Perencanaan Media Informasi Sumbu Filosofi 2017

Perencanaan Media Informasi Sumbu Filosofi 2017

Penelitian Pariwisata – Yogyakarta sebagai destinasi pariwisata memiliki banyak daya tarik yang terus-menerus menarik perhatian, potensi alam, seni dan budaya yang terdapat seakan menjadi magnet mengapa wisatawan bekunjung dan berkunjung lagi. Dari keragaman yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat 3 bangunan/struktur cagar budaya yang memiliki keunikan tersendiri, yaitu Tugu Pal Putih, Kraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak. Ketiga cagar budaya tersebut membentuk satu kesatuan garis lurus dengan urutan Tugu Pal Putih – Kraton Yogyakarta – Panggung Krapyak. Satu kesatuan tersebut disebut Sumbu Filosofi.

Sumbu Filosofi merupakan konsep tata ruang yang digagas oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada awal terbentuknya Yogyakarta. Filosofi dari Panggung Krapyak ke arah utara memiliki arti perjalanan manusia sejak dilahirkan, beranjak dewasa, menikah, dan memiliki anak. Sedangkan sebaliknya, dari Tugu Pal Putih ke arah selatan merupakan perjalanan manusia menghadap sang Khaliq. Hal inilah yang diwujudkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dalam menata Kota Yogyakarta. Pemilihan lokasi, penataan bangunan, penempatan vegetasi, dan ragam hias diarahkan untuk membentuk garis imajiner Tugu-Kraton-Panggung Krapyak sebagai Sumbu Filosofi.

Baca Juga : Penyusunan Buku Panduan Wisata Kuliner Kota Surakarta

Keberadaan sumbu filosori tersebut tentunya harus dilestarikan. Berdasar Peraturan Daerah  DIY No 6 tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya pada pasal 61 nomor 4. Sumbu Filosofi Yogyakarta saat ini telah masuk ke dalam daftar Tentative List UNESCO pada 14 Maret 2017 dengan kategori sebagai Cultural. Nilai-nilai yang menjadi kriteria Outstanding Universal Value diantaranya sebagai berikut :

a) Merupakan  mahakarya yang jenius serta kreatif manusia yang mencerminkan perencanaan pusat kota dengan memanifestasikan siklus hidup manusia, baik dari awal kehidupan sampai dengan kembali ke Tuhan;

b) Perencanaan kota yang dirancang berdasarkan filosofi Jawa yang merupakan produk dari interkais budaya yang panjang antara budaya asli dan peradaban lainnya tertama Hindu dan Islam;

c) Komponen utama pusat dari Yogyakarta sebagai Kota Sejarah secara nyata adalah mewujudkan kosmologi Jawa dan kepercayaan tradisional mengenai sifat-sifat kehidupan manusia diantaranya sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula gusti, dan hamemayu hayuning bawana. Oleh kerena itu, diperlukan adanya kajian pariwisata tentang pengenalan lebih jauh akan Sumbu Filosofi yang harus di promosikan kepada masyarakat,  dengan media promosi yang tepat dan mudah dimengerti masyarakat.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dan semua pihak yang turut membantu atas terselesainya kajian Perencanaan Media Informasi Sumbu Filosofi ini.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kajian atau konsultasi Pariwisata dapat menghubungi Admin kami di 081215017910

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *