Pengertian Monumen

fungsi monumen Kata monumen berasal dari kata monere atau momentum yang berarti “mengingat kembali”, monumen berarti bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah penting. Diciptakan dengan maksud mengabadikan kenangan terhadap seseorang atau peristiwa. Skala besar dan kesederhanaan sering terlihat sebagai faktor yang menciptakan keagungan dan kelanggengan, sering terlihat sebagai atribut patung monumen al. Begitu pula halnya dengan idealisasi bentuk, sikap, harmoni, dalam struktur serta keselarasan antara massa dan gerak (Susanto, 2011: 265).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat (2008) monumen adalah bangunan yang mempunyai nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara oleh negara. Sementara menurut Kamus Oxford (2005) monumen adalah sebuah bangunan yang mampu mengahadirkan ingatan atau kenangan yang merujuk pada sebuah peristiwa atau kejadian pada sebuah tempat atau wilayah tertentu. Keberadaan monumen memiliki hubungan yang kompleks dengan perkembangan waktu. Monumen menggambarkan kondisi di masa lampau atau bisa juga berupa peniruan dari masa lampau itu, didirikan untuk mempengaruhi publik di zaman sekarang dan mengkaitkannya dengan sejarah.

Berdasar Convention Concerning the  Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Konvensi tentang Perlindungan Pusaka Budaya Dunia dan Pusaka Alam) pada Konferensi Umum UNESCO pada sidang ketujuh belas yang dilaksanakan di Paris, 16 November 1972 pada Pasal 1 yang dimaksud dengan monumen adalah  karya arsitektur, karya patung dan lukisan yang monumen al, elemen atau struktur yang bersifat arkeologis, prasasti, goa hunian dan kombinasi fitur, yang memiliki nilai universal luar biasa dari sudut pandang sejarah, seni, atau ilmu pengetahuan.

Monumen yang mengandung memori yang diendapkan sering digunakan sebagai media untuk merekonstruksi sejarah. Lebih dari itu, monumen telah dijadikan perantara untuk menyatukan persepsi atau konstruksi makna atas sebuah peristiwa sejarah untuk kepentingan masa kini yang mengarah pada monopoli penguasa. Hal ini yang kemudian makna public space khususnya monumen ikut berperan dalam mengontrol dan pembentukan sebuah persepsi dan tindakan sosial (Nanang Setiawan, 2020)

Pada dasarnya menurut Suastawan (2014:5), monumen  memiliki beberapa fungsi yaitu:

  1. Monumen memiliki fungsi edukatif. Peran monumen tidak hanya sebagai sebuah bangunan masa lalu tetapi juga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran.
  2. Monumen memiliki fungsi inspiratif. Monumen dapat dijadikan inspirasi (menyangkut perilaku tokoh yang diabadikan pada monumen) untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
  3. Monumen memiliki fungsi rekreatif. Fungsi ini lebih merujuk pada pemanfaatan monumen sebagai hiburan bagi masyarakat.
  4. Monumen memiliki fungsi fungsi instruktif. Fungsi yang menekankan pada hasil karya yang dituangkan dalam bentuk bangunan untuk menghormati peristiwa maupun tokoh yang diabadikan dalam monumen tersebut.

Monumen dibangun berdasarkan beberapa kondisi maupun prinsip-prinsip, sehingga sesuai dengan maksud dan tujuan dari setiap pembangunan monumen. Monumen didirikan untuk mengabadikan kenangan yang terlihat dalam keagungan bangunan monumen. Biasanya struktur monumen yang dibangun menggunakan pendekatan arsitektural yang fokusnya lebih ke idealisasi bentuk baik berupa bangunan tugu monumen dan atau dalam bentuk atribut patung monumen al. Dalam konteks inilah pembangunan monumen memiliki hubungan yang erat sebagai penanda suatu kota atau landmark yang didukung oleh sejumlah elemen umum dalam pembentukan karakter melalui seni arsitektural.

Baca Juga : Pengertian Landmark

Malcolm Miles (1989), menyatakan bahwa dari tampilan monumen bisa dibagi menjadi dua: Monumen dengan objek utama figuratif (personal, potrait statue, anamorphic, animal) dan objek non figuratif (abstract, impersonal, formalist). Monumen figuratif biasanya tampil berupa wujud sosok pahlawan ataupun seseorang yang dikenang. Tampilannya bisa berupa wujud manusia dengan wujud satu badan (standing figure, sitting figure, reclining figure), berupa patung dada saja (potrait bust), dan tampilan manusia dengan elemen figuratif atau non figuratif lainnya (horsemen, group of people). Sementara monumen non-figuratif memiliki keberagaman dalam hal ide, konsep, maupun bentuknya, bisa berupa: · Gapura (Triumphal Arches), Kolom/Pilar (Columns), Candi/Kuil (Temples), Tugu (Obelisk), Makam (Cemetery Park), Air Mancur (Fountain), Reruntuhan (Ruins), atau bangunan yang masih dapat difungsikan berbentuk Menara (Tower), Istana (Castle), dan Banteng (Fortification).

Di Indonesia, pembangunan dan keberadaan monumen melawati berbagai periode, seiring dengan perkembangan pembangunan kota-kota besarnya. Pembuatan monumen-monumen baru dan pemugaran candi atau artefak sejarah sebagai monumen di Indonesia, baru dilakukan setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebagian besar monumen baru yang dibangun, pada masa presiden pertama Soekarno, digunakan sebagai sarana untuk membuktikan kedaulatan negara yang baru saja merdeka dan juga sebagai sarana untuk menekankan bahwa bangsa ini tidak melupakan perjuangan-perjuangan menuju kemerdekaannya tersebut. Dalam sebuah tulisannya Jim Supangkat mencatat gejala pembuatan monumen untuk menunjukkan kemenangan melawan penjajahan di Indonesia muncul di tahun 1950-an. “Gejala ini ditandai oleh percobaan pelukis Hendra Gunawan membuat patung batu. Salah satu hasilnya yang masih bisa dilihat adalah patung batu yang didirikan di depan gedung DPRD Yogyakarta pada tahun 1950”. Sebagai contoh “awal”, monumen-monumen pada masa pasca kemerdekaan ini memiliki ukuran dengan skala yang besar dan tampak menguasai ruang dengan baik.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *