depannya berdiri dua patung yang mengapit pilar berisi sejarah berdirinya monumen ini, yaitu patung Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemoharjo. Pembangunan monumen Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ini dipersembahkan Alumni Akademi Militer angkatan 1948 dan 1949/1950 pada peringatan 50 tahun hari jadi Akademi Militer tanggal 31 Oktober 1995.
  12. Museum Sandi Kotabaru, yang berlokasi di Jl. Faridan M. Noto, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta.tetenger ini berbentuk bangunan yang berklasifikasi sebagai monumen. Dahulu, bangunan ini merupakan villa orang Eropa yang beralih fungsi sebagai kediaman dokter pribadi Sri Sultan HB VII yaitu dr. Wasterkam. Setelah Indonesia merdeka, dan ibu kota dipindah ke Ypgyakarta, bangunan ini difungsikan sebagai kamtor Kementrian Luar Negeri. Kemudian sempat menjadi perpustakaan daerah dan ruang baca perpustakaan negara. Dan mulai tahun 2014-sekarang, bangunan ini digunakan sebagai museum sandi.
  13. Museum TNI AD Dharma Wiratama, yang berlokasi di Jl. Jend. Soedirman No, 75, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi  Dulu, pada tahun 1904-1942 bangunan ini digunakan sebagai Rumah Dinas Administrasi Perkebunan Kolonial Belanda uang membawahi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1945-1949 bangunana ini digunakan sebagai markas TKR. Pada tahun 1961-1982 bangunan ini digunakan sebagai markas korem 072 Pamungkas. Selanjutnya pada 1982-sekarang bangunan ini digunakan sebagai Museum TNI AD.
  14. Penanda Batas Wilayah Kotabaru, yang berlokasi di Jl. Surto, Kotabaru. Tetenger ini berbentuk benda yang berklasifikasi sebagai Landmark / penanda tempat. Penanda yang digunakan untuk menunjukkan pemisahan wilayah Kotabaru di bagian selatan dengan wilayah Terban di bagian Utara. Penanda ini terletak di sebelah timur Gedung Gramedia Sudirman dan terletak di sebelah barat kantor DPD Golkar cabang Yogyakarta.
  15. Perpustakaan Kota Yogyakarta, berlokasikan di Kotabaru. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi monumen. Bangunan ini didirikan tahun 1917 dengan nama Rijksblad Van Sultanaat Djogjakarta. Dahulunya bangunan ini untuk rumah tinggal, hingga masuknya tentara Jepang ke Indonesia. Setelah indonesia Merdeka, bangunan ini dijadikan sebagai Kantor Kementrian Luar Negeri dan Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pada tahun 1949-1950. Setelah itu bangunan ini difungsikan sebagai kantor Perwakilan Jawatan Kebudayaan, Pembinaan Kebudayaan dan Kesenian, serta kantor Bidang Muskala (permuseuman dan kepurbakalaan) Kanwil Depdikbud Provinsi Yogyakarta. Dan sekarang menjadi perpustakaan Kota Yogyakarta.
  16. Rumah Mr. Djody Gondokusumo, yang beralamatkan di Jl. Jend. Soedirman No. 46, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan yang berklasifikasi sebagai Bangunan ini awalnya dijadikan tempat tinggal oleh Mr. Djody Gondokusuma. Ia menjabat sebagai Menteri Urusan Agraria pada masa kabinet Sukiman – Suwiryo di tahun 1952-1952. Bangunan ini bercorak Indis dan sebelum digunakan sebagai tempat tinggal, bangunan ini merupakan tempat tinggal pejabat Belanda di kawasan Kotabaru dan dibangun sekitar 1917-19255.
  17. Rumah Sakit (DKT), yang berlokasi di Jl. Juadi, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berupa bangunan dan berklasifikasi monumen / Awalnya bangunan ini merupakan bangunan militer penunjang fasilitas kesehatan bagi para prajurit kolonial Belanda. Bangunan ini menjadi saksi sejarah panjang tentnag peranannya dalam bidang kesehatan sejak penddukan Belanda hingga sekarang.
  18. Rumah Sakit Mata di YAP, yang berlokasi di Jl. Cik Ditiro, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Rumah sakit ini dibangun pada 21 November 1922 oleh dr. Yap Hong Tjoen dibawah kuasa VOC, yang diabangun di tanah seluas 1.966 m2 serta berdiri tepat di sisi barat jalan Yap Boulevard yang sekarang bernama jl. Cik Ditiro. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII dan dibuka oleh Gubernur Jenderal Mr. D. Fock yang mendapat kuasa dari Ratu belanda pada 29 Mei 1923. Akhirnya RS itu dinamai Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders yang berarti Rumah Sakit Putri Julia Untuk Penderita Sakit Mata. Selain itu dr. Yap Hong Tjoen juga mendirikan lembaga Stichting Vorstenlandsch Blinden Institut (Yayasan Institut Tuna Netra) pada 12 September 1926. Tujuan berdirinya lembaga ini untuk memberikan keterampilan terhadap tuna netra yang berasal dari berbagai plosok pedesaan. Pada tahun 1927 lembaga ini mendirikan panti perawatan dan pendidikan keterampilan bagi penyandang tuna netra yang diberi nama Balai Mardi Wuto. Pada saat kedudukan Jepang, rumah sakit ini berganti nama menjadi RS. Dr. Yap.
  19. Rumah Sakit Panti Rapih, berlokasi di Jl. Cik Ditiro, Samirono, Terban, Gondokusumo, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai monumen / Rumah sakit ini mulai dibangun pada tahun 1928 dan selesai pada tahun 1929 oleh Ir. Schmutzer dan diresmikan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 14 September 1929 dengan diberi nama Rumah Sakit Onder de Bogen yang berarti “di bawah lingkungan”. Pada masa kedudukan Jepang, rumah sakit ini berganti nama menjadi Rumah Sakit Panti Rapih yang artinya rumah penyembuhan.
  20. Rumah Sakit Pusat Bathesda Yogyakarta, berlokasi di Jl. Jend. Soedirman No. 70, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Dulu bangunan ini bernama Zending Zienkenhuis Petronella. Tempat ini pernah menjadi titik temu pasukan Kadet Militer Akademi Yogyakarta yang masuk ke Kota Yogyakarta, karena dulu bangunan ini berfungsi sebagai pos komando. Pada peristiwa serangan oemoem 1 Maret 1949 pernah digunakan sebagai tempat persembunyian pasukan yang terluka. Selain itu pernah digunakan sebagaitempat pengibarran Sang Merah Putih pada 29 Juni 1949. Pada zaman kedudukan Jepang Petronella berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjin. Kemudian memasuki 1950-an aset-aset Zending termasuk RS Bathesda dikelola oleh Yayasan YAKKUM.
  21. SDN 1 Ungaran Yogyakarta, berlokasi di Jl. Serma Taruna Ramli, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Dulu bangunan ini digunakan sebagai sekolah HIS pada masa kolonial Belanda. Kemudian setelah perang Kotabaru berakhir, pad tanggal 13 Oktober 1945, bangunan ini digunakan sebagai Militer Akademi (MA), selanjutnya difungsikan sebagai Sekolah Rakyat (SR) latihan dan sekolah Guru Putri (SGP). Namun pada tanggal 5 Juli 1949 bangunan ini diubah kembali fungsinya menjadi Sekolah Rakyat Ungaran dan saat ini namnya SD Ungaran 1 Yogyakarta.
  22. SMA BOPKRI 1 Yogyakarta, berlokasi di Jl. Wardhani, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi Landmark. dahulu bangunan ini merupakan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang mana ini adalah sekolah lanjutan tingkat pertama (SMP). Gedung ini didirikan pada 1992 dan digunakan sebagai sarana pendidikan hanya sampai 1941. Pada masa kedudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai tangsi militer. Kemudian pada masa Revolusi, tepatnya 31 Oktober 1945 Militer Academia (MA) berdiri dan menggunakan gedung ini sebagai pusat pendidikan militer. Sampai tahun 1950, MA Yogyakarta telah berhasil meluluskan dua angkatan. Namun di tahun ang sama, MA ditutup sementara dengan alasan teknis. Pada tahun 1950-1951 gedung ini juga pernah digunakan sebagai SMAN 5 Yogyakarta dan setelah 1951-sekarang gedung ini digunakan untuk SMA BOPKRI 1 Yogyakarta.
  23. SMAN 3 Yogyakarta, yang berlokasi di Kotabaru. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai monumen. Sejak zaman Belanda, bangunan ini digunakan untuk Algemeene Middlebare School (AMS) agdeling B. AMS merupakan sekolah menengah yang lebih tinggi dari MULO dan didirikan tahun 1919. Pda masa pendudukan Jepang, sekolah ini dinamai Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Sekolah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu A(ilmu kebudayaan) dan B (Ilmu Alam). Rapat pendirian Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada pada 24 Januari 1946 dilakukan di gedung ini. selain itu, pada masa revolusi di Yogyakarta bangunan ini digunakan sebagai Laboratorium pembuatan persenjataan dan bom bagi par apejuang.
  24. SMPN 1 Yogyakarta, berlokasi di Jl. Cik Ditiro No, 29, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi sebagai bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Jepang, lebih tepatnya 11 September 1942. Awalnya hanya terdapat 13 ruangan dan pada saat itu menempati bangunan bekas Neutralle MULO yang sudah berdiri pada masa pendudukan Belanda. Menjelang 17 Agustus 1945 para siswa SMP ini khususnya siswa kelas II terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah untuk ikut serta dalam pertempuran mempertahankankemerdekaan RI. Pertempuran ini menyebabkan dua siswa menjaid korban, yakni Djoha Nurhadi dan Wardhani.
  25. SMPN 5 Yogyakarta, yang berlokasi di Jl. Wardhani No. 1, Kotabaru,Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi bangunan ini berdiri sejak zaman pendudukan Belanda dan digunakan untuk MULO dan Normaalschool (Pendidikan Guru Bumiputra) yang dibangun tahun 1923. Pada masa awal revolusi digunakan sebagai asrama Akademi Militer sampai dengan tahun 1948. Kompleks bangunan sebanyak 43 buah yang terdiri aras ruang-ruang antara lain; kelas, rumah dinas, ruang lain (ruang kepala sekolah dan ruang wakil kepala sekolah, ruang TU, ruang BP, ruang perpustakaan, mushola, ruang tamu, laboratoriu,dll)
  26. SMPN 8 Yogyakarta, berlokasi di Jl. Kahar Muzakir, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan dan berklasifikasi bangunan ini didirkan oleh Belanda pada 1992 di atas tanah seluas 9.567 m2 awalnya dijadikan sebagai markas Belanda. Kemudian pernah juga dijadikan sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman. Lalu pada masa kemerdekaan bangunan ini digunakan sebagai Sekolah Guru Putri (SGP). Memasuki tahun 1955 SGP berubah menjadi SGB II (sekolah guru biasa). Kemudia pada 14 Agustus 1960 SGB II kembali diubah menjadi SMPN 8 Yogyakarta-sekarang.
  27. Tetenger Akademi Militer Yogyakarta, yang berlokasi di Jl. Wardhani, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk benda dan berklasifikasi sebgaai tetenger. Tetenger ini memiliki bentuk yang sederhana dengan batu besar dan dibelakangnya terdapat relief perjuangan. Pada bagian batu tersebuut terdapat tulisan yang menyebutkan bahwa salah satu kadet militer akademi gugur dalam perjuangannya di pelatarab pada 24 Februari 1949.
  28. Tetenger Soeroto, berlokasi di Jl. Suroto No, 11. Kotabaru, Kec. Gondokusuman.tetenger ini berbentuk benda dan berklasifikasi sebagai tetenger. Tetenger ini terletak di depan kantor dinas pariwisata Kota Yogyakarta. Tetenger ini dibuat untuk mengenang berakhirnya rute gerilya Jend. Soeduirman pada 10 Juli 1949.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *